Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 155


__ADS_3

Tepat pukul 11 malam Anes baru pulang ke rumah nya, sementara para keluarga sudah beristirahat di kamar mereka masing-masing.


Anes berjalan menuju dapur ia merasa haus sekali, sebelum itu Anes meletakkan tas nya di atas tempat lalu melanjutkan langkahnya ke dapur.


Di dapur Anes melihat sosok wanita yang sedang berdiri membelakanginya, Anes mendekat pelan-pelan ia baru sadar jika itu wanita berambut panjang.


Anes menggelengkan kepalanya berharap itu hanya halusinasi, Anes terus mendekat sampai tiba-tiba wanita itu menoleh membuat Anes terkejut dan berteriak.


"Hantuuuu." Teriak nya, Anes memutar tubuhnya mencoba untuk berlari.


Namun dengan cepat wanita yang berdiri di dapur itu memegang kerah baju Anes, Dena mendekati Anes yang terus mencoba untuk melepaskan dirinya. Ya wanita itu adalah Dena, ia sedang mengambil minum karena merasa haus.


"Le_lepas, mommy tolong Daddy." Teriak nya, setelah itu Dena menepuk pundak Anes namun Anes menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin menoleh, wajah Dena begitu seram karena wanita itu sedang memakai masker wajah.


"Mommy tolong ada hantu." Teriak Anes, Dena terbelalak kali ini ia mendengar jelas jika Anes menyebut nya hantu.


"Heh, ngadi-ngadi mana ada hantu cantik seperti ini." Ucap Dena, Anes diam suara itu ia seperti mengenal suara itu.


Dengan perlahan Anes menoleh dan menatap Dena dengan intens, Anes mempertahankan Dena yang sedang tersenyum manis kepada Anes.


"Apakah aunty Dena sudah meninggal." Ceplos, Anes membuat Dena tercengang. Pasalnya Anes tidak tahu jika aunty nya sudah kembali, dan rasanya tidak mungkin Dena pulang jika tidak ada hal yang penting.


"Aneska bisa-bisanya kamu mengira aunty sudah meninggal." Pekik Dena, Anes terbelalak ia menatap Dena dengan lebih dekat.


"Ini aunty, beneran aunty?" Tanya nya, Dena mendengus ia kesal kepada Anes.


"Kamu pikir siapa yang bisa masuk kedalam rumah kamu, dan berjalan ke dapur selain aku." Ucap Dena, Anes terdiam ada hal apa aunty nya sampai pulang. Apakah Anes sudah tidak di anggap sampai ketinggalan berita.


"Y_ya maaf, lagian aunty ngapain malam-malam di dapur. Sudah memakai dress tidur warna putih, rambut di gerai terus pakai masker wajah." Protes Anes, Dena menatap Anes dan melepaskan masker yang ia kenakan.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Dena, Anes menghela nafasnya menatap Dena.


"Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, lagi pula untuk apa pulang cepat tidak ada sesuatu yang bisa aku kerjakan." Ucap Anes duduk di meja dapur, Dena terdiam ia menatap Anes dengan intens.


Gadis ini begitu cantik, tegas, dan terlihat berwibawa, tapi kenapa Anes selalu menolak setiap lelaki yang mendekatinya. Mungkinkah memang seharusnya Dena membuat Anes dan Deandra bersama.


"Setidaknya jika kamu pulang lebih cepat kamu bisa beristirahat dengan cukup." Ucap Dena, ia ikut duduk di samping Anes.


"Cih, aku jengah melihat kak Aiden, dan Alexi menebar kemesraan. Mereka tidak menghargai aku yg jomblo." Ucap Anes, Dena tertawa kecil mendengar perkataan keponakan nya.


"Kenapa tidak mencari pasangan?" Tanya Dena.


"Aunty kira mencari pasangan gampang, berasa mencari kang cilok kali ada di tiap pengkolan." Ucap Anes, Dena kembali tertawa kecil.


"Ya kan kamu belum mencoba." Ucap Dena, Anes menatap Dena dengan sendu.

__ADS_1


"Aunty tahu saudara aku kebanyakan laki-laki, mulai dari kak Aiden, Alexi, Axel, Arka, dan Azka. Mereka selalu memiliki takaran pasangan yang bisa bersama denganku, apalagi Arka dan Azka, mereka selalu berkata jika aku harus memiliki pasangan yang lebih segalanya dari apa yang aku miliki sekarang karena aku seorang wanita, berbeda dengan Axel, Azka, dan Alexi mereka boleh memilih pasangan seperti apa saja karena mereka laki-laki." Ucap Anes, Dena mengangguk ia mengerti akan hal itu.


"Tentu saja apa yang dikatakan oleh mereka itu benar, kau tahu jika pasangan kamu berada di bawah kamu itu tidak akan baik. Bukan apa-apa karena nanti banyak orang yang mengira jika pasangan kamu hanya ingin memanfaatkan kamu, dan sudah pasti itu akan melukai harga diri nya." Ucap Dena, Anes terdiam menatap Dena.


"Aunty juga sama, maka dari itu sampai sekarang aku belum menemukan lelaki yang tepat." Ucap Anes, Dena tersenyum dan mengelus kepala Anes.


"Nanti pasti akan menemukan nya." Ucap Dena, Anes menatap Dena.


"Ngomong-ngomong aunty pulang, apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya nya.


"Hmmmmmm, sangat penting. sudahlah sebaiknya kamu istirahat saja." Ucap Dena, wanita itu berjalan menuju kamar nya. Sementara Anes menatap kepergian Dena dengan bingung.


...


Di tempat lain terlihat seorang lelaki yang baru saja pulang, kepulangan Deandra yang larut malam membuat mama dan papa nya menunggu Deandra.


"Darimana saja kamu?" Tanya papa.


"Aku sudah ada meeting pa." Jawab nya.


"Meeting sampai larut malam." Ucap papa Deandra.


"Memang begitu keadaan nya." Ucap Dean, papa menatap Deandra.


"Deandra sepertinya papa benar-benar harus mengambil tindakan." Ucap papa Deandra.


"Tiga hari lagi kita akan melakukan pertemuan dengan keluarga dari wanita pilihan papa dan mama, mau tidak mau kamu harus menerima nya." Ucap papa, Deandra terbelalak.


"Apa maksudnya, tidak bisa seperti itu." Ucap Deandra.


"Deandra wanita ini sangat baik dan cantik, mama yakin kamu pasti menyukainya." Ucap mama.


"Gak, Deandra gak mau." Jawab nya.


"Deandra berhenti bermain-main, ini sudah saat nya kamu memiliki pasangan yang serius." Ucap papa.


"Deandra bisa mencari pasangan hidup sendiri pa, kenapa kalian selalu mengatur Dean." Ujar nya.


"Kamu pasti menyukainya, intinya tidak ada penolakan." Ucap papa.


"Kalau begitu kenapa tidak papa saja yang menikahi wanita itu." Ceplos Deandra, nyonya Gavriel terbelalak mendengar perkataan putranya.


"Jangan ngaco kamu, papa sudah punya mama." Ucap mama nya, Deandra tersenyum tipis.


"Dean gak mau." Ucap nya, lelaki itu berniat untuk pergi namun suara papa menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Wanita seperti apa yang kamu inginkan, wanita yang mengaku mencintai kamu dan berselingkuh dengan lelaki lain setelah itu mengandung anak orang tapi meminta kamu untuk bertanggung jawab. Seperti itu!" Teriak papa, Deandra terdiam itu adalah kenangan terpahit yang pernah ia alami.


Sungguh karena itu pula Deandra tidak lagi memiliki kekasih, beberapa wanita yang dekat dengan Dean hanya di anggap teman.


Tapi setiap wanita itu justru menganggap Deandra kekasihnya, bahkan tak segan-segan memanggil Deandra dengan sebutan sayang meskipun di tempat ramai.


"Pa cukup." Ucap mama Deandra.


"Biarkan saja ma, kita hanya ingin yang terbaik untuk Deandra, Dean banyak uang tampan wanita mana yang tidak tergila-gila. Tapi kebanyakan dari mereka selalu memanfaatkan kebaikan Deandra." Ucap papa, Deandra menunduk dan mengusap wajah nya dengan kasar.


"Kalian ingin aku menemui keluarga gadis itu?" Tanya Dean, ia sudah jengah mendengar perkataan papa nya.


"Iya Dean, kenapa tidak mencoba dulu." Ucap mama, Dean memejamkan matanya lalu menatap mama wanita yang sangat ia sayangi.


"Baiklah atur saja oleh kalian." Ucap Deandra pergi meninggalkan papa dan mama nya, mama dan papa tersenyum tipis menatap kepergian Deandra.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜Š


N**: Mantap uyyy, gue tunggu pas mereka ketemu πŸ˜‚πŸ˜‚*


A: Mereka yang mau ketemu, ngapa elu yg girang? πŸ™„


N: Girang lah pengen liat reaksi AnesπŸ˜‚


A: Auto terkejut si πŸ˜‚

__ADS_1


N: Bukan lagi πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2