Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 137


__ADS_3

Sesampainya di kantor Anes dan Aleta berjalan masuk dengan anggun, Azka yang juga baru tiba di kantor Axel dan Aleta pun tersenyum jahil saat melihat Aleta.


"Ngapai kamu senyum-senyum." Tegur Anes, dengan cepat Azka menetralkan wajah nya menjadi datar.


"Tidak, memangnya tidak boleh jika aku tersenyum." Ucap Azka, Anes menatap Azka dengan curiga.


"Bukan tidak boleh, hanya saja sejak kapan tuan muda Azka Artadinata suka menebar senyum." Ucap Anes, Azka menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Protes mulu si Anes, bilang aja ngiri kan gak ada yang senyum sama kamu." Goda Azka, Anes mendelik tajam kepada adik sepupu nya itu.


"Cih, tidak ada yang merasa iri." Ucap Anes, wanita itu pergi dari hadapan Azka.


"Kasian Titan belum apa-apa sudah kena omel." Ledek Aleta, Azka tersenyum jahil.


"CK, itu bukan masalah besar. Lagian beruntung si karena Anes aku jadi bisa ketemu kamu." Goda Azka, Aleta berdehem Azka selalu bisa membuat nya bungkam.


"Gak jelas banget si kamu." Ucap Aleta, Azka tertawa kecil.


Dari kejauhan terlihat Axel yang baru saja tiba, Axel melihat Azka dan Aleta. Lelaki itu menatap Aleta dengan tatapan mengejek.


"CK, masih pagi ngomong-ngomong sudah tebar kemesraan saja." Goda Axel.


"Ini anak kenapa si, dari tadi ngeselin banget." Ucap Aleta.


"CK, bilang papi kak. Pi anak gadis mu seperti nya akan melepaskan masa lajang." Ucap Axel, Azka dan Aleta mengernyit menatap Axel.


"Kamu seperti nya salah makan xel." Ucap Azka.


"CK, Axel tidak perlu di pedulikan." Ucap Aleta.


Wanita itu pergi meninggalkan Axel dan Azka yang masih berdiri disana, Azka menatap Axel yang sedang tersenyum tipis.


"Ada apa dengan kamu?" Tanya Azka.


"Tidak ada." Jawab Axel, lelaki itu berjalan menuju ruang kerja nya.


Azka terdiam melihat Axel yang pergi begitu saja, namun ia tak mempedulikan hal itu Azka berjalan mengikuti Axel.


Di tempat lain terlihat Alexi yang sedang sibuk dengan pekerjaan nya, namun tiba-tiba Aiden masuk kedalam ruang kerja nya.


Alexi mendongak menatap kakak nya, Aiden duduk begitu saja di sofa ruang kerja Alexi. Hal itu membuat Alexi sedikit bingung dengan apa yang sedang di pikirjan oleh kakak nya.


"Ada apa denganmu?" Tanya nya, Aiden menghela nafas lalu menatap Alexi.


"Aku sedang sedikit lelah." Ucap Aiden, Alexi mengernyit heran.


"Ada apa?" Tanya nya lagi, tak lama kemudian Arka masuk kedalam ruang kerja Alexi membuat kedua lelaki yang berada di dalam sana saling memandang.


"Ada apa denganmu?" Tanya Aiden, Arka mengusap wajah nya kasar.


"Bisakah aku mencari pengganti untuk menuruti setiap keinginan aneh ibu hamil." Ucap Arka, Alexi dan Aiden tercengang mendengar curahan hati Arka.


"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" Tanya Aiden, Alexi mengangguk ia juga merasa heran.

__ADS_1


"Kau tahu seperti nya anakku memiliki dendam pribadi terhadap papi nya, belum lahir saja sudah berhasil membuat aku dan Adelle selalu bertengkar." Ucap Arka, lagi-lagi Aiden dan Alexi dibuat bingung.


"Bagaimana maksudnya?" Tanya Alexi polos, Arka menghela nafas dan menatap Alexi.


"Adelle baru saja berkata jika dia ingin aku merubah warna rambut." Ucap Arka, Alexi tertawa mendengar perkataan Arka.


"Bagus kalau begitu, apakah kamu menuruti keinginan Adelle." Ucap Aiden, Arka menunduk lesu.


"Tentu saja tidak, yang benar saja aku merubah warna rambut." Ucap Arka.


"CK, kenapa tidak. Kau akan terlihat tampan begitu." Ucap Alexi, malah mengejek.


"Kau, kau benar-benar bahagia melihat saudaramu seperti ini." Ucap Arka.


"Tentu saja aku bahagia." Ujar nya, Aiden memukul tangan Alexi.


"Apa kau juga bahagia melihat kakak mu di kerjai setiap malam." Ucap Aiden, Alexi tersenyum manis dan mengangguk.


"Itu jauh lebih bahagia." Ucap nya, Aiden dan Arka menghela nafasnya.


"Alexi ingat kau juga akan menikah, bagaimana jika anak mu lebi meresahkan dari anak-anak kami." Ucap Arka, Aiden tersenyum jahil.


"Benar, bagaimana jika anakmu membuat Alea ingin berjalan-jalan dengan Haris." Ucap Aiden memanas-manasi.


"Belum lagi jika anak mu ingin Alea pergi dinner dengan Haris." Ucap Arka, Alexi menatap kesal Arka dan Aiden.


"Ini permintaan anakku atau permintaan kalian yang ingin memanas-manasi aku." Ucap Alexi, Aiden dan Arka tertawa.


"CK, itu semua bisa saja terjadi." Ucap Arka.


"Cih, lihatlah baru seperti itu saja kau sudah seperti ini." Kekeh Aiden, Arka menatap Alexi.


"Aku benar-benar tertekan dengan permintaan-permintaan aneh itu." Ucap Arka, saat ketiga orang itu sedang berbincang tiba-tiba saja Adelle muncul di antara mereka.


"Apa yang membuat kamu begitu tertekan sayang?" Tanya nya, Alexi, Aiden, dan Arka terkejut melihat kedatangan Adelle.


"S_sayang kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Arka gugup.


"Tadinya aku ke kantor kamu, dan sekretaris mau mengatakan jika kamu sedang pergi ke kantor Alexi." Ucap Adelle, Aiden dan Alexi menunduk menahan tawa nya.


"Untuk apa kamu mencari aku, hmmmmmm?" Tanya Arka.


"Aku merindukan kamu, dan kenapa kamu malah berada disini." Ucap Adelle, wanita itu mulai kesal kepada suami nya.


"Maaf sayang maafkan aku, baiklah ayo kita pergi." Ucap Arka.


"Tidak, kamu masih belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Adelle, Arka menelan saliva nya dengan sulit.


"Kami tidak ikut-ikutan Del, sungguh kami tidak tahu apa-apa." Ucap Aiden, Arka menatap Aiden.


"Benar, kami tidak tahu apa-apa. Kami hanya sedang berbincang tapi Arka tiba-tiba datang begitu saja." Ucap Alexi, Arka menatap Alexi dengan geram.


Bisa-bisanya mereka kompak disaat seperti ini, biasanya mereka berdua akan saling memojokkan.

__ADS_1


"Sayang bisa kamu jelaskan?" Tanya Adelle.


"Tidak ada apa-apa sayang percayalah." Ucap Arka, Adelle menghela nafasnya menatap Arka.


"Baiklah, karena aku sudah tahu kau ada disini. Maka aku harus pergi, mami meminta tolong aku untuk mengantar nya." Ucap Adelle, ketiga lelaki itu tercengang.


Bukankah baru saja Adelle mengatakan jika ia merindukan Arka, tapi kenapa sekarang Adelle malah langsung pergi lagi.


"Bukankah kamu merindukan aku?" Tanya Arka.


"Hmmmmmm, tapi aku hanya ingin tahu keadaan kamu saja." Ujar nya, Aiden tercengang mendengar perkataan Adelle begitupun dengan Alexi.


Baru kali ini Aiden merasa benar-benar beruntung karena anak nya tidak seperti anak yang sedang di kandung oleh Adelle, jika tingkah Vee sama seperti Adelle mungkin Aiden sudah botak karena pusing memikirkan nya.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Arka, Adelle tersenyum lalu pergi begitu saja.


"Anakku ternyata masih baik, dan tidak terlalu meresahkan." Ucap Aiden, Alexi tertawa meskipun ia belum menikah. Namun ia tahu jika kedua saudara nya sedang merasa tertekan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜Š


N***: Fiks Alexi jadi pendengar yang baik untuk para bapak-bapak πŸ˜‚


A: Bukan lagi, para bapak ngeluh nya ka Alexi Mulu πŸ˜‚


N: Beruntung Alexi kaga parno gitu kanπŸ˜‚


A: Ya kan itung-itung belajar nanti buat kalo udah nikah sama gue Uun 🀣


N: Keep dreaming Thor 😌


A: Jleb sekali epribadeh πŸ˜’

__ADS_1


N: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2