Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 136


__ADS_3

Keesokan harinya Anes sudah terlihat rapi dan cantik, Anes akan pergi ke kantor karena hari ini ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.


Aiden dan Vee menatap Anes yang sedang menuruni anak tangga, Vee menatap Anes dari atas sampai bawah. Sempurna, itulah yang ada di fikiran Vee saat ini.


"Kamu sudah rapi." Ucap Aiden, Anes mengangguk dan duduk disamping Alexi.


"Hmmmmmm, aku ada meeting pagi. Selain itu ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Anes, Aiden dan Vee pun mengangguk.


"Baiklah, jangan terlalu lelah. Ingat Daddy dan kakak tidak pernah menyuruh kamu untuk bekerja." Ucap Aiden, Alexi yang mendengar itu menatap Anes.


"Aku juga tidak pernah menyuruh kamu bekerja, aku bisa memenuhi semua kebutuhan kamu." Ucap Alexi tak mau kalah.


"Iya iya, aku tahu kalian semua tidak ada yang menyuruh aku untuk bekerja. Tapi ini kemauan ku jadi tolong jangan terlalu mengkhawatirkan aku." Ucap Anes, Vee tersenyum ia merasa salut kepada Anes.


Meskipun Anes menjadi anak perempuan satu-satunya Dea dan Justin, Anes juga terlahir di keluarga yang kaya tapi Anes tetap ingin bekerja.


Setelah selesai sarapan Anes memutuskan untuk segera pergi, ia tak ingin terlambat karena itu Anes langsung berpamitan kepada kakak dan kakak iparnya.


"Aku langsung jalan, Vee kamu hati-hati oke jangan sampai keponakan aku kenapa-kenapa." Ucap Anes.


"Hmmmmmm, tenang saja aunty cantik aku akan menjaga keponakan kamu dengan baik." Ucap Vee, Anes mengangguk dan tersenyum manis.


"Baiklah aku pergi dulu." Ujar nya, Aiden dan Alexi menatap kepergian Anes.


"Haruskah kita meminta Daddy mencarikan pasangan untuk Anes?" Tanya Aiden, Alexi tertawa kecil mendengar perkataan kakak nya.


"CK, aku tidak yakin itu akan berhasil." Kekeh Alexi.


"Kenapa tidak, aku saja berhasil buktinya aku mencintai Vee sekarang." Ucap Aiden.


"Kau dan Anes itu berbeda, jangan lupakan jika Anes anak satu-satunya mom and Daddy. Mana mungkin mom dan Daddy mengorbankan kebahagiaan Anes." Ucap Alexi lagi.


"Anes pasti bahagia jika itu permintaan mom and Daddy." Ucap Aiden.


"Cih, lakukan saja jika kau ingin melihat rumah ini menjadi rata." Kekeh Alexi, Vee ikut tertawa kecil mendengar obrolan kakak dan adik itu.


"Kenapa seperti itu?" Tanya Aiden, Alexi menatap Aiden dengan malas.


"Kemana kecerdasan kamu bang, kenapa menjadi lemot seperti ini." Cibir Alexi.


"Mon maap masih ngelag." Kekeh Aiden.


"Kau lupa beberapa anak rekan bisnis Daddy yang di tolak mentah-mentah oleh Anes, sudahlah jangankan kita author aja pasti bingung nyari jodoh buat Anes." Ucap Alexi, Aiden tertawa kecil.


"Benar juga, buktinya sampai sekarang Anes belum mendapatkan pasangan." Kekeh Aiden.


Kedua lelaki tampan itu masih asik berbincang, sementara di kediaman Julian dan Mae terlihat Mae yang sedang menatap sendu putrinya.


Aleta yang merasa aneh dengan tatapan Mae pun mulai salah tingkah, ia menghentikan kegiatan makan nya.


"Kenapa mami menatap aku seperti itu?" Tanya Aleta, membuat Julian ikut menatap Mae.

__ADS_1


"Mami heran apa yang kurang dari kamu, kenapa sampai sekarang kamu masih menjomblo." Ucap Mae, Aleta tercengang mendengar perkataan Mae.


"Mi, aku bukan menjomblo. Hanya saja sedang menunggu lelaki yang tepat." Ucap Aleta, Axel berdehem mendengar jawaban kakak nya.


"Emang yang kemarin bayarin belanjaan belum tepat." Goda Axel, membuat Mae menoleh ke arah putra bungsu nya.


"Yang kemarin bayarin belanjaan, siapa?" Tanya Mae kepo, Julian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istri dan putranya.


"CK, mami tanya saja sama anak gadis mami." Kekeh Axel, Aleta menatap garang adik nya.


Axel selalu memberikan kode di hadapan mami dan papi nya, padahal Aleta sendiri tidak tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Azka.


"Siapa ta? Apakah kamu dekat dengan anak rekan bisnis papi?" Tanya Julian, Axel semakin tertawa mendengar pertanyaan papi nya.


"Eh, bukan kok Pi. Jangan dengarkan Axel dia emang suka ngadi-ngadi." Ucap Aleta.


"CK, devinisi emak gak dapet bapak nya. Eh sekarang di lanjut sama anak nya ye kan." Ledek Axel lagi, Julian dan Mae semakin dibuat penasaran.


"Xel kalau gak mau kasi tau ya gausah ngomong, mami sumpel juga kamu pake kantong minyak." Ucap Mae, Axel tertawa lepas lalu menatap wajah kesal Aleta.


"Yakali kak gak mau kasi tau mami." Goda Axel.


"Papi, bisa gak si Axel di tukar tambah saja dengan tutup galon." Ucap Aleta, Julian tertawa mendengar perkataan putrinya.


"CK, mana ada orang ganteng kaya aku di tukar sama tutup galon." Cebik Axel.


"Yasudah diam mangkanya, gak usah aneh-aneh jadi orang." Ucap Aleta, Mae menatap wajah merona putrinya.


"Enggak ah perasaan mami doang kali, yaudah Aleta jalan ke kantor dulu pi, mi, bye." Ujar nya, dengan cepat Aleta berlari keluar rumah.


Karena tidak hati-hati Aleta menabrak Anes yang sedang berjalan masuk kedalam rumah, kedua wanita itu sama-sama terpental dan jatuh.


"Asssshhh." Pekik Anes dan Aleta.


"Ta kamu apa-apaan si, baru juga datang udah dibikin jatuh saja." Ucap Anes.


"CK, maaf nes maaf. Aku gak tahu kalau kamu sudah sampai." Ucap Aleta, ia buru-buru bangun dan membantu Anes untuk bangun.


"Kamu kenapa?" Tanya Anes, Aleta menggelengkan kepalanya dan tersenyum kaku.


"Enggak aku gak apa-apa, yaudah yuk kita jalan sekarang aja." Ucap Aleta, Anes pun mengangguk dan kembali menuju mobilnya.


Saat mobil yang di tumpangi Anes dan Aleta keluar dari gerbang utama kediaman Julian, tak lama kemudian mobil Azka memasuki gerbang utama kediaman Julian.


Anes menatap Aleta yang sedang termenung, Anes bingung apa yang sebenarnya di fikirkan oleh Aleta.


"Kamu kenapa si ta, tumben banget diem mulu." Ucap Anes, Aleta menghela nafas nya.


"Gak apa-apa, aku hanya sedang kesal kepada Axel. Dia selalu memancing mami dan papi untuk membicarakan hal yang tidak penting." Ucap Aleta.


"Hal tidak penting? Memangnya apa yang dibicarakan oleh Axel?" Tanya Anes, Aleta memukul mulutnya sendiri. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu kepada Anes, padahal Aleta tahu jika Anes gadis yang cerdas. Ia pasti meminta jawaban dan penjelasan yang jelas dan masuk akal.

__ADS_1


"Eh, enggak kok gak apa-apa lagian gak penting juga." Ucap Aleta, Anes mengernyit heran.


"Kalau gak penting kenapa kamu terlihat kesal, bahkan tadi kamu tidak berhati-hati saat berjalan." Ucap Anes, Aleta tersenyum kaku.


"Takut kesiangan nes, nanti kalau aku telat kamu ngomel." Ucap Aleta, ia berusaha untuk tidak membahas Azka di hadapan Anes.


Bukan apa-apa Aleta tahu jika Anes akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Azka dan Aleta, tapi disini Aleta tidak ingin melibatkan Anes.


Toh Aleta tidak tahu tentang dirinya dan Azka, Aleta masih menganggap jika Azka adalah teman nya. Masih seperti dulu dan belum berubah.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Bisa-bisanya gue kagum sama sosok Anes 😲*


A: CK, pengen kan punya sepupu kek gitu 😂


N: Pengen banget serius 😍


A: 😂😂😂 sama gue juga pengen 😂😂


N: Oke untuk kali ini kita kompak 😂


A: Tumben ye kan 😂

__ADS_1


N: Iyeee 😂😂😂


__ADS_2