
Keesokan harinya tepat pukul 04:30 pagi hari Axel merasa perutnya seperti di aduk-aduk, ia bangun dari tidurnya dan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.
Axel menatap wajah nya yang terlihat sedikit pucat, lagi-lagi ia memuntahkan isi perutnya yang hanya cairan bening karena memang Axel belum makan apapun.
"Shiiitttt, ini kenapa sih." Grutunya, ia mengusap wajah nya menggunakan air setelah itu Axel berjalan keluar kamar ia ingin mencari sesuatu yang bisa mengurangi rasa mual nya.
Axel berjalan ke dapur dan membuka pintu kulkas lalu mengambil minum bersoda, ia menegaknya hal itu membuat kepala Axel pusing kemana lagi ia harus mencari Tiana.
Setelah nya Axel kembali ke kamar untuk merebahkan tubuhnya, ia menatap langit-langit kamar dan tiba-tiba ia meraih ponselnya berniat untuk mengirim pesan kepada Tatiana.
*Pesan chat...*
Axel: Kamu dimana Tiana? Kenapa kamu pergi tanpa meninggalkan pesan untukku, aku membutuhkan kamu sekarang aku mohon kembalilah aku janji tidak akan menyakiti kamu lagi.
Namun nomor maupun sosial media Tiana tidak ada yang aktif, Axel bingung kemana lagi dia harus mencari keberadaan Tatiana.
Tepat pukul 07:30 semua orang berkumpul di ruang makan untuk sarapan, Axel berjalan menuruni anak tangga dan duduk di ruang makan.
Julian dan Mae masih diam tak menyapa nya, sampai akhirnya saat Axel menatap makanan yang tersaji di meja ia mengernyit dan merasa mual.
"Hoeekkk...Hoeeekk." Axel berlari ke kamar mandi, hal itu membuat Mae khawatir dan langsung mengejar Axel.
"El kau baik-baik saja?" Tanya Mae.
"Aku baik-baik saja." Balas Axel, lagi dan lagi Axel memuntahkan isi perutnya sampai terasa perih.
"El." Lirih Mae.
"Aku pergi ke kantor mi." Ujar nya, Axel berjalan begitu saja keluar dari rumah.
Sesampainya di kantor tidak ada yang berani menyapa nya, para karyawan hanya bisa menunduk sopan kepada Axel dan lelaki itu tak peduli hanya menatap lurus kedepan.
"Tuan maaf ini jadwal anda hari ini." Ucap sekretaris Axel, meskipun jantung nya berdebar kencang karena takut namun ia cukup profesional dalam urusan pekerjaan nya.
"Dimana Axel?" Tanya Aiden, ya lelaki itu memutuskan untuk menemui Axel.
"Di ruangan nya tuan." Ucap sekretaris yang baru keluar dari ruang kerja Axel.
"El." Panggil Aiden, Axel tidak menjawab lelaki itu fokus dengan laptopnya.
"Axel." Panggil Aiden lagi, kini sikap murung Axel membuat para keluarga khawatir namun mereka tak bisa berbuat apa-apa.
"Saya sibuk tolong tinggalkan saya." Ucap Axel datar.
__ADS_1
"El come on kamu tidak bisa seperti ini." Ucap Aiden.
"Lalu harus seperti apa saya? Apakah saya harus tertawa bahagia saat istri saya pergi dan benar-benar meninggalkan saya." Sengit Axel, Aiden menatap mata Axel terdapat luka di dalamnya.
"El saya tahu kamu kecewa dan sakit hati, tapi apakah kamu tidak berpikir untuk memberi sedikit waktu untuk Tiana." Ucap Aiden, Axel menatap Aiden dengan tajam.
"Satu bulan apakah ini kurang?" Tanya Axel, Aiden menggelengkan kepalanya dan mendekati Axel.
"Ini cukup untuk wanita yang tidak merasa harga dirinya terluka, tapi Tiana? Kau sudah melukai segalanya El fisiknya, hatinya, mental nya bahkan kau juga melukai harga diri nya." Ucap Aiden, Axel menundukkan kepalanya dan mengacak rambutnya dengan frustasi.
"Seburuk itu aku bang, aku ingin seperti bang Aiden tapi kenapa sulit." Lirih nya, Aiden menepuk pundak Axel.
"Semua butuh waktu El, biarkan Tiana menenangkan dirinya dulu." Ucap Aiden.
(Meskipun entah sampai kapan Tiana akan bersembunyi, pada dasarnya kita semua tidak memiliki hak untuk ini karena semua kembali kepada hati Tiana sendiri.) Batin Aiden, Axel mengusap wajah nya kasar.
...
Sudah satu Minggu Axel selalu muntah di pagi hari, dan tubuh nya demam di pagi hari dan satu Minggu itu pula Tiana selalu terbangun tengah malam.
Seperti malam ini wanita itu berdiri di balkon kamar nya dengan menatap bintang yang begitu terang dan indah, Vee yang saat itu berada disana berniat untuk mengecek Tiana apakah sudah tidur atau belum dan ternyata wanita itu dengan berdiri di balkon kamar nya.
"Tiana maaf aku masuk ke kamar kamu." Ucap Vee, Tiana menoleh dan tersenyum manis kepada Vee.
"Ini sudah malam Tiana kamu ngapain disini." Ucap Vee.
"Aku hanya sedang memandangi keindahan langit di malam hari." Ucap Tiana, Vee mendingan menatap langit yang penuh dengan cahaya bintang.
"Hmmm ini memang sangat indah, tapi angin malam tidak bagus untuk kesehatan kamu apalagi kamu sedang mengandung. Sebaiknya kita masuk sekarang oke." Ucap Vee, Tiana menoleh dan mengangguk Tiana tak ingin membantah orang yang sudah sangat baik kepadanya.
"Kakak kembalilah ke kamar." Ucap Tiana.
"Tidak aku akan menemani kamu sampai tidur." Ucap Vee, ia ikut berbaring di samping Tiana.
"Tapi bagaimana dengan kak Aiden." Ucap Tiana.
"Aiden sudah tidur kamu tidak perlu khawatir kedua bayiku itu sedang tidur nyenyak malam ini." Ucap Vee lagi, Tiana tertawa jujur sebenarnya Tiana juga ingin merasakan apa yang Vee rasakan.
Tiana ingin Axel baik dan menyayangi nya, Tiana sudah membayangkan bagaimana jika anak nya lahir nanti. Dan bagaimana khawatir nya Axel saat Tiana akan melahirkan, ahhh semua itu sudah menari-nari di pikiran nya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanya Vee.
"Tidak ada." Jawab Tiana, Vee memicingkan matanya menatap Tiana.
__ADS_1
"Aku tidak percaya kamu pasti sedang memikirkan Axel kan." Ucap Vee, Tiana terdiam ia menatap mata indah Vee.
"Hmmm." Balas nya.
"Tiana lakukan apa yang ingin kamu lakukan, jika itu menjadi kebahagiaan untuk kamu maka kami akan mendukungnya." Ucap Vee.
"Aku takut." Lirih Tiana, Vee tersenyum dan menggenggam tangan Tiana dengan lembut.
"Tidak perlu takut banyak orang yang sayang sama kamu, ingat tidak semua kisah cinta akan berjalan dengan baik. Kamu berpikir kisah orang-orang lancar dan membahagiakan, itu karena kamu hanya melihat dari luarnya saja." Ucap Vee.
"Kak apa setiap orang akan mengalami masalah dalam hubungan nya." Ucap Tiana.
"Tentu saja semua tidak selalu berjalan seperti apa yang kita inginkan, pasti banyak duri atau kerikil di dalam nya. Kalau kamu kuat dan sabar maka kamu akan mendapatkan hasilnya nanti." Ucao Vee, Tiana mengangguk dan tersenyum tipis.
Tiana tidak mau mengecewakan mama nya, ia juga tidak mau menyerah hanya sampai sini saja. Terserah orang akan berkata apa, bagi Tiana semua orang memiliki jalan hidup yang berbeda.
Dan seperti inilah jalan hidup Tiana yang terlihat runyam, namun ia berjanji akan membuat semuanya menjadi indah.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***: Ceritanya mulai ada ikatan 😂
A: Ikatan batin 😂
N: Yok bisa yok menuju bucin 😂
A: 😂😂😂
__ADS_1