Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 177


__ADS_3

Tiga hari berlalu hari ini Vee berniat untuk pergi ke sebuah pusat perbelanjaan, ia ingin mencari beberapa perlengkapan bayi untuk anak nya setelah lahir nanti.


Namun Vee merasa sedikit bingung ia harus pergi bersama dengan siapa, sementara Anes dan Aleta pasti sibuk dengan urusan kantor nya.


Akhirnya dengan memberanikan diri Vee meminta Mae untuk menemani dirinya, kenapa tidak meminta bantuan kepada Dea selaku ibu mertua nya? Ya, karena saat ini Dea sedang menemani dad Justin melakukan perjalanan bisnis.


Lagi pula mom Dea juga sudah meminta tolong kepada aunty Mae untuk menemani Vee pergi, tentu saja dengan senang hati Mae mau menemani Vee. Anggap saja Mae sedang belajar untuk menjadi Oma atau buna yang baik untuk cucu nya nanti, setelah Aleta dan Azka menikah.


Nah kan, Mae jadi berkhayal jika Azka dan Aleta akan segera menikah. Agar dirinya segera memiliki cucu yang lucu-lucu dan menggemaskan.


"Sayang kamu sudah siap?" Tanya Mae.


"Sudah kok aunty, kita mau jalan sekarang." Ucap Vee.


"Enggak, kita jalan nya tahun depan saja setelah anak kamu bisa lari." Ceplos Mae, ya seperti itulah Mae yang tidak pernah berubah.


Vee tertawa, ia tak percaya marah atau tersinggung dengan sikap Mae. Karena Vee tahu Mae memang seperti itu orang nya.


"CK, pas lahiran nanti gapunya baju baby nya." Kekeh Vee.


"Tenang masih ada pohon pisang untuk membungkus anak kamu." Ledek Mae, Vee tertawa lepas mendengar perkataan Mae.


Setelah berbincang sedikit Vee dan Mae pun memasuki mobil, mereka akan di antar oleh supir dan beberapa bodyguard nya.


Sementara itu di tengah lain terlihat Aiden yang tengah duduk di kursi kebesaran nya, hingga tiba-tiba Axel datang menghampiri Aiden dengan wajah bingungnya.


"Kenapa wajahmu seperti jemuran kering seperti itu?" Tanya Aiden.


"Aku bingung bang." Jawab Axel, Aiden mengernyit heran sejak kapan Axel bisa merasa bingung?


Bukankah selama ini ia selau happy dan menganggap mudah semuanya, tapi lihatlah sekarang sepupunya itu terlihat lecek dan tidak bersemangat.


"Ada apa?" Tanya Aiden.


"Kekasihku tiba-tiba minta udahan." Ucap nya galau, Aiden mengernyit kenapa bisa? Bukankah selama ini mereka baik-baik saja.


"Kenapa bisa seperti itu?" Tanya Aiden lagi, Axel menghela nafas nya ia kesal karena Aiden banyak bertanya.


"Ya mana aku tahu, jika aku tahu alasannya apa juga aku tidak akan mendatangi Abang." Sengit Axel, Aiden melempar pulpen kepada sepupunya.


"Heh, terus kalau kamu tidak tahu dan mendatangi aku akan mendapatkan jawabannya? Kau pikir aku d*k*n." Ucap Aiden tak kalah sengit.

__ADS_1


"CK, tidak seperti itu yang aku maksud." Kekeh Axel.


"Lalu seperti apa yang kau maksud." Tanya Aiden, Axel merebahkan tubuhnya di sofa ruang kerja Aiden.


"Setelah dari pesta pertunangan Azka dan Aleta sikap nya berubah, dan dia selalu menghindar jika aku ajak untuk bertemu." Ucap Axel, Aiden menatap tak tega kepada Axel.


"Yah, seorang Axel menjadi sad boy." Ledek Aiden, Axel mengernyit ia tidak terlalu menyedihkan seperti apa yang dibayangkan oleh Aiden.


"Bang aku tidak sad boy woy." Ucap Axel, Aiden tertawa lalu menatap Axel dengan intens.


"Mungkin kekasih kamu itu menyukai Azka, dan tidak terima jika Azka bertunangan dengan Aleta." Ucap Aiden ngasal.


"Ngarang, mana ada seperti itu. Jelas-jelas saat Azka bersama dengan Lolita saja dia sangat mendukung hubungan keduanya." Ucap Axel, Aiden terdiam mungkin ada hal lain yang Axel tidak tahu.


"Atau mungkin kamu kurang kasih jatah kali." Ucap Aiden ngasal, membuat pikiran Axel berlarian kesana-kemari.


"Prasaan aku belum nikah bang yakali ngasi jatah." Ucap Axel sok polos, Aiden menatap Axel tajam.


"Jatah apa yang kau pikirkan?" Tanya nya, ia tahu pikiran Axel selalu tidak bisa di ajak kompromi.


"Ya itu kaya yang Abang dan Vee lakuin kan." Ucap nya, sontak saja Aiden melempar majalah yang ada di meja nya.


"Duid Axel duid, buat shopping gitu kan kalau cewek suka banget di ajak shopping apalagi dikasi yang black-black." Ucap Aiden, Axel tercengang ia merasa malu dengan jalan pemikiran nya.


"Prasaan uncle Julian dulu ga kaya kamu, kenapa anak nya jadi lemot seperti ini." Ucap Aiden, Axel tertawa kecil lalu bangun dan terduduk.


"Bang denger ni ya, jangankan yang black-black yang gold saja bisa aku kasi semua. Emang dasar cewek nya saja yang tidak tahu bersyukur." Ucap Axel, kali ini Aiden yang dibuat tercengang oleh sepupunya.


Sebenarnya Axel sedih atau bahagia bisa terlepas dari kekasihnya, kenapa Axel seperti orang yang sedang menyimpan dendam pribadi kepada wanita itu.


"Axel tunggu dulu, sebenarnya kamu itu sedih atau bahagia bisa terlepas dari dia?" Tanya Aiden, Axel terdiam ia memikirkan pertanyaan Aiden.


"Ya gak tau bang, intinya antara sedih dan enggak." Ucap Axel, lihatlah Aiden sudah tidak bisa sabar lagi dalam menghadapi adik sepupunya itu.


Ia ingin sekali menendang Axel keluar dari ruang kerja nya, namun Aiden sadar jika Axel anak laki-laki Julian satu-satunya.


"Kau benar-benar tidak jelas, apa susah nya mengatakan sedih ataupun tidak." Ucap Aiden.


"Begini bang aku senang karena akhirnya aku bisa terlepas dari dia yang manja nya melebihi manja Anes kepada mom Dea, tapi aku juga sedih karena kedepan nya tidak ada lagi yang akan meminta aku membelikan ini dan itu." Ucap Axel, Aiden menganga.


Axel bo*oh, tapi ini sebenarnya Axel atau Aiden yang bo*oh. Tidak Aiden tidak bo*oh seperti Axel, mungkin Aiden yang sedang di bod*hi oleh Axel.

__ADS_1


"Terserah sebaiknya kamu pergi, aku bisa g*la jika terus berbicara dengan kamu." Ucap Aiden, Axel mengernyit ia tidak salah kan lalu kenapa Aiden mengusir nya.


"Bang jangan dulu di usir apa, ini aku berbicara serius bang. Kedepannya uang ku tidak akan berguna lagi, karena aku sudah tidak memiliki kekasih." Ucap Axel.


"Axel maka sebaiknya kamu cari wanita yang rela menghabiskan uang mu siang dan malam, sudah pergi dari ruangan ku." Ucap Aiden, Axel mendengus tidak seperti itu juga yang ia maksud.


"Benar-benar tidak ada rasa solidaritas." Ucap Axel.


"Cih, bukan tidak ada rasa solidaritas. Tapi aku tidak ingin g*la di usia muda karena mendengar setiap perkataan kamu." Ucap Aiden, akhirnya Axel pun memutuskan untuk pergi.


Ia tahu menang dirinya salah, Axel terlalu memanjakan wanitanya sampai lupa apa yang sebenarnya diinginkan oleh wanita itu.


Yang Axel tahu wanita nya suka sekali berbelanja dan berfoya-foya, padahal ada hal lain yang mungkin sedang di sembunyikan oleh kekasihnya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜Š


N**: Biarin Axel buat gue Thor, demi alek gue ikhlas πŸ˜‚*


A: Masalahnya gue juga mau kalo dapet laki modelan Axel un 😁


N: Gue dulu dah, Lo kan bisa cari yang baruπŸ˜‚

__ADS_1


A; Baru pale Lo ah, dikira nyari laki model gitu gampang πŸ˜’


N: Ya susah lah πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2