
Keesokan harinya semua keluarga sudah berkumpul di meja makan, mom Dea dan dad Justin juga sudah berkumpul di meja makan.
"Morning mom." Ucap Alexi.
"Pagi sayang, dimana Abang kamu tumben belum turun." Ucap mom Dea.
"Masih di kamar mungkin, bagaimana dengan keadaan mommy?" Ucap Alexi.
"Seperti yang kamu lihat boy mommy sudah baik-baik saja." Ucap mom Dea, Alexi mengangguk.
"Selamat pagi mom dad." Ucap Aiden, yang ikut bergabung di meja makan dengan Vee.
"Pagi bang." Balas mom Dea.
"Bagaimana Varo semalam rewel tidak?" Tanya dad Justin.
"Enggak kok dad semalam tidur nya Varo sangat nyenyak." Jawab Vee, dad Justin mengangguk.
"Oiya Al kapan kamu akan melamar Alea." Ucap dad Justin tiba-tiba, dan membuat Alexi tersedak.
"Uhukk-uhuukkk." Alexi kelabakan mencari air minum, beruntung mom Dea sigap dan langsung memberikan air untuk putranya.
"Pelan-pelan sayang." Ucap mom Dea, Alexi mengangguk dan meneguk segelas air putih.
"Kenapa sangat tiba-tiba." Ucap Alexi.
"Ini tidak tiba-tiba boy, dad rasa hubungan kamu dan Alea sudah cukup lama." Ucap dad Justin.
"Benar sayang mom juga sudah sangat menyayangi Alea, sama seperti mom menyayangi Vee dan Anes." Ucap sang mommy.
"Iya kenapa gak nikah aja si Al, pacaran lebih bebas kan gak perlu nganterin pulang kan sudah tinggal satu rumah." Ucap Aiden.
"Aku belum membicarakan ini dengan Alea dad." Ucap Alexi.
"Tidak, tidak perlu kamu yang berbicara biarkan Daddy dan mommy saja yang berbicara." Ucap sang Daddy.
"Dad apa tidak terlalu cepat." Ucap Alexi.
"Tentu saja tidak boy, lagi pula lebih cepat kan lebih baik. Agar Vee ada temannya juga di rumah, kasihan Vee selalu sendiri setiap mom dan Daddy pergi." Ucap mom Dea.
"Benar lagian Anes juga tidak ada dirumah jadi aku semakin kesepian." Ucap Vee.
"Kenapa gak minta bang ai nikah lagi agar ada temannya." Goda Alexi, Vee terbelalak mendengar perkataan adik ipar nya itu.
"Ngarang kamu ya, itu namanya bukan cari teman tapi nyari saingan." Ucap Vee, semua orang tertawa mendengar perkataan Vee.
"Memang aku boleh sayang kalau nikah lagi?" Tanya Aiden.
__ADS_1
"Boleh kok, tapi kamu jangan bertemu dengan aku dan Varo." Ucap Vee, Aiden menelan saliva nya membuat Alexi tertawa kecil.
Jika di kediaman mom Dea sedang sarapan dengan bahagia, di kediaman Dio dan Mei terlihat jika Adelle sedang duduk di taman belakang dengan putranya.
"Sayang kamu sedang apa?" Tanya Arka, Adelle menoleh menatap suaminya.
"Loh Abang kok masih di rumah bang, gak ke kantor?" Ucap Adelle.
"Enggak deh hari ini aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu dan Rava saja." Ucap Arka, Adelle tersenyum manis kepada suaminya.
"CK, bisa saja Abang." Ucap Adelle.
"Semalam Azka bilang Aleta pulang larut." Ucap Arka.
"Pulang larut? Tumben biasanya Aleta paling telat pulang jam 8 malam." Ucap Adelle.
"Iya, semalam Aleta habis mengantar orang tua dari karyawan nya ke rumah sakit. Bahkan Anes tidak pulang kerumah karena menemani karyawan Aleta." Ucap Arka.
"Kalau Anes jangan di tanya lagi, Anes selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri." Ucap Adelle.
"Iya kamu benar sayang." Balas Arka.
"Kamu juga biasanya kalau mau menghabiskan waktu bersama minta aku ke kantor, ini kenapa kamu malah diam di rumah.
"Ya aku pengen nya di rumah saja, lagian kasihan Rava kalau di ajak pergi-pergi terus." Ucap Arka, Adelle mengangguk apa yang dikatakan oleh suaminya itu benar sekali.
"Yasudah ayok, Rava biar aku yang gendong saja." Ucap Arka, Adelle pun memberikan tubuh mungil putranya kepada Arka.
Sementara itu di rumah sakit terlihat Anes yang masih setia menemani Tiana, Anes menatap Tiana yang terlihat sangat resah.
"Tiana sebaiknya kamu makan dulu, jika kamu tidak makan bagaimana kamu bisa menjaga mama kamu." Ucap Anes, Tiana menatap Anes semalaman Anes tidak tidur dan terus menemani Tiana.
"Nona kenapa nona masih disini." Ucap Tiana, wanita itu duduk di hadapan Anes.
"Memangnya kenapa apa aku tidak boleh berada disini?" Tanya nya.
"Tidak bukan itu maksud saya, tapi nona belum beristirahat sama sekali." Ucap Tiana, Anes tersenyum manis kepada Tiana.
"Ini bukan hal yang melelahkan untuk saya, jadi kamu tenang saja sebaiknya kamu makan dulu oke." Ucap Anes, Tiana mengangguk ia memakan makanan yang sudah dibelikan oleh Anes.
Sebenarnya Tiana malas untuk makan tapi ia merasa tidak enak karena Anes sudah sangat baik terhadap nya, Anes mengirimkan pesan kepada Aleta meminta Aleta untuk membawakan pakaian ganti untuk Anes.
"Tiana kamu gak usah kerja dulu ya, kamu temani saja mama kamu disini." Ucap Anes.
"Nona memecat saya?" Tanya Tiana khawatir.
"No, saya enggak pecat kamu. Saya hanya ingin memberikan waktu untuk kamu menjaga mama kamu, jika kamu kerja siapa yang akan menjaga mama kamu." Ucap Anes, Tiana terdiam benar juga tapi Tiana membutuhkan uang.
__ADS_1
"Kamu gak perlu mikirin uang atau biaya mama kamu, karena saya sudah melunasi semuanya. Dan jika nanti mama kamu harus di operasi dokter juga akan langsung menghubungi saya." Ucap Anes.
"Nona saya memiliki banyak hutang kepada nona." Lirih Tiana.
"Enggak Tiana ini sudah menjadi tugas saya untuk membantu kamu, lagipula kamu karyawan di kantor Axel." Ucap Anes, Tiana mengangguk ia bersyukur memiliki atasan sebaik Anes dan Aleta.
Dua wanita itu tidak pernah membeda-bedakan antara Tiana dan karyawan yang lain, begitupun dengan rekan kerja nya. Meskipun mungkin ada beberapa dari mereka yang merasa iri karena Tiana dekat dengan Anes dan Aleta, namun mereka tidak melakukan sesuatu yang menyakiti hati Tiana.
"Nona terimakasih banyak atas semua kebaikan nona dan nona Aleta, saya benar-benar merasa berhutang budi kepada nona. Saya janji saya akan berusaha untuk mengganti semuanya." Ucap Tiana,Anes menggelengkan kepalanya dan menggenggam tangan Tiana.
"Tiana kamu tidak perlu mengganti semuanya saya ikhlas, sungguh saya tidak menganggap ini adalah hutang. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan mama kamu, dan kamu jangan memikirkan apa-apa lagi kamu harus fokus kepada kesembuhan mama kamu." Ucap Anes, Tiana menitihkan air matanya dan memeluk Anes dengan ragu.
Ragu jika Anes akan menolak pelukannya, namun ternyata Anes menerima pelukan Tiana dengan lembut.
"Kamu kuat ya, saya yakin kamu anak yang kuat. Dan saya juga yakin kamu bisa membuat mama kamu bangga nanti nya, kamu tidak sendirian Tatiana." Ucap Anes, Tiana semakin terisak mendengar perkataan Anes.
Sementara Anes mengusap lembut pundak Tiana, Anes menenangkan Tiana dan Tiana merasa nyaman berada dalam pelukan Anes.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N**: Anes jadi kakka ipar gue mau gak 😭*
A: Gak mau kaya nya Uun 😂
N: Bukan elo btw 😒
A: Terus siapa? 🙄
N: Anes lah 😌
A: Oh kirain 😂
N: Nangis banget 😭😭😭
__ADS_1