Jangan Salahkan Takdir

Jangan Salahkan Takdir
Bab 274 (KB)


__ADS_3

“Baiklah, ayo!” Emir menuntun Beeve menuju ranjang.


Beeve pun mulai merebahkan tubuhnya, sedangkan Emir hanya duduk, seraya menyandarkan tubuhnya di punggung ranjang.


“Apa kau enggak ngantuk mas?” tanya Beeve.


“Kalau aku tidur, siapa yang akan menjaga mu saat petir datang?” ucap Emir.


“Oh, begitu ya?” Beeve tersenyum kecil.


“Iya.” sahut Emir.


Keduanya saling diam dalam waktu yang lama, hingga Beeve memberanikan diri untuk mengajak bicara kembali.


“Mas, apa kau enggak mau rebahan?” ucapan Beeve membuat Emir seketika melihat ke arah istrinya.


“Aku enggak ngantuk, tidurlah.” ujar Emir.


“Aku juga enggak ngantuk,” sahut Beeve.


“Kalau begitu...” Emir pun menaruh kepala Beeve di atas pangkuannya.


“Mau apa mas?”


“Kelonin kau!” kemudian Emir mengelus puncak kepala Beeve dengan lembut.


Tindakan Emir tersebut mengingatkan Beeve pada mendiang suaminya.


Aku rindu pada mu mas, ya Tuhan, semoga mas Emir nasibnya jauh lebih baik dari mas Andri, panjangkan umur suami ku ya Allah, aku lelah di tinggal oleh orang-orang yang ku sayang, pertama Cristian, kedua orang tua ku, ketiga mas Andri, semua pergi tanpa dapat kembali lagi, orang-orang yang ku kasihi, selalu berumur pendek, batin Beeve.


Ia merasa kalau dirinya pembawa sial bagi orang lain. Tanpa sadar, saat ia masih dalam angannya, air matanya menetes. Emir yang melihat hal tersebut pun bertanya.


“Apa yang kau tangisi?”


“Bukan apa-apa mas.” jawab Beeve menyembunyikan isi hatinya.


“Jujurlah pada ku, kau tahukan? Sekarang kita adalah suami istri, sudah selayaknya terbuka satu sama lain, jangan ada rahasia lagi,” terang Emir.


Lalu Beeve mendongak dan berkata, “Aku takut, kehilangan mu mas.”


Deg!


Jantung Emir berdetak kencang, saat Beeve mengungkapkan isi hatinya.


“Benarkah?” tanya Emir, dengan tubuh panas dingin.


“Iya, untuk itu, kau harus hidup sehat mas, jaga diri, karena kau punya banyak tanggung jawab sekarang,” terang Beeve.


Meski pernyataan Beeve agak aneh di telinga Emir namun ia tetap senang, karena ternyata Beeve menganggap dirinya ada.


“Aku janji, akan melakukan apa yang kau minta,” ucap Emir.


“Terimakasih banyak mas.”


Saat keduanya saling melihat satu sama lain, tiba-tiba petir menyambar dengan sangat keras.


Duar!!!!


Beeve terkejut bukan main, ia pun tanpa sengaja menggenggam erat tangan Emir yang ada di sebelah kepalanya.

__ADS_1


“Ternyata kau memang takut pada petir?”


“Apa?” Beeve melirik wajah Emir yang begitu mempesona.


“Ku pikir bohong.” Emir tersenyum kecil melihat wajah panik Beeve beberapa detik yang lalu.


Aku terkejut, bukan takut mas, batin Beeve.


Namun karena sudah terlanjur bohong, Beeve pun menganggukkan kepala.


“Apa boleh aku tidur di sebalah mu, malam ini saja?” tanya Emir, yang meminta izin terlebih dahulu, agar tak ada masalah kedepannya.


“Kapan pun kau mau, boleh mas,” ujar Beeve.


Kode keras yang di berikan Beeve membuat Emir seakan terbang tinggi ke langit.


Akhirnya, pernikahan kami normal juga, batin Emir.


Aku harus membiasakan diri, bagaimana pun, dia sudah jadi suami ku, enggak mungkin aku mau nikah cerai terus, aku ingin menjalani hidup yang stabil dan normal seperti orang lain, batin Beeve.


Kemudian, Emir pun merebahkan tubuhnya di sebelah Beeve.


“Tenang saja, aku enggak akan macam-macam.” Emir pun mengambil 2 guling sebagai pembatas di antara mereka berdua.


“Sampai kapan kau akan melakukan hal itu mas?” tanya Beeve.


“Apa?” netra Emir membelalak tak percaya, saat Beeve berkata demikian.


“Apa kau yakin? Nanti kalau aku khilaf bagaimana? Aku enggak mau ada rasa canggung di antara kita berdua,” terang Emir.


“Ya sudah, begini juga lebih baik,” ucap Beeve.


Sedang Beeve begitu santai menghadapai keadaan mereka.


Cuaca dingin, di tambah dengan suara gemuruh hujan, membuat hati Emir bergejolak. Namun karena ia tak berani meminta pada Beeve, Emir mencoba menahan segala hasrat yang ingin ia salurkan.


1 jam kemudian, saat Beeve telah terlelap, Emir malah sibuk dengan khayalnya.


Saat ia melirik ke arah Beeve, tiba-tiba wanita cantik itu memiringkan tubuhnya ke arahnya.


Jarak di antara wajah mereka begitu dekat, hingga Emir dapat merasakan hembusan nafas yang keluar dari hidung Beeve.


Emir dengan berani, menyentuh hidung mancung Beeve secara perlahan.


“Cantik,” gumamnya


Seketika Beeve membuka matanya, yang membaut Emir jantungan.


“Astaghfirullah! Kau ini!” pekik Emir.


“Apa aku secantik itu?”


“Tentu saja.” jawab Emir dengan sedikit grogi.


“Pada hal aku sudah beranak empat,” ujar Beeve.


“Di mata ku, kau tetap cantik, apapun keadaannya, karena yang ku cintai itu adalah hati mu, bukan fisik mu,” terang Emir.


“Mas...”

__ADS_1


“Ya??”


“Kau bisa gombal juga ternyata,” ucap Beeve seraya tertawa kecil.


“Aku enggak gombal Bee, itu kenyataan, dari dulu hingga sekarang, kau tetap nomor satu di dalam hati ku,” Emir.memhungkapkan isi hatinya yang tulus.


“Waktu dengan Helena?” suasana romantis itu mendadak pecah, saat Beeve membawa nama mantan istrinya.


“Sudah, ayo kita tidur!” Emir menarik selimutnya.


“Memangnya ada yang salah dengan yang aku katakan? Mas sendiri yang bilang, kalau aku nomor satu,” ucap Beeve.


“Saat itu kau absen dari ruang hatiku, mana mungkin aku mencintai orang lain, saat aku memiliki pendamping,” ujar Emir.


“Berarti enggak setiap saat, hahaha...” Beeve tertawa cengengesan.


“Kau sendiri bagaimana? Apa aku ada di dalam hatimu saat ini?” tanya Emir penasaran, sebab Beeve tak sekali pun mengakui keberadaannya.


“Tentu saja, Tuhan menjodohkan kita bukan tanpa alasan, maka dari itu, ku putuskan akan menyerahkan jiwa dan raga ku pada mu, semoga mas Emir tak pernah berubah, selalu mencintai ku, dan juga anak-anak ku, hingga kau di panggil yang maha kuasa.” Beeve mengungkapkan harapannya.


“Insya Allah, kau juga harus begitu Bee, jangan tinggalkan aku dalam keadaan apapun.” ucap Emir seraya menggenggam tangan istrinya.


Keduanya pun saling beradu pandang satu sama lain, hingga Emir memberanikan diri untuk mengajak Beeve melakukan hubungan suami istri.


“Bee...”


“Iya mas??” sahut Beeve.


“Apa sekarang kita bisa melakukannya?” Emir sangat berharap jika Beeve tak menolaknya. Beeve berpikir sejenak antara mau atau tidak.


“Tapi kalau kau belum bersedia, enggak apa-apa, aku cuma bercanda kok,” Emir tertawa kaku.


“Ayo mas.”


Ya Tuhan! Dia setuju?! batin Emir.


Sebelum beraksi, Emir pun bertanya terlebih dahulu pada istrinya.


“Tapi Bee, apa kau sudah suntik KB?” Emir memastikan, agar tidak kebablasan.


“Belum mas,” jawab Beeve.


Seketika Emir menelan salivanya, seraya menggaruk kepalanya.


“Lain kali saja Bee, setelah kau suntik KB, kasihan kalau isi lagi,” ujar Emir.


“Oke mas.” ketika Beeve akan menutup mata, Emir pun mencolek pipinya.


“Tapi, kalau kita ciuman, bolehkan?”


Aduh, bikin canggung bamget, kenapa harus nanya sih? Kalau mau cium, ya tinggal cium! batin Beeve.


“Apa sekarang, itu juga enggak boleh?” tanya Emir dengan perasaan sedih.


“Boleh kok mas,” sahut Beeve.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2