
Tepat pukul 01:00 dini hari Axel terlihat menggerakkan tangan nya, lelaki itu juga mulai mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam penglihatan nya.
Axel menatap ruangan yang serba putih itu dan ia merasa kepalanya sangat pusing, saat Axel akan menggerakkan tangan untuk memijat pelipisnya yang terasa pusing ia merasa ada seseorang yang sedang menggenggam tangan nya.
Axel menurunkan pandangan nya dan menatap wajah tenang Tiana yang sedang terlelap, Axel mengucek matanya ia merasa ini seperti mimpi bagi dirinya.
Tiana wanita yang selama ini pergi meninggalkan Axel karena kelakuan nya kini kembali dan sedang terlelap di samping nya, tangan Axel yang satunya terulur untuk mengelus lembut kepala Tiana.
"Tiana." Panggil Axel dengan suara khas nya.
"Tiana." Panggil nya lagi, Tiana yang merasa ada seseorang yang memanggil nya pun mengerjapkan matanya dan menegakkan tubuhnya.
Semenjak hamil Tiana merasa tubuhnya mudah lelah dan pegal-pegal, ia mengerjapkan matanya menatap Axel yang sudah membuka matanya.
"Kau sudah bangun?" Tanya Tiana, mendengar suara itu membuat Axel yakin jika kini dirinya bukan sedang bermimpi.
"Hmmm." Balas Axel.
"Syukurlah aku akan memanggil dokter sekarang." Ucap Tiana, namun saat wanita itu terbangun dan berniat untuk pergi Axel menarik tangan Tiana hingga Tiana terjauh di atas tubuh Axel.
Keduanya saling bertatapan Tiana menatap wajah pucat Axel, dan Axel menatap wajah cantik Tiana dengan pipi yang terlihat chubby.
"Ad_ada apa?" Tanya Tiana gugup.
"Aku baik-baik saja kamu tidak perlu memanggil dokter." Ucap Axel, Tiana menelan saliva nya dan mengangguk.
"Baiklah." Jawab nya, tangan Axel memeluk pinggang Tiana dan tangan yang satunya mengelus pipi Tiana.
"Maafkan aku maaf karena aku terlalu banyak menyakiti kamu, aku bukan lelaki yang baik kan aku hanya seorang baj*ngan yang terlahir dari keluarga Abrisham. Keluarga yang terkenal baik dan ramah, tapi tidak denganku aku minta maaf atas semua kesalahanku Tiana." Lirih Axel, air matanya menetes membuat hati Tiana ikut sakit.
"Aku sudah memaafkan kamu." Jawab Tiana dengan lembut.
"Kau tidak berbohong?" Tanya Axel.
"Apa aku terlihat seperti seorang pembohong." Ucap Tiana, Axel menggelengkan kepalanya dan mengecup kening Tiana dengan lembut.
Kecupan Axel di kening nya membuat Tiana merasa nyaman, ia pun ikut menitihkan air matanya karena merasa Axel jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Terimakasih untuk semua nya, mami benar kamu adalah wanita yang baik. Pantas jika keluargaku sangat menyayangi kamu." Ucap Axel.
"Ya aku memang baik kamu saja yang tidak menyadarinya." Ucap Tiana, Axel tersenyum manis melihat Tiana yang memanyunkan bibirnya.
"Iya aku salah dan aku sangat bo*oh." Ucap Axel, Tiana mencibir perkataan Axel.
"Kau baru menyadarinya setelah kepalamu terbentur? Tahu seperti ini sudah sejak lama aku memukul kepalamu agar kau sadar." Ucap Tiana, lihatlah sikap ibu hamil itu benar-benar membuat Axel cukup terkejut.
"Sejak kapan kau berani memarahiku seperti ini hmmm." Ucap Axel.
__ADS_1
"Sejak anakmu tinggal disini." Ucap Tiana, ia melepaskan pelukan Axel dan meletakkan tangan Axel diperutnya.
"Tiana kau_" Lirih Axel.
"Iya aku sedang mengandung anakmu Axel dia ada disini sekarang, kau tahu dia selalu membuatku terbangun tengah malam hanya untuk memikirkan kamu. Memikirkan papa nya yang bahkan tega menyakiti aku yang menjadi mama nya." Lirih Tiana, air mata Tiana menetes di pipi mulus nya.
"Honey maafkan aku." Lirih Axel, lelaki itu bangun dari tidurnya dan bersandar.
"Aku sudah memaafkan kamu tapi kenapa ini sakit sekali." Lirih Tiana menunduk dalam.
"Aku yang jahat karena selalu menyakiti kamu hmmm, kemarilah." Ucap Axel, lelaki itu memangku tubuh mungil Tiana dan memeluk nya.
"Jangan menangis lagi ini semua salahku." Ucap Axel, Tiana menatap Axel dan membalas pelukan lelaki itu.
....
Keesokan paginya Aiden dan Vee memutuskan untuk pergi menjenguk Axel di rumah sakit, namun mereka di kejutkan oleh pemandangan yang ada di hadapannya.
Dengan hati-hati Aiden menutup kembali pintu kamar rawat Axel, dari kejauhan Aiden melihat Azka dan Aleta yang sepertinya akan menjenguk Axel.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Aleta.
"Tidak kami ingin menunggunya disini saja." Jawab Aiden.
"Ada apa dengan kalian aneh sekali." Ucap Aleta, dengan percaya diri Aleta membuka pintu itu dan menganga melihat Tiana yang tidur dalam pelukan Axel.
"Ini apa maksudnya Axel sudah sadar dan mereka." Lirih Aleta.
"Ta sepertinya keadaan mereka sudah membaik, biasanya Tiana tidak akan terlihat nyenyak dalam tidur nya tapi kali ini dia terlihat nyaman dalam pelukan Axel." Ucap Vee.
"Iya kamu benar Vee biasanya juga Axel selalu muntah di pagi hari tapi sepertinya hari ini tidak, tapi ini di rumah sakit bagaimana jika ada dokter atau perawat yang melihat nya." Ucap Aleta, Vee dan Aiden mengangguk membenarkan perkataan Aleta.
Akhirnya mereka berempat pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar rawat itu, mereka menyusun makanan yang dibawanya di atas meja.
"Emmhhh, lenguh Axel lelaki itu mengerjapkan matanya dan tertegun melihat Aiden, Aleta, Azka dan Vee yang sedang duduk tenang di sofa dengan menatap nya.
"Assshh." Desis Axel yang merasa kesemutan karena tangan nya menjadi bantalan kepala Tiana.
"Permi_si." Ucapan perawat itu terhenti kala Axel meletakkan telunjuk di bibirnya.
"Tuan saya akan memeriksa anda." Ucap perawat itu dengan suara yang sangat rendah.
"Hmmm." Balas Axel, setelah selesai para perawat dan dokter pun keluar dari kamar rawat Axel.
"Nyenyak tidur nya." Goda Alexa, Axel mengangguk dan berjalan menuju sofa dengan hati-hati.
"Sepertinya kau sudah semakin membaik." Ucap Aiden.
__ADS_1
"Bisa pelankan suara kalian istriku sedang tidur." Ucap Axel.
"Jangan banyak bergaya Axel kemarin kau menyakiti nya, dan sekarang kau dengan bangga menyebut nya istrimu." Sindir Aleta.
"Ya aku tahu jika aku sangat bo*oh." Ucap Axel.
"Memang baru sadar kau." Ucap Aleta, tunggu Axel sudah sadar tapi ia malah membiarkan Tiana yang berbaring di tempat tidur nya.
"Kau benar-benar sudah membaik?" Tanya Aleta.
"Hmmm, aku sudah jauh lebih baik." Ucap Axel.
"Kau baru terbangun dari koma Axel tapi tingkah mu seperti orang yang masuk rumah sakit karena demam." Ucap Aiden, Axel tertawa kecil ia menatap Tiana yang masih meringkuk di tempat tidur nya.
"Jaga dia jika kau menyakiti Tiana lagi maka kami semua akan membuat nya benar-benar tidak akan kembali, ini kesempatan untuk kamu memperbaiki semuanya." Ucap Aleta.
"Aku baru saja sadar sudah di ancam lagi." Ucap Axel.
"Mana ada baru saja sadar tidurmu sudah berpelukan seperti itu." Cibir Vee, Axel tertawa kecil mendengar perkataan para saudara nya.
Jujur Axel harus mengucapkan terima kasih kepada Anes, karena wanita itulah yang membuat Axel sadar tentang prasaan nya terhadap Tiana.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: Dilarang bapereu βΊοΈ*
N: Mana sempet belum apa-apa udah sweetπ
A: Pembukaan Uun βΊοΈ
N: Pembukaan yang sangat membuat saya mengiri π
A: πππ
__ADS_1