
Di kediaman Julian Anes sedang duduk dalam pelukan Mae, sungguh Anes meminta maaf kepada Mae atas kejadian ini.
Bahkan Anes sampai menangis menjelaskan bahwa Anes tak dekat dengan lelaki itu, Mae tahu dan Mae percaya kepada Anes.
Dari dulu Anes selalu mengalah untuk putrinya, dan Mae yakin Anes tak akan mungkin menyakiti Aleta.
Bagi Mae dan Julian didikan Dea tak pernah gagal, dari kecil Dea selalu mengajarkan jangan pernah menyukai sesuatu yang sudah menanti milik orang lain. Karena di depan nanti kamu pasti akan mendapatkan yang lebih dari apa yang orang lain miliki, maka dari itu sampai sekarang Anes memegang teguh ucapan sang mommy.
"Anes dengar aunty Anes gak perlu meminta maaf, Anes tidak salah aunty yakin Anes tidak akan menyakiti Aleta." Ucap Mae.
"Tapi Anes takut kalau Aleta berfikir Anes penyebab semuanya aunty, sungguh kalau Aleta berfikir seperti itu Anes tidak akan memaafkan diri Anes." Lirih nya.
"Hey, Aleta tidak akan menyalakan Anes percayalah. Jangan berfikir jika kamu salah, kamu harus ingat ini adalah cara Tuhan memberi tahu Aleta dan Anes jika laki-laki itu tidak baik." Ucap Mae, Anes mengangguk ia juga berfikir seperti itu.
Dari kejauhan terlihat Alexi dan Aiden yang datang menghampiri Anes, tak lupa Vee juga ikut menemui Anes.
Aiden dan Alexi tidak pernah menerima jika ada yang menyakiti Anes sekalipun itu saudara nya sendiri, bagi Aiden dan Alexi tumbuh berpisah dengan Anes dulu sudah cukup.
Ia tak ingin lagi berjauhan dengan tuan putri mereka, lagi pula Aiden dan Alexi yakin seratus persen jika Anes tak menyukai orang itu.
"Anes." Panggil Aiden, Anes menoleh dan berlari memeluk Aiden.
"Kakak sungguh Anes tidak dekat dengan lelaki itu." Ujar nya, Aiden mengangguk dan mengelus kepala Anes lembut.
"Kakak tahu selera kamu tak ser*ndah itu, lagian kakak juga tahu kamu tidak mungkin menyukai sesuatu yang sudah menjadi milik orang lain." Ucap Aiden, Anes mengangguk.
Vee mengelus pundak Anes lembut, ia tak percaya jika Anes dan Aleta bisa berselisih paham.
"Udah ya nes kamu gak usah mikirin itu, sebaiknya kita temui Aleta di rumah ya." Ucap Vee, Anes menatap Vee yang menatap nya penuh sayang.
Meskipun Vee lebih muda dari Anes tapi sikap Vee yang bijak dan dewasa, membuat Anes nyaman bersama dengan Vee.
__ADS_1
"Lagian itu cowok gak ada ganteng-ganteng nya Anes, jangan menodai keluarga kita yang di takdirkan penuh dengan bibit unggul." Ceplos Azka, Alexi mendengus bisa-bisa dalam keadaan seperti ini Azka main nyeplos saja.
"Yasudah kita pulang." Ucap Alexi menggandeng tangan Anes, lihat Alexi dan Anes malah seperti sepasang kekasih.
"Alexi jangan bikin saya cemburu, kau dan Anes begitu serasi." Ucap Azka lagi.
"Kau g*la, Anes kakak kembarku." Sengit Alexi, Vee dan Aiden tertawa.
"Kau lupa jika Alexi sudah mendapatkan kembaran Anes." Ucap Aiden, Azka mengernyit ia berusaha mengingat sesuatu.
"Ah Naura Xavier." Ucap Azka setelah mengingat nya.
"Bukan kah itu oke." Ucap Aiden.
"Sangat oke, jadi bagaimana Anes bukankah itu oke." Ucap Azka, Aiden memukul tangan Azka.
Bisa-bisanya bertanya seperti itu kepada Anes yang sedang menangis, merekapun memutuskan untuk pergi ke rumah Dea.
Vee merangkul pundak Anes dan memeluk nya, Anes merasa keadaan dulu seperti terulang dimana Aleta lebih dekat dengan Anna dan Aleta selalu mendapatkan tempat mengadu kepada Dea.
"Don't cry oke." Ucap Vee, Anes mengangguk dan mengusap air mata yang menetes.
Aleta yang menyadari kehadiran Anes pun melepaskan pelukannya kepada Dea, ia menatap Anes yang mematung dengan wajah sembab nya.
Ada rasa takut dalam diri Aleta, takut jika Anes akan mengalah dan kembali pergi seperti dulu. Setelah mendapatkan banyak nasihat dari mom Dea Aleta sadar, bahwa Anes lah yang sangat menyayangi nya.
Anes selalu mengalah untuk kebahagiaan nya, bahkan Anes selalu memeluk Aleta disaat Aleta kesusahan. Aleta tidak ingin membuat Anes sakit hati dan pergi, wanita itu bangun dari duduk nya dan berlari memeluk Anes.
"Maafkan aku Anes, sungguh aku tidak marah kepada kamu. Maafkan aku." Lirih Aleta, Anes meneteskan air matanya dan membalas pelukan Aleta.
"Enggak Aleta aku yang salah, maafakan aku. Tapi sungguh aku tidak dekat dengan lelaki itu, kau tahu bagiku kebahagiaan kamu lebih penting." Ucap Anes, Aleta menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Enggak Anes kebahagiaan kamu juga penting, selama ini kamu selalu mengalah dan selalu mengutamakan aku. Maaf, kau sudah menjadi sudara perempuan terbaik tapi aku selalu salah paham kepadamu." Ucap Aleta, Anes tersenyum manis ia senang saat Aleta seperti ini.
"Sudah lebih baik kita lupakan kejadian ini, kamu tinggalkan lelaki itu Aleta. Anggap saya ini cara Tuhan menyadarkan kamu, bahwa dia bukan yang terbaik untuk kamu." Ucap Anes, Aleta mengangguk dan tersenyum.
Dea tersenyum manis melihat Anes yang selalu bijak dalam mengambil keputusan, juga bijak dalam menghadapi masalah. Dea berdoa setelah Alexi semoga Anes dan Aleta mendapatkan pasangan yang tepat.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
A***: Oke nih dikit dulu ya othor bener-bener lagi sibuk 😭
N: Ngokhey Thor 🤗
A: Jan lupa dukung terus author oke mumun 😁
N: Siap lah siap 😂
__ADS_1