Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 279


__ADS_3

Tepat pukul 04:30 pagi hari lagi-lagi Axel terbangun karena merasa mual, ini sudah satu Minggu Axel mengalami seperti ini. Bahkan tubuh Axel sudah terlihat kurus berat badan nya turun drastis.


"Hoeekkk hoeekkk." Axel langsung berlari ke kamar mandi, ia memuntahkan isi perutnya lagi dan lagi sampai tubuhnya terasa lemas dan merosot terduduk di lantai.


"Tiana." Gumam nya, Axel memejamkan matanya ia mengingat bayangan wajah Tiana yang menatap nya datar.


Axel juga membayangkan wajah Tiana yang basah oleh air mata karena ia memaksanya melakukan itu, Axel terus memikirkan bayang-bayang wajah Tiana.


Sampai akhirnya air mata Axel menetes si*l baru kali ini Axel menangis karena wanita, dan wanita itu adalah orang yang selalu ia sakiti orang yang selalu ia perlakuan dengan kasar.


Dan di waktu yang sama di tempat lain Tiana terbangun dan menatap langit-langit kamar nya, Tiana mengelus perutnya yang masih rata.


"Maafkan mama ya sayang karena mama menjauhkan kamu dengan papa kamu, tapi mama janji setelah semuanya membaik dan mama sudah siap kita akan kembali ke papa. Kamu baik-baik ya nak kamu harus kuat untuk mama dan papa." Lirih nya, air mata Tiana menetes dari sudut matanya.


Tiana membayangkan wajah dingin Axel setiap menatap nya, ia juga memikirkan perkataan Axel yang mengatakan kalau lelaki itu tak suka jika miliknya di sentuh oleh orang lain.


Ini sudah satu Minggu dari saat Tiana berdiri di balkon kamar nya, Tiana menatap keluar jendela kamar terlihat rintik-rintik hujan yang mulai turun.


Tepat pukul 07:00 pagi hujan semakin deras membuat penghuni rumah minimalis namun terlihat mewah itu enggan untuk bangun, namun mereka semua memaksakan diri untuk keluar dari kamar.


"Selamat pagi kak Vee kak Aiden." Ucap Tiana.


"Pagi na, ayok duduk kita sarapan dulu." Ucap Vee.


"Hmmm." Balas Tiana, saat mereka sedang sarapan terlihat Alexi dan Alea muncul di pagi hari ini.


"Selamat pagi semuanya." Ucap Alea dan Alexi, membuat Aiden tercengang menatap adik dan adik iparnya.


"Pagi ayok kita sarapan bersama." Ucap Vee, kedua orang itu pun duduk di samping Tiana.


"Apa mommy tidak memberikan makan di pagi hari untuk kalian?" Ucap Aiden.


"Mommy masak banyak lagi ini maka dari itu kami kemari untuk membawa makanan, dan kami juga sudah membelikan susu hamil untuk Tiana bukankah kemarin susu nya habis." Ucap Alea.


"Kak itu sangat merepotkan." Ucap Tiana.


"Tidak Tiana tidak ada yang merepotkan, ini mommy masak ini untuk kamu dimakan ya." Ucap Alea, wanita itu sangat perhatian kepada Tatiana padahal dirinya juga sedang mengandung.


"Yasudah ayok kita makan sekarang." Ucap Aiden, merekapun sarapan bersama di rumah itu.


Dan di kediaman Dio dan Mei terlihat Adelle dan Arka juga orang tuanya yang sedang sarapan, Mei teringat dengan Tiana dan menatap Adelle yang sedang menyantap makanan nya.

__ADS_1


"Dell bagaimana dengan keadaan Tatiana?" Tanya Mei.


"Kemarin saat aku menjenguk nya dia baik-baik saja mi, hanya sering melamun entah apa yang sedang dia pikirkan." Ucap Adelle.


"Pake ngomong entah apa sedang Tiana pikirkan, tentu saja Tiana memikirkan suaminya honey." Ucap Arka.


"Siapa Axel maksud kamu?" Tanya Adelle, Dio dan Mei tertawa mendengar perkataan Arka dan Adelle.


"Menurut kamu memang siapa suami Tiana, aku?" Kesal Arka, Adelle tertawa kecil mendengar ucapan suaminya.


"Tentu saja bukan kamu itu suami aku yang paling tampan, paling baik, paling sabar." Ucap Adelle.


"Tolong ini masih pagi tidak bisakah kalian menundanya." Ucap Mei.


"Maaf mi suka kebablasan emang." Kekeh Adelle, Dio tertawa dan menggelengkan kepalanya.


"Jadi bagaimana Tiana kapan dia akan kembali?" Tanya Dio.


"Adelle kurang tahu Pi tapi sebaiknya kita memberikan lebih banyak waktu untuk Tiana, ini juga tidak mudah untuk Tiana kan apalagi sekarang dia sedang hamil." Ucap Adelle.


"Axel itu benar-benar sama seperti Julian dulu, bedanya Mae hanya lari kerumah mommy namun Tiana di sembunyikan oleh Anes." Ucap Dio tertawa geli dengan sikap Anes yang kelewat licik.


"Ya kita sudah banyak mengingatkan tapi ya begitulah Axel dia selalu keras kepala." Ucap Arka.


"Mi kita sedang mencari keberadaan nya, karena saat Axel mengatakan ia ingin menyelesaikan semuanya x menghilang begitu saja." Ucap Arka, Mei mengangguk bisa berharap semuanya baik-baik saja.


Bagaimanapun juga Axel itu sama seperti Arka dan Azka, Mei sudah menganggap Axel dan yang lain putranya juga mengingat Mae yang begitu baik kepadanya dulu.


...


Siang hari Aiden dan Vee duduk di samping rumah menatap hujan yang masih terlihat deras, sementara Varo bocah kecil itu sedang bermain dengan suster nya.


"Kak." Panggil Alea yang juga sedang duduk disana.


"Hmmm." Balas Vee.


"Apakah Tiana masih suka terbangun setiap malam?" Tanya Alea.


"Kakak tidak tahu Al tapi seminggu yang lalu dia terlihat seperti tidak bisa tidur." Ucap Vee.


"Kak mungkin gak sih kalau Tiana butuh Axel, soalnya aku aja gak bisa tidur kalau gak ada Alexi." Ucap Alea.

__ADS_1


"Kamu mah bukan gabisa tidur kalau gak ada aku, tapi emang sudah kecintaan saja dan takut kalau suaminya di ambil wanita lain." Goda Alexi.


"Gak ya gak ada gitu." Ucap Alea, Aiden dan Vee tertawa kecil.


"Sepertinya iya si tapi Tiana masih merasa takut al, ya wajar si karena kita semua juga tahu bagaimana sikap Axel kan." Ucap Vee.


"Kasihan kak anak yang di kandung nya mungkin ingin ada Axel di samping Tiana, aku dengar juga Axel benar-benar kacau dia selalu terbangun hanya untuk memuntahkan isi perutnya." Ucap Alea, tanpa mereka sadari ternyata Tiana mendengar percakapan mereka.


"Intinya saat ini kita hanya perlu menjaga prasaan dan kenyamanan Tiana, soal Axel biarkan Aleta dan Azka yang mengurus nya." Ucap Aiden.


"Benar biarkan dulu saja dia seperti itu, nanti kalau sudah benar-benar sadar mungkin kita bisa meyakinkan Tiana. Untuk saat ini kita harus fokus kepada Tiana dulu." Ucap Alexi, semuanya mengangguk dan Tiana merasa terharu.


Sebaik itu keluarga suaminya mereka lebih memilih untuk melindungi Tiana dari pada membantu Axel, Tiana sadar ini semua karena para saudara Axel tahu perlakuan dan sikap Axel kepadanya.


"Nona." Panggil seseorang kepada Tiana.


"Eh iya." Sahut nya.


"Ini diminum dulu susu nya nona." Ucap suster yang menjaga Tiana.


"Terimakasih mbak." Ujar nya, orang itu mengangguk dan tersenyum tulus kepada Tatiana.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


__ADS_2