Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 149


__ADS_3

Siang hari saat sedang bekerja Anes mendapatkan pesan masuk di ponsel nya, Anes melirik sekilas ia tak mempedulikan tentang hal itu.


Apalagi saat Arka masuk kedalam ruang kerja nya, hal itu semakin membuat Anes melupakan ponselnya yang sejak tadi menyala.


"Arka." Sapa Anes, Arka menatap Anes lalu duduk di sofa ruang kerja Anes.


"Sibuk tidak?" Tanya Arka.


"Tidak terlalu, ada apa." Balas Anes, Arka menghela nafasnya.


"Aku ingin bicara sebentar." Ucap Arka.


"Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan." Ucap Anes, Arka mengangguk dan menatap


Anes.


"Ada hubungan apa Aleta dan Azka?" Tanya nya, Anes mengernyit heran mendengar pertanyaan Arka.


"Mana aku tahu, aku tidak mengurusi mereka." Jawab Anes, Arka menatap Anes dengan intens.


"Bukankah kamu dekat dengan Aleta, tidak mungkin jika dia tidak cerita kepada kamu." Ucap Arka, Anes menghela nafasnya.


"Arka dengar, aku memang dekat dengan Aleta tapi bukan berarti aku harus tahu semua hal tentang dia. Aleta memiliki privasi yang tidak harus aku tahu, lagi pula kenapa kamu menanyakan tentang ini." Ucap Anes, Arka menghela nafasnya.


"Aku ingin Azka segera menikah, agar ia tahu rasanya jadi suami dan sulitnya menghadapi mood ibu hamil. Selama ini dia selalu mengejek aku yang terus dibuat pusing oleh Adelle." Jawab nya, Anes tercengang mendengar perkataan Arka.


"Kau g*la, pernikahan bukan permainan jangan macam-macam Arka. Lagian jika mereka memang memiliki hubungan pasti mereka akan mengatakan nya sendiri." Ucap Anes.


"Kenapa tidak kamu selidiki saja." Ucap Arka, Anes menatap Arka dengan malas.


"Jangan menambah bebanku Arka." Ucap Anes, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


(Jangan aneh-aneh Arka jangan menambah bebanku, aku sudah diberi beban menjadi supir dadakan. Dan kau meminta aku untuk menjadi mata-mata, kenapa tidak sekalian saja minta jadi kang kacang kuwaci permen.) Batin Anes, sesaat Anes mengalihkan pandangan kepada ponsel.


"Yasudah kalau begitu, aku pamit dulu." Ucap Arka, Anes mengangguk ia memastikan jika Arka benar-benar pergi.


Setelah itu barulah Anes membuka pesan masuk ke ponsel nya, ada banyak pesan yang masuk ke ponsel Anes.


***Pesan chat...


08xxxxxx***: Kenapa sulit sekali menghubungi kamu, jemput aku sekarang!


08xxxxxx: Apakah kau tidak mendengar, aku beri kamu waktu tiga puluh menit. Jika belum sampai juga aku akan datang kerumah mu!


08xxxxxx: Jawab pesan ku, kenapa kau hanya diam saja.


Anes tercengang mendapatkan banyak pesan masuk, dengan cepat ia mengambil tas nya dan berlari keluar ruangan.


Anes buru-buru jalan ke parkiran dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sambil menyetir Anes menyumpah serapahi lelaki itu.


"Aku tidak ingin menjadi supirmu kau tahu, menyebalkan sekali." Gumam Anes, dengan cepat Anes memarkirkan mobilnya di depan restoran mewah.


"Kau telat 15 menit." Ucap nya memasuki mobil Anes.


"Aku hanya terlambat 15 menit, tidak lebih." Ucap Anes.


"Meskipun hanya 15 menit itu juga waktu, sekarang antarkan aku ke kantor." Ucap nya, Anes mendecih.

__ADS_1


"Dasar pelit." Gumam Anes.


"Apa katamu." Sengit nya, Anes hanya diam ia malas menjawab.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama akhirnya merekapun tiba di sebuah perusahaan besar yang menjulang tinggi, Anes menatap bangunan itu dengan sedikit berpikir.


"Turun." Ucap Anes, lelaki itu menatap Anes datar.


"Kau mengusirku?" Tanya nya.


"Kau tidak lihat jika kita sudah sampai." Ucap Anes, lelaki itu menatap bangunan di hadapan nya lalu turun dari mobil Anes.


Anes tidak ikut turun namun seseorang membuat dirinya terpaksa harus turun, Anes menatap wanita paruh baya itu.


"Kenapa kau baru sampai?" Tanya nya kepada lelaki itu.


"Ma aku tidak membawa mobil tadi jadi_" Ucap nya terhenti.


"Kau memintanya untuk menjemput kamu." Ucap sang mama, lelaki itu mengangguk.


Mama berjalan mendekati mobil dan mengetuk kaca mobil, membuat Anes menoleh dan memubuka kaca mobil nya.


"Ada apa nyonya?" Tanya Anes sopan.


"Kenapa tidak ikut turun." Balas wanita itu.


"Tidak, aku masih banyak urusan." Jawab Anes.


"Tidak bisakah mampir sebentar saja." Ujar nya, Anes keluar dari mobil dan menatap wanita itu.


"Lain kali aku akan mampir, untuk hari ini aku harus pergi lebih dulu." Ucap Anes menjelaskan, wanita paruh baya itu menatap Anes dengan lembut.


Anes melajukan mobilnya dan berlaku menjauh, setelah kepergian Anes wanita itu menatap putranya yang pergi begitu saja.


"Pergi temui papa mu dia sudah menunggu di ruangan nya." Ucap wanita itu.


"Hmmmmmm." Jawab nya santai, ia berjalan menuju ruang kerja papa nya.


Setelah masuk kedalam ruang kerja ia melihat lelaki yang sedang duduk di kursi kebesaran nya, ia duduk di sofa tanpa di suruh.


"Mau sampai kapan kau menjauhi setiap wanita yang papa kenalkan?" Tanya lelaki paruh baya itu.


"Pa aku bisa mencari pasangan ku sendiri." Jawab nya.


"Jadi kapan kau akan membawa pasangan pilihanmu ke hadapan papa?" Tanya nya lagi.


"Pa come on, kenapa harus membahas hal-hal seperti ini. Aku bisa memilih pasangan ku sendiri papa tak perlu khawatir." Ucap nya.


"Pasangan seperti apa yang bisa kau dapatkan, yang suka foya-foya dan hanya menyukai uangmu." Ujar nya, membuat putranya itu jengah.


"Pa berhenti mengatakan hal-hal seperti itu, aku bosan mendengar papa yang selalu mengatakan hal itu." Ucap nya mulai terpancing emosi.


"De tenangkan dirimu." Ucap sang mama.


"Pada kenyataannya wanita yang dekat dengan kamu kebanyakan bukan wanita baik-baik, kau harus tahu bagaimana keluarga kita." Ucap sang papa.


"Papa selalu memikirkan keluarga dan nama baik, padahal papa tahu jika aku tidak mungkin mengecewakan papa dan merusak nama baik keluarga." Ucap nya.

__ADS_1


"Buktikan kalau begitu." Ucap sang papa.


"Pa sudah jangan bertengkar lagi." Ucap mama.


"Ya, akan aku buktikan." Ucap nya.


"Jika kau gagal, maka kamu harus menerima wanita pilihan papa dan mama." Ucap nya.


"Cih, papa selalu egois." Balas lelaki itu.


"Deandra Gavriel, papa melakukan semua ini untuk kebaikan kamu." Ucap papa.


Deandra Gavriel, ya lelaki itu bernama Deandra putra tunggal keluarga Gavriel. Deandra satu-satunya ahli waris keluarga Gavriel, ia memiliki satu kakak sepupu yang tinggal bersama dengan keluarga nya.


"Terserah." Ucap Deandra berlalu pergi begitu saja.


Sementara mama dan papa Dean hanya bisa menghela nafasnya, mereka tahu bagaimana sikap Deandra.


"Pa jangan memaksa nya terus, apa papa tidak kasihan kepada Deandra." Ucap mama.


"Bukan seperti itu ma, selama ini papa sudah memberikan kebebasan kepada Dean." Ucap papa Deandra.


Ya, memang kenyataannya seperti itu saat papa meminta Deandra untuk mengelola perusahaan nya lelaki itu menolak. Dan lebih memilih mendirikan perusahaan nya sendiri, sampai ia menjadi pembisnis handal di usia muda.


Bahkan perusahaan Deandra sudah sama besarnya dengan perusahaan milik sang papa, hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi orang tua Deandra.


Selain mandiri ia juga berhasil sukses, namun dibalik itu Deandra selalu gagal dalam urusan asmara nya. Ia sering di khianati oleh kekasihnya, orang tua Dean sudah merasa jengah dengan putranya yang selalu salah memilih wanita.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Si Anes emang paling beda 😂*


A: Beda banget emang, diamah ga klepek-klepek liat laki ganteng 😂


N: Gimana mau klepek-klepek kalo Abang sama adek nya serbuk berlian semua 😭


A: Liat yg ganteng udah biasa aja ye kan, udah kenyang tiap hari dapet asupan kegantengan dari Abang sama adek 😂


N: Jangan lupakan Daddy nya yang tak kalah ganteng 😭

__ADS_1


A: The real bibit unggul 😂


N: Asli 😂😂😂


__ADS_2