
Dua hari berlalu setelah pertemuan kedua keluarga, akhir-akhir ini Aiden suka sekali mengejek Anes. Ia sengaja selalu menebar kemesraan dengan Vee di hadapan adik nya, dengan harapan Anes ingin buru-buru menikah.
Seperti saat ini Aiden terlihat memanjakan Vee di ruang tengah, ia tahu jika Anes akan menghampiri mereka. Tidak hanya Aiden ada Alexi juga disana, Alexi hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"Kalian sedang apa?" Tanya Dena, wanita itu datang dan merasa heran dengan Aiden dan Alexi.
"Tidak ada, kami tidak sedang melakukan apapun." Jawab Aiden, Dena menatap kedua keponakan nya dengan intens.
"Aunty tidak percaya, pasti ada yang sedang kalian sembunyikan." Ucap Dena lagi, kedua keponakan nya itu masih saja menggelengkan kepala.
"Aunty dimana Ayaza?" Tanya Vee, wanita itu mendongak menatap wajah cantik Dena.
"Aya sedang keluar bersama El dan mom Dea." Ucap Dena, Vee mengangguk mungkin saja Aya ingin berjalan-jalan.
Setelah mengatakan itu tiba-tiba ada yang memeluk Dena dari belakang membuat Dena terkejut, Anes meletakkan kepalanya di pundak Dena.
"Aunty." Lirih Anes, Aiden Alexi, dan Vee menatap Anes yang sedang memeluk aunty Dena.
"Ada apa sayang." Balas Dena.
"Tidak bisakah aunty meminta mom and Daddy membatalkan perjodohan konyol ini." Lirih nya, Aiden dan Alexi mengernyit heran bukankah Anes sudah menyetujui nya.
"Kenapa bukankah kamu sudah setuju." Ucap Dena, Anes menghela nafasnya mengeratkan pelukannya.
"Bagaimana aku tidak menyetujui nya jika mereka menggunakan ancaman, lagian untuk apa mereka melakukan ini." Lirih nya, Dena tersenyum manis dan mengelus tangan Anes yang melingkar di tubuh nya.
"Untuk kebaikan kamu, bukankah kamu yang sering mengeluh jika Aiden sedang bermesraan dengan Vee. Setelah ini kamu tidak akan jomblo lagi." Ucap Dena, Aiden dan Alexi tertawa kecil.
"Tapi kenapa harus lelaki itu, dari sekian banyak nya laki-laki kenapa harus dia." Ucap Anes, Dena tertawa kecil membuat Anes mengernyit heran.
"Karena hanya dia yang memenuhi kriteria para keluarga." Ucap Dena, Anes tercengang mendengar perkataan Dena.
"Ini benar-benar tidak adil, dia bahkan suka sekali membuat aku kesal." Ucap Anes, Aiden menatap Vee lalu menatap Dena.
"Rasa kesal kamu itu nanti akan berubah menjadi cinta percayalah." Ucap Aiden, Anes menatap kakak nya dengan datar.
"Aku bukan kakak yang akan muda luluh, dan dia bukan Vee yang selalu bersikap lembut." Ucap Anes, semuanya tertawa kecil mendengar perkataan Anes.
"Cih, sudahlah lebih baik aku ke kamar ayok sayang." Ucap Aiden, lelaki itu merangkul pundak Vee dan mengajak nya pergi.
Anes menatap kepergian Aiden dan Vee, ia ingin memiliki pasangan seperti Aiden atau Alexi yang begitu menyayangi Vee dan Alea.
Namun sepertinya takdir Anes tidak seberuntung kedua wanita itu, Anes malah di hadapkan dengan lelaki yang selalu membuat nya emosi.
...
Keesokan paginya Vee bangun lebih dulu ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, saat Vee melepaskan pakaiannya tiba-tiba Aiden masuk dan memeluk Vee dari belakang.
Vee terkejut melihat kehadiran Aiden, ie mencoba melepaskan pelukan sang suami dari tubuh nya.
__ADS_1
"Sayang lepas." Ucap Vee.
"Tidak aku tidak akan melepaskan kamu." Ucap Aiden, Vee menghela nafasnya lalu menatap Aiden dari pantulan cermin.
"Kenapa?" Tanya Vee.
"Masih bertanya kenapa, tentu saja aku rindu sayang." Ucap Aiden, Vee tertawa kecil mendengar perkataan suaminya.
Wanita itu membalikkan tubuhnya dan membuat Aiden menelan saliva nya dengan sulit, tubuh Vee terlihat semakin se*si dan berisi membuat Aiden tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari keindahan tubuh istrinya.
"Mata nya kedip pak mon maap." Ucap Vee, Aiden menggelengkan kepalanya.
"Gabisa sayang ini terlalu mubazir jika di lewatkan." Ucap Aiden, Vee mendengus mendengar perkataan Aiden.
"Emang dasarnya mes*m mah mes*m aja." Ucap Vee, Aiden tersenyum dan langsung menyerang Vee.
Lelaki itu mendudukkan Vee di atas wastafel, ia terus mel*mat b*b*r Vee dengan lembut. Tak hanya itu tangan Aiden juga bergitu ahli bergerak kesana-kemari membuat Vee melayang.
"Sa_sayang, akkk*hhh." Des*h nya, Aiden tersenyum senang mendengar suara merdu istrinya.
Tak butuh waktu lama merekapun melakukan nya, Vee benar-benar dibuat olahraga oleh Aiden. Setelah keduanya merasa puas tubuh Vee ambruk di atas tubuh Aiden, lelaki itu tersenyum manis dan mengecup kening Vee.
"Terimakasih." Bisik Aiden, wajah Vee merona dan menyembunyikan wajahnya di leher Aiden.
"Hmmmmmm." Jawab Vee, Aiden tertawa kecil dan langsung mengangkat tubuh Vee kedalam bathub.
Kedua orang itu berendam bersama, sementara yang lain sudah menunggu di meja makan. Mereka hanya tinggal menunggu Vee dan Aiden untuk sarapan.
"Sayang sarapan dulu, kamu makan duluan tidak apa-apa." Ucap Dena.
"Tidak aku makan di kantor saja." Ujar nya, Ayaza memegang tangan Anes membuat wanita itu menoleh.
"Kakak makan dulu Aya akan makan duluan untuk menemani kakak." Ucap nya, Anes tersenyum dan mengelus kepala Ayaza.
"Kamu makan saja kakak akan makan di kantor." Ucap Anes mengecup pipi Ayaza.
"Kalau begitu minumlah susu nya kakak belum makan apapun." Ucap nya, El menatap Ayaza yang memberikan perhatian kepada Anes.
"Hmmmmmm, baiklah aku akan meminum susu nya untuk kamu." Ucap Anes, wanita itu meneguk segelas susu yang diberikan oleh Ayaza sampai habis.
Melihat Anes yang menghargai sebuah perhatian kecil dari Ayaza membuat Rafael tersenyum tipis, semuanya ikut tersenyum ini kali pertama mereka melihat senyum manis Rafael setelah datang ke tanah air.
"Habis, kalau begitu aku pergi dulu. Kamu baik-baik dirumah oke." Ucap Anes, Ayaza mengangguk dan tersenyum.
Anes berlari kecil menuju keluar ia ingin buru-buru sampai ke kantor, saat Anes masuk kedalam mobil nya ponsel Anes berdering.
Ia menghela nafasnya saat tahu nama si penelepon, Anes menjawab panggilan itu.
***Panggilan telepon...
__ADS_1
Deandra***: Kamu dimana? Cepat jemput saya sekarang saya ada meeting pagi.
Anes: Tidak mau, lagi pula apa hubungannya saya dengan meeting kamu.
Deandra: Kamu masih menjadi supir saya kalau kamu lupa, jadi cepat jemput saya sekarang.
Anes: Cih, saya calon istri kamu kalau kamu lupa. Jadi pergi saja sendiri lagian saya tidak peduli (terpaksa mengakui).
Deandra: CK, saya tidak pernah menganggap kamu sebagai calon istri saya, jadi tidak usah banyak bicara dan cepat jemput saya (berbicara datar).
Anes: Tidak mau saya bukan supir kamu ingat itu!
Deandra: Aneska saya bisa telat, cepat Jemput saya.
Anes: Tidak peduli, lagi pula itu masalah kamu bukan masalah saya. Jadi cari saja supir yang lain (ngeyel).
Setelah itu Anes langsung mematikan panggilan telepon nya, ia melempar ponselnya kesembarang arah.
Anes merasa kesal kepada Deandra, lihat saja lelaki itu tidak akan pernah tenang selama dia masih mengganggu kehidupan Anes.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***: Part ini nano-nano sekali epribadeh 😂
A: Serba ada ye kan 🤣
N: Iya banget, Thor nambah part apa 😁
__ADS_1
A: Nanti kalo author udah dapet pencerahan ye 😂
N: Ngokhey dah, cepet-cepet dapet pencerahan ya 😂