Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 270


__ADS_3

Sesampainya di toko kue tempat nya bekerja Tiana bertemu dengan beberapa pegawai yang lain, mereka tersenyum manis melihat kedatangan Tiana.


"Kamu baru sampai na?" Tanya teman kerja nya.


"Iya mbak di jalan tadi lumayan macet." Jawab Tiana.


"Tiana bukankah suami kamu orang kaya tapi kenapa kamu malah memilih untuk bekerja?" Tanya karyawan lain nya, yang tak sengaja di dengar oleh sang pemilik toko.


"Kamu sudah menikah na?" Tanya bos Tiana.


"I_iya Bu sudah." Jawab Tiana jujur.


"Oh ibu kira kamu belum nikah, tapi apa yang dikatakan teman kamu itu benar kalau suami kamu orang kaya?" Ujar nya, Tiana hanya bisa tersenyum saja menanggapi perkataan seperti itu.


"Yasudah kalau begitu kamu langsung kerjakan pekerjaan kamu saja ya, maaf kalau ibu lancang berbicara seperti itu." Ucap ibu pemilik toko.


"Baik Bu." Balas Tiana, wanita itu pergi ke belakang untuk mengganti pakaian nya dengan seragam yang dipakai oleh para karyawan yang bekerja di toko kue itu.


"Kasihan ya dia suami kaya tapi masih harus bekerja." Ucap karyawan A.


"Benar jangan-jangan suaminya tidak mencintai Tiana, lagian mau-maunya menikah dengan orang kaya gak sadar diri banget dengan keadaan." Ujar nya, perkataan itu terdengar di telinga Tiana.


(Ayok Tiana kamu pasti bisa biarkan mereka berbicara sesukanya, kamu disini untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan mama. Jangan sampai mama memakai uang Axel lebih banyak lagi, karena itu hanya akan membuat Axel berpikir kalau kamu dan mama adalah dua orang paras*t yang hanya menginginkan uang nya saja.) Batin Tiana, wanita itu kembali fokus bekerja.


Dan sore hari Vee sudah pulang dari kantor Aiden hanya berdua dengan Varo saja, karena suaminya masih ada urusan kantor. Saat memasuki rumah Vee melihat Aleta, Alea dan Adelle yang berkumpul di rumah nya.


"Ada apa ini rame amat." Ucap Vee, wanita itu berjalan dan duduk di samping Alea.


"Vee kamu tahu di dekat cafe yang biasa kita lewatin setiap ke kantor ada toko kue, kata karyawan ku kue-kue disana enak-enak Vee." Ucap Aleta.


"Kamu mau kesana?" Tanya Vee, wanita itu memberikan tubuh mungil Varo kepada suster nya untuk di mandikan.


"Ayolah kita kesana sama-sama lagian para suami juga pulang terlambat hari ini." Ucap Aleta.


"Bagaimana dengan Adelle?" Tanya Vee.


"Aku si ayok-ayok saja lagian aku juga merasa penasaran." Ucap Adelle.


"Yasudah kalau begitu aku ganti baju dulu." Ucap Vee, Aleta tersenyum manis menatap kepergian Vee.


"Ngomong-ngomong Tiana gak ikut bersama kita?" Tanya Alea.


"Enggak ya Tiana sedang bekerja." Ucap Aleta lirih.


"Bekerja? Sejak kapan Tiana bekerja?" Tanya Alea, Adelle ikut menatap Aleta.

__ADS_1


"Entahlah aku bingung Axel benar-benar keterlaluan, aku ingin membencinya tapi dia adalah adikku. Aku tidak tega melihat Tiana yang terus di marahi oleh Axel, hingga akhirnya aku dan memi membiarkan Tatiana bekerja." Ucap Aleta.


"Aku sudah selesai ayok kita pergi." Ucap Vee.


"Tunggu kita pergi ramai-ramai memang bisa makan disana?" Tanya Alea.


"Bisa di samping toko kue itu ada cafe jadi kita bisa sekalian nongkrong di cafe." Ucap Aleta, ya baiklah jika ibu hamil yang satu ini sudah ngotot ingin pergi siapa yang bisa menolak.


Sementara itu di sebuah perusahaan terlihat Axel yang sedang di sidang oleh para saudara nya, mereka bersemangat untuk memarahi Axel karena bagi mereka Axel sudah sangat keterlaluan.


"Tadi pagi aku bertemu dengan Tiana saat dia berjalan menuju jalan raya." Ucap Aiden.


"Aku tidak peduli." Jawab Axel.


"Terserah kau mau peduli atau tidak aku hanya ingin bercerita." Ucap Aiden.


"Untuk apa Tiana berjalan ke jalan raya?" Tanya Alexi.


"Untuk berangkat kerja." Jawab Azka, Arka menatap Axel yang hanya diam tak bergeming.


"Bekerja? Bukankah Tiana memiliki suami kaya raya." Cibir Arka, berharap Axel sadar.


"Kaya raya apa jika untuk berangkat ke tempat kerja nya saja Tiana harus naik angkutan umum." Ucap Aiden, membuat semua saudara nya menoleh terkejut.


"Ya, aku sudah memaksa Tiana untuk ikut dengan aku dan Vee tapi dia tidak mau. Apa yang kau katakan El sampai Tiana menolak kebaikan kami?" Ucap Aiden.


"El jika kamu tidak menyukai Tiana maka kamu saja yang menyakiti nya, kami tidak sejahat itu untuk menyakiti gadis polos dan lugu seperti Tiana." Ucap Alexi.


"Axel merendahkan Tiana, saat Tiana pergi bersama para istri kita Axel mengira jika Tiana mengadu sampai membuat para istri merasa kasihan. Padahal Tiana tidak mengadu sama sekali, dan Tiana juga tidak meminta Aleta memberikan banyak barang untuk nya." Ucap Azka.


"El aku sudah sering mengatakan jika kamu tidak mencintainya maka jangan sakiti dia, berhenti sebelum dia benar-benar meninggalkan kamu." Ucap Aiden.


"Sulit bang setiap melihat wajah nya membuat darahku mendidih." Ucap Axel.


"CK, sulit Tiana cantik, baik, lugu apa lagi yang kamu inginkan?" Ucap Arka.


"Kamu pasti kesal karena kamu menikahi Tiana membuat wanita yang kamu suka tidak bisa kamu dapatkan, dan dia sudah mengetahui bahwa kamu sudah menikah." Ucap Alexi, Aiden menatap adik bungsu nya.


"Wanita mana?" Tanya Aiden, Arka dan Azka secara bersamaan.


"Wanita yang bertemu Axel saat dia ada perjalanan bisnis ke kota L, Axel juga memajang foto wanita itu di kamar nya. Jika Tiana teliti mungkin dia sudah melihat foto wanita itu." Ucap Alexi.


"Baj*ngan kau El, siapa yang mengajarimu seperti itu?" Ucap Arka.


"Aku menyukainya dan hanya dia yang membuat aku nyaman." Ucap Axel.

__ADS_1


"G*la jadi ini alasan kamu selalu pulang larut?" Ucap Azka, Axel terdiam Azka tertawa sinis dan menggelengkan kepalanya.


"Bayangkan jika Azka melakukan itu kepada Aleta." Ucap Arka, Axel menatap tajam Azka.


"Kau tahu konsekuensinya jadi jangan pernah sakiti Aleta." Ucap Axel.


"Aku masih waras El aku juga menghormati Aleta sebagai istriku, tapi kamu? Kamu bahkan tidak pernah berpikir bagaimana perasaan orang tua Tiana, jika tahu putrinya yang selama ini menjadi kebanggaan nya, kesayangan nya dan tulang punggung nya kau sakiti habis-habisan." Ucap Azka, Axel tediam cukup sudah kenapa semua orang malah membela Tiana?


"Aku tidak peduli toh orang tuanya sudah aku cukupi." Ucap Axel, Aiden mendecih mendengar perkataan Axel.


"Tiana sudah bekerja jika prediksi ku tidak salah dia akan menjamin kembali kehidupan mama nya, dan mengembalikan semua yang sudah di gunakan oleh orang tuanya. Lalu saat itulah kamu menjadi suami yang tak berguna!" Telak Aiden, kata-kata yang sederhana namun cukup membuat hati Axel mencelos. Aiden bangun dari duduknya dan pergi keluar dari ruangan itu dengan membanting pintu.


Alexi yang paham akan kemarahan kakak nya karena tidak bisa membuat Axel sadar menatap Axel dengan kecewa, Alexi menepuk pundak Axel membuat lelaki itu menoleh menatap nya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


A***: Jangan baik semua kudu ada yang ngeselin nya ye kan 😂


N: Dan itu terjadi kepada titisan Julian 😂


A: Tunggu ada saat nya Axel jatuh hati 😁


N: Akan ku tunggu dengan senang hati 😂


A: Kuatkan hati kalian para Uun ku, karena mungkin Axel akan menguras esmosi kalian 😂


N: Okhey-okhey 😂

__ADS_1


__ADS_2