
Waktu begitu cepat berlalu di sebuah malam yang gelap dengan hujan yang begitu lebat Tiana baru keluar dari toko tempat nya bekerja, wanita itu menatap nanar air hujan yang berjatuhan ke bumi.
"Na kamu mau pulang ini masih hujan." Ucap ibu pemilik toko, Tiana menoleh dan menatap ibu itu dengan tersenyum manis.
"Tidak apa-apa bu saya bisa pesan taksi." Ujar nya, ibu pemilik toko itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Enggak loh na ibu khawatir kamu anak perempuan masa pulang sendirian, suami kamu gak bisa jemput kah?" Tanya ibu pemilik toko, Tiana menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Enggak Bu dia sedang sibuk." Jawab nya berbohong, padahal Tiana sendiri tidak tahu Axel sedang apa.
"Yasudah kalau begitu kamu pulang bareng ibu saja ya, kebetulan anak ibu sedang ada di rumah dan mau menjemput ibu." Ujar nya.
"Enggak bu gak usah Tiana bisa pulang sendiri." Ujar nya, ibu pemilik toko tersenyum dan merangkul pundak Tiana.
"Gak perlu sungkan loh na kaya sama siapa saja." Ucap ibu, tak lama kemudian mobil terlihat mewah datang dan berhenti tepat di hadapan ibu dan Tiana.
"Ma maaf Lion telat tadi ketiduran sebentar." Ujar nya tertawa kecil.
"Ya kamu ini kebiasaan sudah tahu jarang di rumah sekalinya di rumah tidur terus." Ucap ibu pemilik toko, Lion tertawa kecil dan mengajak mama nya untuk masuk kedalam mobil.
"Yasudah ayok ma." Ucap Lion.
"Eh ini bisa kamu tolong mama untuk sekalian mengantar Tiana?" Ujar nya, Tiana menunduk membuat Lion mengangguk dan tersenyum manis.
"Tidak masalah." Ucap Lion, lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Tiana dan mama nya.
Biar saja hari ini ia terlihat seperti seorang supir yang penting sang mama senang begitulah isi pikiran Lion, setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka berhenti di depan gerbang utama yang menjulang tinggi.
Ibu pemilik toko tercengang melihat rumah yang begitu besar begitupun dengan Lion, lelaki itu mengernyit heran jika Tiana tinggal di rumah besar nan megah lalu untuk apa wanita itu harus bekerja?
Ah ya, Lionel adalah seorang direktur di perusahaan besar di luar negara lelaki itu baru saja kembali seminggu yang lalu karena ada urusan pekerjaan di tanah air.
"Bu tuan terimakasih karena sudah berkenan mengantar saya, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Tiana, Lion dan mama nya mengangguk dan tersenyum manis kepada Tatiana.
Saat Tatiana turun ke mobil Lion bertepatan dengan mobil Axel yang baru saja tiba di depan gerbang, Lionel menatap Axel yang keluar dari mobil dan menatap Tiana.
"Pulang sama siapa kamu?" Tanya Axel, Tiana tak menjawab dan langsung meminta penjaga gerbang untuk membukakan gerbang nya.
"Pak tolong buka gerbang nya." Ucap Tiana.
"Baik nona." Ujar nya, Tiana basah kuyup begitupun dengan Axel yang menatap Tiana masuk kedalam rumah.
Sebenarnya Axel sudah beberapa kali melihat Tiana di dekati oleh laki-laki, namun baru kali ini Axel melihat jika istrinya begitu berani di antar sampai depan gerbang oleh seseorang.
"Aaaa mami perut aku sakit mi." Teriak Aleta, ya ini sudah masuk bulan ke sembilan dari kandungan nya.
"Kakak ." Pekik Tiana yang berlari menghampiri Aleta, kedua wanita yang sedang heboh itu tertegun melihat Tiana dan Axel yang basah kuyup.
__ADS_1
"Apa kalian habis bermain hujan-hujanan?" Tanya mami.
"Ti_tidak, ada apa dengan kakak." Ujar nya.
"Na anak aku sudah mau keluar na aaaa mami huaaaaa, Azka cepat ka anak kamu bisa brojol disini nanti kan gak lucu." Teriak Aleta, Axel menggelengkan kepalanya melihat Aleta.
"Iya sayang ini aku sudah menyiapkan semuanya." Ucap Azka.
"Mi." Lirih Tiana, Mae menatap Tiana dengan sendu beberapa bulan ingin jarak antara Tiana dan Axel semakin menjauh Mae merasa sedih akan hal itu.
"Kamu bersih-bersih dulu jika ingin ikut kerumah sakit kamu bisa meminta supir untuk mengantar kamu." Ucap Mae, mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
"I_iya ma." Ucap Tiana, Azka menggendong tubuh Aleta dalam hati sedikit protes kenapa anaknya tidak tahu waktu ingin keluar saat hujan lebat seperti ini.
"Ka cepat ya yaampun pinggangku berasa patah." Desis Aleta.
"Sabar sayang sabar." Ucap Azka.
"Sabar-sabar palamu pitak perutku sakit ini Azka yaampun." Teriak Aleta, Mae tertawa geli melihat Aleta yang memaki suaminya.
Sesampainya di rumah sakit Aleta langsung dibawa keruang bersalin, Azka mendudukan tubuh nya ia merasa gemetaran saat melihat Aleta yang kesakitan.
"Ka kamu ngapain disini?" Tanya Mae.
"Ya aku harus kemana mi?" Ucap Azka.
"Mi jantung Azka mau lepas mi, bisa gak mami gantiin Azka." Ujar nya, Mae mendengus mendengar perkataan menantunya.
"Kamu pas buat aja gak minta mami buat gantiin kamu, kenapa pas lahiran minta mami gantiin buat nemenin Aleta." Ucap Mae, Azka tertawa kecil mendengar perkataan mami mertua nya.
"Mi kalau pas buat Azka minta gantiin ke mami itu cebong gak akan ada di perut Aleta." Ujar nya, Mae mendengus dan meminta Azka untuk menemani Aleta.
"Cepat temani istri kamu ka." Ucap Mae, Azka pun mengangguk dan masuk kedalam ruang bersalin.
"Sayang kamu kuat ya kamu pasti bisa." Ucap Azka.
"Ka ini sakit banget ka hiks." Ucap Aleta mencengkeram erat tangan Azka.
"Sayang sakit." Desis Azka, Aleta memelototkan matanya.
"Kamu pikir aku gak sakit apa hah, aku harus keluarin satu manusia di tubuh aku." Ucap Aleta, Azka pasrah saat dirinya terkesan seperti sedang di an*aya oleh istrinya.
Sementara dokter hanya menahan tawa saat sesekali Azka meringis kesakitan, hingga akhirnya suara tangis bayi terdengar begitu nyaring di telinga Azka dan Aleta.
"Tuan bayinya sudah keluar dengan selamat." Ucap dokter, Aleta melepaskan cengkraman nya dan membuat Azka merosot terduduk di lantai.
"Asssh." Desis Aleta saat seseorang melakukan pembersihan setelah melahirkan.
__ADS_1
"Sayang terimakasih banyak atas semuanya." Lirih Azka, Aleta mengangguk dan tersenyum manis kepada Azka.
"Tuan anak anda laki-laki dan ini sudah saya mandikan." Ucap dokter, Azka mengambil bayi mungil itu dan mengadzani putranya.
Aleta terlihat menitihkan air matanya saat mendengar Azka yang sedang mengadzani putranya, ia benar-benar tak menyangka jika saat ini dirinya benar-benar menjadi seorang mami.
Setelah semuanya selesai Aleta di pindahkan ke kamar rawat, Mae menatap sendu bayi mungil nan tampan itu.
"Ganteng kan mi produk Artadinata tidak akan pernah gagal." Ujar nya bangga, Mae tertawa kecil mendengar perkataan Azka.
"Ganteng si ka, semoga kelakuan nya tidak seperti kamu dan Aleta." Kekeh Mae, membuat sepasang suami istri itu mendengus mendengar nya.
"Mau kamu namai apa?" Tanya Julian yang sudah tiba di rumah sakit.
"Leonard Artadinata, Pi biar gampang kalo manggil gausah ribet-ribet." Ucap Azka, Julian hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil mendengar perkataan menantunya yang satu ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Anak Azka dan Aleta
Baby Leonard Artadinata
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***; Akhirnya lahiran juga 😂
A: Brojol ya un 😁
N: Iya Thor 😂
__ADS_1