
Sementara itu di perusahaan lain terlihat seorang lelaki yang sedang pusing, ia akan mengadakan meeting namun sang istri juga merengek ingin Aiden menemaninya makan siang.
Aiden bingung ia harus bagaimana bahkan Aiden meminta bantuan kepada Axel namun lelaki itu menolak nya, dan Axel malah mengejek nya seperti saat ini.
"Ayolah xel kau bisa menemani Vee makan siang." Bujuk Aiden.
"Heh, itu anakmu yang mau kenapa kamu malah menyuruh ku. Kamu yang membuat aku yang harus pusing begitu." Ucap Axel, Aiden mendengus ia harus minta tolong siapa lagi.
"Axel untuk kali ini saja sungguh." Ucap Aiden, Axel menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu tidak minta tolong kepada Alexi, dia lebih mirip dengan kamu daripada aku." Ucap Axel, Aiden menepuk dahinya kenapa ia tidak kefikiran dari tadi.
Setelah menghubungi Alexi tak lama kemudian Alexi pun tiba di perusahaan milik Aiden, lelaki itu tercengang mendengar permintaan sang kakak.
"Kak bukan apa-apa nih ya, itu kan pas produksi sendiri kenapa bagian pusing nya harus rame-rame. Kalo produksi nya rame-rame si wajar." Ucap Alexi, Axel tertawa sementara Aiden lelaki itu sedang menyumpah serapahi adik nya.
"Kenapa kalian tidak bisa diandalkan." Kesal Aiden.
"Lah, yang harusnya bertanya seperti itu aku. Kenapa kalian bo*oh sekali, kenapa tidak meeting saja yang di gantikan dan kau bisa pergi menemani Vee." Ucap Alexi, Aiden dan Axel saling pandang.
Benar juga kenapa mereka tidak kefikiran sampai kesitu, Aiden terlalu pusing karena banyak pekerjaan. Sementara Axel lelaki itu memang malas sekali untuk berfikir, giliran dia yang kena masalah semua saudara nya ia minta untuk berfikir.
"Benar juga." Ucap Aiden, Alexi menghela nafasnya saat melihat Aiden yang langsung pergi dari ruang kerja nya.
"Siapa yang akan menggantikan meeting Aiden?" Tanya Alexi, Axel tersenyum jahil.
__ADS_1
"Tentu saja kamu, aku ada rapat dengan para petinggi perusahaan." Ucap Axel, lagi-lagi Alexi menghela nafas nya kenapa mereka begitu menyebalkan.
Setibanya di rumah Aiden langsung keluar dari mobil nya dan mencari keberadaan Vee, Aiden menemukan Vee yang sedang makan siang di belakang rumah.
"Sayang apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Aiden, Vee menoleh dan tersenyum manis.
"Makan." Jawab nya polos, Aiden menganga bukan kah tadi istrinya merengek ingin di temani oleh Aiden.
"Bukankah kamu ingin aku temani?" Tanya Aiden, Vee tersenyum lagi.
"Sudah tidak, habisnya kamu lama sekali." Jawab nya, Aiden tercengang ia benar-benar mencoba untuk sabar.
"Lalu untuk apa aku pulang?" Tanya Aiden, Vee menggelengkan kepalanya.
"Entahlah aku sudah tidak ingin di temani lagi." Jawab nya santai, yaampun Aiden hanya bisa mengelus dada nya saja.
"Sayang kita masuk kenapa makan diluar seperti ini." Ucap Aiden, Vee menolak ia tak mau makan di dalam ia ingin merasakan udara luar sambil makan.
"Tidak aku tidak mau, kau masuklah dan ganti pakaian mu." Ucap Vee, Aiden menggelengkan kepalanya.
"Aku akan kembali ke kantor sayang." Ucap Aiden, Vee menatap Aiden dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu selalu pergi kenapa selalu meninggalkan aku, apa karena aku sudah gendut kamu seperti ini? Hiks...hiks... Kamu tahu aku gendut karena ada anakmu yang tumbuh disini." Ucap Vee mengelus perutnya, oh Aiden sabar lah ibu hamil memang seperti itu selalu berubah-ubah mood nya.
"Tidak sayang bukan itu yang aku maksud." Ucap Aiden, Vee menepis tangan Aiden yang mencoba untuk memeluk nya.
__ADS_1
"Kau jahat." Lirih Vee, Aiden diam ia menghela nafas nya.
"Baiklah aku akan berganti pakaian dan menemani kamu di rumah." Ucap Aiden, Vee mengangguk senang. Ia tersenyum melihat Aiden yang berjalan masuk kedalam rumah.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N***: Sabar ai demi Aiden junior π
A: Belum lahir udah bikin pusing bapak nya ya bundπ€£
N: Asli sih, kaya El waktu dalam kandungan π
A: Satu turunan kaya nya π€£
__ADS_1
N: Nah bisa jadi Uun πππ