
Aiden berjalan masuk kedalam kamar nya, saat membuka pintu Aiden melihat istri cantik nya baru keluar dari kamar mandi. Aiden mengernyit karena waktu sudah sangat malam, kenapa Vee belum juga tidur.
Dan lihat ada apa dengan wajah nya kenapa terlihat masam seperti itu, semenjak hamil mood Vee mudah sekali berubah. Mudah marah dan mudah menangis.
"Sayang kamu belum tidur?" Tanya Aiden, Vee hanya menggelengkan kepalanya lalu naik kembali ke atas tempat tidur.
"Apa ada yang kamu inginkan?" Tanya Aiden lagi.
"Tidak." Jawab Vee, Aiden bingung bagaimana mengembalikan mood sang istri.
Daripada banyak bertanya dan malah membuat Vee semakin kesal akhirnya Aiden memutuskan untuk naik ke atas tempat tidur, Aiden ikut berbaring di belakang Vee dan memeluk Vee dari belakang.
"Baby nya rewel?" Tanya Aiden, tangan lelaki itu mengelus perut Vee mencoba memberikan kenyamanan.
"Hmmmmmm." Jawab Vee, padahal baby nya sama sekali tidak rewel. Vee hanya kesal ia tidak bisa tidur tanpa Aiden, Vee tidak marah karena Aiden berkumpul bersama saudara nya. Justru Vee merasa kesal kepada dirinya sendiri, ia takut para keluarga berfikir jika Vee ingin memiliki Aiden sendiri.
"Sayang nya Daddy jangan rewel nak, kasihan mommy lelah ingin istirahat." Ucap Aiden.
"Daddy temani sampai baby tidur ya, agar mommy juga bisa tidur dengan nyenyak." Ucap Aiden, mendengar perkataan Aiden membuat Vee tersentuh dan semakin jatuh cinta kepada suaminya.
Vee membalikan tubuhnya dan memeluk Aiden hingga keduanya saling berpelukan, Aiden tersenyum lalu mengecup puncak kepala Vee dengan penuh sayang.
"Tidurlah." Ucap Aiden.
"Jangan pergi lagi." Lirih Vee, Aiden mengernyit lalu tersenyum.
"Tidak akan, aku akan disini bersama kamu dan baby. Maaf tadi aku pergi meninggalkan kamu sendirian." Ucap Aiden, Vee menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, aku_aku hanya tidak bisa tidur tanpa kamu." Ucap Vee, Aiden tertawa kecil lalu memegang dagu Vee hingga Vee mendongak dan menatap mata indah suaminya.
Mata yang selalu membuat Vee merasa tenang dan aman saat keduanya saling bertatapan, mata yang selalu menghipnotis Vee. Entahlah Vee begitu mencintai mata suaminya, mata yang membuat Vee jatuh cinta pertama kali.
Karena mata itu selalu memberikan tatapan tajam, tatapan dingin, tatapan lembut, tatapan penuh sayang hingga tatapan cinta.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi oke, sekarang tidurlah kamu pasti lelah." Ucap Aiden, ia mengecup b*b*r Vee dengan lembut membuat Vee tersenyum senang.
Vee pun kembali memeluk Aiden dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aiden, agar Vee bisa tidur dengan cepat Aiden mengusap punggung Vee dengan lembut.
__ADS_1
....
Sementara itu di tempat lain terlihat dua orang lelaki yang berstatus sebagai ayah dan anak sedang duduk bersama, disaat yang lain memilih beristirahat tidak dengan Dio dan Azka.
Selama ini Dio cukup memperhatikan Azka yang selalu menghindar dari Lolita lalu mengganggu Aleta, bukan masalah dari kecil memang Azka selalu mengganggu dan membuat Aleta kesal.
Yang Dio khawatir jika Lolita akan berfikir buruk tentang Aleta hanya itu, Dio menyayangi Aleta seperti ia menyayangi Anes dan Adelle.
"Papi sudah tidak ingin mendengar alasan apapun itu dari kamu boy, kamu harus segera menyelesaikan semua ini." Ucap Dio.
"Pi Azka masih harus memastikan semuanya." Ucap Azka.
"Itu bukan urusan papi, selama ini papi cukup sabar menunggu kamu memastikan hubungan kamu boy." Ucap Dio lagi.
"Pi come on, kenapa papi jadi seperti mami." Protes Azka.
"Jika papi tidak seperti ini berapa lama lagi kamu akan menggunakan kata memastikan hmmmmmm, ingat papi tidak pernah mengajarkan kamu untuk mempermainkan wanita." Ucap Dio.
Azka menghela nafasnya dan memijat pelipisnya yang terasa pusing, ini tidak mudah seperti apa yang dibayangkan.
"Aku tidak mempermainkan wanita Pi." Ucap Azka tak terima, sejak kapan Azka main wanita selama ini kekasih nya hanya Lolita.
"Baik Azka akan selesaikan secepatnya, Azka juga tidak ingin terikat oleh wanita yang tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan seorang lelaki." Ucap Azka membuat Dio mengernyit, kenapa jadi Azka yang merasa tidak di hargai.
"Kenapa jadi kamu yang merasa tidak di hargai." Ucap Dio sedikit kesal, jelas-jelas Azka yang selalu menghindar dari Lolita.
"Ku sudah bilang bukan aku masih butuh waktu untuk memastikannya, tapi papi dan mami tidak ingin menerima apapun yang aku katakan. Yasudah aku akan melakukan hal itu, aku juga sudah muak dengan semua ini." Ucap Azka, Dio diam sepertinya memang benar Azka sedang mencari tahu sesuatu.
"Baiklah lakukan apapun yang kamu mau boy, lakukan asal itu membuat kamu bahagia." Ucap Dio menepuk pundak Azka, setelah itu Dio berjalan naik menuju kamar nya.
Azka menatap kepergian papi nya lalu mengusap wajah nya dengan kasar, Azka mendongak menatap langit-langit ruangan.
"Sudahlah Azka jangan pernah mengingat bagaimana kamu berjuang untuk mendapatkannya, tapi ingatlah seberapa besar dia tidak menghargai kepercayaan yang sudah kamu berikan." Gumam nya, setelah merenung Azka memutuskan untuk pergi ke kamar nya.
Ia merasa sangat lelah hari ini dan ingin mengistirahatkan tubuh nya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N**: Maaakkkkk pen nikah Mak, pen punya suami kaya Aiden π*
A: Uun korban hallu π
N: Andai Aiden punya gue, udah pasti gue kurung itu Thor π
A: Heh, Aiden punya gue btw π
N; Aiden apa Alexi si? π
A: Kalo bisa dua kenapa harus satu Uun π
N: Heh, Maruk sekali miskahπ
A: Suka-suka gue π
N: Hilih π
__ADS_1
A: πππ