Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 25


__ADS_3

Saat keluar dari ruang kerja Aleta Anes melihat Arka dan Adelle yang sedang berbincang di lobby, Arka yang melihat Anes pun berjalan mendekati Anes dan memeluk nya.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Arka, membuat Anes tersenyum.


"Kabarku baik apa kau lupa." Cebik Anes, membuat Arka tertawa kecil.


"Hmmmmm, aku lupa jika aku memiliki sepupu secantik dirimu." Ucap Arka, Anes memutar bola matanya malas.


"Lapaskan Arka hargai wanitamu." Ucap Anes membuat Adelle menunduk, Adelle yakin jika Anes sudah mengetahui semuanya.


"Hmmmmm, kau mengenalnya." Goda Arka.


"Tentu saja, dia calon kakak ipar yang sekarang merangkap sebagai calon adik ipar ku." Ucap Anes, membuat Arka diam ternyata ia salah menggoda Anes.


"Anes aku." Ucap Adelle, Anes menatap Adelle sendu. Sungguh ia tidak ingin marah namun entahlah mengingat kesedihan Vee membuat Anes kesal.


"Aku tidak marah kepadamu Adelle." Ucap Anes tersenyum tipis, yakinlah Adelle tidak sama dengan sang mommy.


Bahkan Adelle terlihat berubah sekarang ia lebih memperhatikan Arka, sekalipun ada kesalahan besar yang pernah ia lakukan.


Anes percaya setiap orang pasti memiliki kesalahan bukan, begitupun dengan Anes mungkin Anes memiliki kesalahan yang tidak disengaja atau yang tidak ia sadari.


"Maafkan aku." Lirih Adelle.


"Jangan difikirkan, aku pergi dulu." Ucap Anes, Adelle dan Arka mengangguk menatap kepergian Anes.


"Kau lapar honey?" Tanya Arka, Adelle menatap wajah tampan dihadapannya.


"Hmmmmm." Jawab Adelle.


"Baiklah tuan putri ayok kita makan dulu, aku tidak rela jika tuan putriku kelaparan." Kekeh Arka, Adelle tertawa melihat kelakuan baik sang kekasih.


....


Malam hari di kediaman Justin terlihat sepasang suami istri yang sedang diam tanpa suara, Vee duduk di tepi ranjang dan Aiden duduk di sofa.


Keduanya yang bersepakat akan menjadi teman terlebih dahulu, jadi mempersalahkan tempat tidur.


"Kau kan temanku Aiden, jadi kita tidak boleh tidur dalam satu tempat tidur yang sama." Ucap Vee, membuat Aiden tidak habis fikir.

__ADS_1


"Ya aku tahu, karena semalam juga kau benar-benar membuatku tidak bisa tidur dengan semua aturan yang kau buat." Ucap Aiden.


"Kalau begitu bagaimana jika kau tidur di sofa saja." Ucap Vee, membuat Aiden mencebikan bibirnya.


"Tidak, kenapa tidak kau saja yang tidur di sofa." Ucap Aiden tidak mau kalah.


"Kau ini bagaimana kau kan seorang suami, harusnya kau mengalah kepada istrimu." Ujar Vee.


"Sebenarnya aku ini siapa dimatamu Veronica Azkia Zeiss, tadi kau mengatakan bahwa aku adalah temanmu tapi sekarang kau mengakuiku sebagai syamimu." Ucap Aiden, Vee menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ngapain tuh tangan kaya gitu, kutuan." Ucap Aiden, Vee mengerucutkan bibirnya.


Ia kira anak sultan tidak tahu kutu, Aiden ini sekolah dimana si kenapa dia tahu bahasa-bahasa yang diluar pengetahuan Vee.


"Ish bukan, sudahlah kamu ngalah aja. Kamu kan janji kalau kamu gak akan ngapa-ngapain aku." Ujar Vee.


"Ya gak tidur di sofa juga Veronica." Ucap Aiden, lelaki itu bangun dan menggeser tubuh Vee. Dengan tanpa dosa Aiden merebahkan tubuhnya di samping Vee membuat Vee kesal.


"Aiden tidak seperti ini maksudku." Protes Vee.


"Jangan lupa bahwa ini kamarku." Ujarnya, baiklah Vee mengalahlah biarkan lelaki itu merasa menang.


Dikamar lain Alexi sedang berkutat dengan pekerjaan nya, melihat sang kakak yang sudah menikah membuat Alexi sedikit jenuh. Ia sudah tidak bisa mengajak Aiden pergi, karena jika ia melakukan itu maka Anes dan Dea akan menjadi ancaman nya.


"Menurutmu aku sedang apa." Jawab Aiden, membuat Anes tertawa kecil.


"Kau merasa kesepian karena teman nongkrong kamu sudah menikah." Tanya Anes duduk di samping Alexi.


"Tidak, setidaknya meskipun dia sudah menikah dia ada dirumah bukan." Ucap Alexi, membuat Anes mengangguk.


"Tidak seperti saat dia pacaran maksudmu." Ucap Anes, gadis cantik itu menatap Alexi.


"Bisa dibilang seperti itu, dulu dia lebih suka berada di apartemen nya bukan." Kekeh Alexi, mengingat Aiden yang dulu mudah sekali diajak keluar karena Aiden lebih sering berada di apartemen nya.


"Kau tidak lelah? Istirahat lah kau sudah seharian bekerja." Ucap Anes, Alexi mengangguk.


"Kau tidak ada fikiran untuk mencari pasangan Anes?" Tanya Alexi, menghentikan langkah Anes yang berniat pergi.


"Tidak al." Jawab Anes.

__ADS_1


"Kenapa begitu?" Tanya Alexi berbalik dan menatap Anes.


"Aku belum siap meninggalkan adik kembar ku yang tampan dan menyebalkan, kau itu satu-satunya adikku. Jika aku harus menikah maka aku akan tetap disini." Ucap Anes, Alexi tersenyum tipis.


"Bukan berarti kau ingin menjadi istri yang berd*sa bukan" Kekeh Alexi.


"Jika suamiku mencintaiku bukankah dia akan mengutamakan kenyamanan aku." Ucap Anes, Alexi mengangguk pelan ia benar-benar salut kepada Anes yang selalu bersikap bijak.


Alexi pun menyuruh Anes untuk pergi ke kamar nya, setelah kepergian Anes Alexi merebahkan tubuhnya dan menatap langit-langit kamar hingga ia terlelap.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


N**: Sudah mulai akur ya bund😂


A: Bagus lah jangan gelud Mulu🤣


N: Yang rusuh nya si Anes 🤣


A: Titisan Dena emang gak pernah gagal 😂

__ADS_1


N: Tepat syekali😂


A: 🤣🤣🤣*


__ADS_2