Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 167


__ADS_3

Sepulang dari mall Alexi menatap Anes yang hanya diam membisu, Anes yang duduk di kursi belakang bersama dengan Adelle hanya bisa menatap heran adiknya.


"Kamu kenapa liatin aku kaya gitu?" Tanya Anes.


"Tadi tuh gimana ceritanya sampai itu tusuk sate ganggu kamu." Ucap Alexi, Adelle mengulum bibir nya menahan tawa.


"Ya mana aku tahu, orang dia tiba-tiba muncul kaya tuy*l kok." Ucap Anes, Alexi tertawa kecil mendengar perkataan Anes.


"Terus kenapa baju kamu sampai basah seperti itu?" Tanya Alexi lagi.


"Ya karena dia siram aku lah Alexi, kamu pikir aku nyemplung kedalam gelas gitu sampai baju basah dan kotor seperti itu." Cerocos Anes, Alexi menghela nafasnya dan tiba-tiba senyum jahil muncul di bibirnya.


"Tadi Deandra kan yang nolong kamu, sudah seperti pangeran tanpa kuda." Ceplos nya.


"Mon maap pangeran tanpa sayap kali ya." Ucap Adelle, Anes hanya menghela nafasnya saja melihat kelakuan Adelle dan Alexi.


"Ya mungkin si." Kekeh Alexi, Adelle tertawa renyah membuat Anes kesal dengan tingkah keduanya.


Saat tiba di rumah Azka dan Aleta melihat Anes, Adelle, Vee, Aiden dan Alexi yang datang secara bersamaan.


Aleta yang kebetulan berada di kediaman Justin pun mengernyit heran, kenapa wajah Anes terlihat kusut seperti itu.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Dena.


"Habis perang dia aunty." Ledek Aiden.


"Hah?" Tanya Dena.


"Diem apa kak." Ucap Anes, Dena memperhatikan penampilan Anes.


"Perasaan tadi waktu pergi kamu gak pakai baju ini." Ucap Dena.


"Yeee, dibilang Anes habis perang gak percaya." Kekeh Aiden.


"Kakak kenapa?" Tanya Rafael, membuat semua orang tercengang mendengar suara Rafael.


Selama datang kesini El jarang sekali berbicara, bahkan ia hanya akan berbicara saat bersama Ayaza, mommy dan Daddy nya saja.


El lebih suka berdiam diri di kamar, atau ikut sang Daddy ke perusahaan cabang nya. Kadang ia juga menemani adiknya berjalan-jalan, bukan kah Rafael sosok kakak impian semua orang.


"Habis perang di resto." Jawab Anes, membuat El mengernyit heran.


Anes menatap wajah Rafael yang tampan tiada tara, ia kadang bingung Dena itu waktu hamil ngidam apa sampai memiliki anak setampan Rafael.


"Apakah ada yang menggangu kakak?" Kali ini Ayaza yang bertanya.


"Za sering-sering bicara apa suara kamu indah banget." Goda Azka.


"Azka ngada-ngada ini orang, ingat hey udah mau nikah kamu." Ucap Anes, Azka tertawa kecil.


"Becanda elah serius amat si nes." Kekeh Azka.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya Dea.


"Mommy." Lirih Anes manja, ia memeluk mommy nya.


"Ada apa hmmm?" Tanya mom Dea.


"Anes tadi di ganggu sama mantannya Azka, Anes disiram juga." Ujar nya, Azka terbelalak mendengar perkataan Anes.

__ADS_1


"Hah? Siapa Lolita?" Tanya mom Dea.


"Hmmmm." Jawab nya.


"Kenapa dia sampai siram Anes?" Tanya mom Dea.


"Dia ngata-ngatain Aleta dan Adelle mom, Anes gak terima lah Aleta dan Adelle di kata-katain. Anes kesel ya Anes balas semua perkataan dia." Ucap Anes.


"Pasti kamu balas nya pake kata-kata mutiara kan nes." Ceplos Axel, membuat Anes menoleh.


"Pake pidato si bukan kata-kata mutiara lagi." Balas Anes.


"Lolita juga hampir saja mukul kepala Anes pakai gelas_" Ucap Aiden terhenti, saat Dena menarik tubuh Anes.


"Kamu ada yang luka? Apa yang sakit bilang sama aunty." Ucap Dena, Aiden memutar bola matanya malas.


"Aunty plis ya Aiden belum selesai ngomong." Ucap Aiden, semuanya tertawa kecil melihat itu.


"Oh, lanjutkan." Ucap Dena simple.


"Iya jadi Anes hampir celaka, untung saja ada Deandra yang datang dan menggagalkan rencana Lolita." Ucap Aiden, Dena dan mom Dea menatap Anes.


Mereka semakin yakin jika Deandra adalah orang yang tepat untuk Anes, mom Dea berencana untuk mencari keberadaan Lolita.


"Mommy harus memberikan pelajaran kepada Loly." Ucap mom Dea.


"Gak perlu Deandra sudah mengurus semuanya." Ucap Aiden, mom Dea dan Dena pun saling memandang.


...


Sore hari nya Azka memutuskan untuk menemui Deandra, ya disinilah Azka berada di depan gedung perusahaan yang menjulang tinggi.


"Tuan muda Gavriel." Sapa Azka.


"Hmmm, tuan muda Artadinata." Balas Deandra sedikit bingung, apakah ia memiliki janji dengan Azka? Tapi sepertinya tidak.


"Apa saya mengganggu waktu anda?" Tanya Azka.


"Tidak, saya baru saja akan pulang. Apa ada sesuatu yang ingin anda katakan." Ucap Deandra.


"Ya, maaf sebelumnya saya hanya ingin bertanya dimana anda menghukum Lolita?" Tanya Azka.


"Lolita?" Tanya Deandra, dia memang tidak tahu siapa nama wanita itu. Yang ia tahu hanya sekedar sebutan tusuk sate yang diberikan oleh Alexi.


"Maksud saya wanita hamil yang menyerang Anes." Ucap Azka, Deandra mengangguk dan menatap Azka.


"Anda mengenal nya?" Tanya Dean.


"Ya, saya mengenal nya." Ucap Azka.


"Baiklah, jika anda ingin bertemu dengannya ikuti mobil saya." Ucap Deandra, Azka mengangguk dan mengikuti mobil yang ditumpangi oleh Deandra.


"Siapa lelaki itu." Tanya tangan kanan Deandra.


"Putra dari keluarga Artadinata." Jawab Deandra.


"Putra Artadinata yang artinya saudara nona muda Abrisham?" Tanya nya lagi.


"Ya mungkin saja." Jawab Deandra.

__ADS_1


"Tuan_" Ucap tangan kanan nya terhenti, saat Dean menendang kursi pengemudi.


"Deandra, jangan seperti supir pribadi ku." Sengit Deandra, tangan kanan sekaligus sahabatnya itu tertawa kecil.


"Oke-oke, Dean kau tidak ingin mencari tahu siapa Anes sebenarnya. Apa kejadian di restoran tadi tidak membuat kamu penasaran." Ujar nya.


"Tidak, lagipula aku yakin mama dan papa sudah mencari tahu lebih dulu tentang nya." Ucap Deandra, tangan kanan tersenyum dan mengangguk.


"Lalu mau kau apakan wanita itu?" Tanya nya.


"Kurung saja memangnya mau di apakan lagi." Ucap Deandra santai.


"Kau tidak ada niat untuk menikahi nya." Ledek tangan kanan Deandra.


"Kau g*la, nona muda Abrisham saja yang masih sendiri aku tolak. Yang benar saja tiba-tiba aku menikahi wanita yang sedang hamil anak orang lain, bisa-bisa di tertawakan aku oleh Anes." Ucap Deandra, ia tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi.


Apalagi Lolita adalah orang yang dibenci oleh Anes, semakin garang saja wanita itu nanti.


"CK, kau berkata seperti itu bukan karena kau mulai penasaran kepada nona muda kan." Ejek tangan kanan nya.


"Cih, wanita keras kepala seperti dia bukanlah tipe ku." Ucap Deandra.


"Tapi wajah cantik nya adalah tipe mu, sikap mandiri dan rasa peduli nya adalah tipe mu. Mau tidak melihat bagaimana cara dia melindungi kedua saudaranya." Ucap nya.


"Cih, cantik belum tentu baik. Lagi pula jika kau menyukai nya ambil saja tidak masalah." Ucap Deandra, tangan kanan nya itu hanya bisa tersenyum tipis saja.


Dean memang seperti itu dia tidak suka ribet, bagi Deandra hal-hal seperti ini tidak lah penting bagi dirinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N***: Dean jangan kek gitu, nanti Anes di ambil orang nyesel sampe ke ubun-ubun baru nyahok loh 😂


A: Ke ubun-ubun gak tuh 😭


N: 😂😂😂 Mon maap Thor 😁


A: Meresahkan sekali Uun 😌


N: 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2