Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 89


__ADS_3

Pagi hari Vee terbangun dari tidurnya ia tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya yang masih terlelap, Vee mengelus pipi Aiden dengan lembut hingga membuat lelaki itu bangun dan membuka matanya.


"Suka banget kaya nya kamu liatin wajah tampan aku." Goda Aiden, Vee mendengus seharusnya Vee tidak melakukan itu.


"Gak usah pede deh, ini keinginan dedek bayi." Ucap Vee, Aiden tertawa kecil.


"Iya dedek lagi kangen sama Daddy nya kan." Kekeh Aiden, Vee mencibir.


"Lepas ah aku mau mandi." Ucap wanita itu, berusaha untuk melepaskan pelukan Aiden.


"Mandi berdua." Ucap Aiden, menyembunyikan wajahnya di dada Vee.


"Sayang geli." Ledek Vee, namun bukan Aiden namanya jika melepaskan Vee begitu saja.


"Gak denger aku." Balas Aiden, lelaki itu membuka kancing piama tidur Vee.


"Aiden." Pekik Vee, saat Aiden sudah mulai bermain di tempat favorit nya.


Vee mengeliat kegelian karena Aiden yang mulai menindih tubuhnya, namun Vee mengingatkan jika Vee sedang hamil Aiden pun mengubah posisi menjadi Vee yang di atas nya.


"Sayang aaaawwwwhhh." Pekik Vee, Aiden tertawa gemas sementara Vee merengut masam.


"Jenguk dedek ya." Pinta lelaki itu, Vee menunduk menatap manik mata suaminya.


"Kamu kangen dedek?" Tanya Vee, Aiden mengangguk menatap mata indah sang istri.


"Boleh tapi pelan-pelan saja." Ucap Vee, Aiden pun mengangguk ia mulai melepaskan pakaian Vee dan melemparkannya ke sembarang arah.


"Bisa gak pakaian nya gak usah di lempar-lempar." Protes Vee.


"Gak apa-apa gak akan ada yang tau kan." Ucap Aiden, lelaki itu mulai menc*bu sang istri.


Vee yang selama ini merindukan Aiden pun mengikuti permainan sang suami, Aiden turun kebawah sana dan mengecup perut sang istri.


Dimana ada anak nya yang masih tidur mungkin, atau anak nya yang sedang menyumpah serapahi sang Daddy karena menggangu mommy nya di pagi hari.


"Sayang Daddy jenguk ya, jangan macem-macem jangan bikin mommy mual." Ucap Aiden setengah mengancam, Vee tertawa geli melihat kelakuan sang suami.


"Enggak kok Daddy tenang saja, aku tidak akan menggangu kegiatan solimi Daddy." Balas Vee menirukan suara anak kecil.


Tak butuh waktu lama untuk Aiden dan Vee menyatukan t*buh keduanya, Vee melenguh ia seakan terbang karena perlakuan Aiden.

__ADS_1


Bahkan Vee mendes*h saat Aiden bermain di dada nya, ia seperti memiliki bayi besar saat ini. Aiden benar-benar tak bisa berpaling dari Vee, wanita itu sudah menjadi candu bagi Aiden.


"Sayang pelan-pelan." Ucap Vee mengingatkan Aiden.


"Hmmmmm." Balas Aiden, setelah satu jam akhirnya Vee dan Aiden pun mencapai puncaknya.


Aiden ambruk di atas tubuh Vee, namun dengan cepat lelaki itu memutar pisis keduanya hingga Vee yang terbaring di atas tubuh Aiden.


"Terimakasih." Ucap Aiden, mengecupi setiap inci wajah Vee.


Tangan Aiden yang nakal bermain di dada sang istri, membuat Vee terkejut Aiden selalu mengerjai Vee.


Aiden tahu semenjak hamil Vee menjadi lebih agr*sif, maka dari itu ia selalu mengerjai istrinya berharap Vee yang memimpin permainan.


"Sayang aku lelah, berhenti memainkannya." Protes Vee, Aiden tertawa lalu Mel*mat b*b*r Vee lembut. Lagi-lagi Vee harus dibuat terbang oleh suaminya.


Lupakan dulu kegiatan sepasang suami istri itu, karena di tempat lain tepatnya di ruang makan semua keluarga sudah berkumpul. Hanya kedua sejoli itu saja yang belum turun ke lantai dasar.


"Dimana Aiden dan Vee, tumben sekali mereka belum turun." Ucap dad Justin.


"Jangan ganggu mereka dad, mungkin saja mereka sedang membuat adik untuk Aiden junior." Ceplos Anes.


Putrinya itu solimi tapi juga polos, Alexi ikut menertawakan Anes membuat wanita itu mendelik tajam.


"Jangan tertawa kamu, memangnya salahku dimana." Ucap Anes.


"Kau itu kenapa Anes, jelas-jelas perkataan mu itu salah. Bayi yang dikandung Vee saja belum lahir, lalu bagaimana Aiden membuat adik untuk bayi yang belum lahir." Ucap Dea merasa lucu.


"Benar juga, maaf mom nyawa Anes belum terkumpul semua." Ujar nya, tak lama kemudian Aiden dan Vee turun dan ikut bergabung di meja makan.


Wajah Aiden terlihat lebih bersinar dari biasanya, Alexi menendang kaki Anes membuat Anes menoleh dan tersenyum jahil.


"Asupan pagi nya cukup ya pak, sampai cerah begitu wajah nya." Goda Anes, Vee tersipu malu sementara Aiden memasang wajah sombong nya.


"Nikah mangkanya jangan jomblo Mulu." Goda lelaki itu.


"Apa hubungannya Mansyur, Alexi belum nikah saja bercahaya." Ucap Anes, Aiden tertawa kecil kini mereka semua makan dengan tenang.


Setelah selesai makan Anes pamit lebih dulu karena ia dan Aleta akan ke kantor bersama, Anes menatap wajah masam saudara nya.


"Kamu kenapa ta?" Tanya Anes, Aleta menoleh menatap Anes.

__ADS_1


"Nes nikah tuh enak gak si, usiaku dan Aiden kan beda tipis mungkin bisa dibilang sama. Karena itu mami selalu memintaku untuk menikah." Ucap Aleta, Anes mengernyit.


"Kenapa kamu bertanya kepada ku, aku belum menikah bertanya lah kepada orang yang sudah menikah." Ucap Anes, Aleta mendengus ia salah bertanya rupanya.


"Kamu tanyakan kepada Aiden enak tidak." Ucap Aleta.


"Kalau kamu bertanya kepada kak Aiden sudah pasti jawaban nya enak ta, dia tiap pagi dapet asupan yang membuat nya berbinar." Ucap Anes, Aleta bingung dengan ucapan wanita itu.


"Itukan lelaki mangkanya berbinar, kalau aku kan cewek nes gimana bisa berbinar." Ucap Aleta.


"Mana aku tahu aku belum menikah, jangankan untuk menikah kekasih saja belum punya." Sengit Anes, Aleta tertawa kecil bisa-bisa nya ia bertanya hal seperti ini kepada Anes.


Keduanya pun memutuskan untuk menemui klien yang sudah membuat janji dengan keduanya, Aleta memutuskan untuk melupakan dulu keinginan mami nya. Ia harus profesional dalam bekerja bukan, Aleta tak ingin karena masalah pribadinya membuat Aleta tidak konsentrasi dalam kerjaan nya.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


A**: Dikit dulu ah, yang penting up 😂*


N: Gada pencerahan kan Lo😁


A: Ssstttt, berisik Uun 😂


N:. Mon maap Thor 😂


A: Ngokhey 😁


N: 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2