
Malam hari semua keluarga berkumpul di kediaman Julian, mereka sedang menyambut kepulangan Aleta dan baby Leo. Dan saat itu Tiana baru saja pulang dari toko tempat nya bekerja, lagi-lagi Tiana di antar oleh Lion dan Axel melihat semua itu.
Kali ini ada yang beda dengan lancang nya Lion merangkul pinggang ramping Tiana seakan memberi tahu jika dirinya dan Tiana sangat dekat, berbeda dengan Tiana yang merasa tidak nyaman dengan sikap Lion.
"Maaf tuan tangan anda." Ucap Tiana.
"Kenapa?" Tanya Lion.
"Tidak pantas jika seperti ini." Ujar nya, Lion tertawa kecil mendengar perkataan Tiana.
"Santai Tiana." Ujar nya, Tiana menunduk dan pamit untuk masuk kedalam rumah.
Saat Tiana berjalan memasuki gerbang utama ia terkejut melihat Axel yang berdiri di teras depan menatap tajam dirinya, Tiana bingung harus bagaimana.
Ia memang melihat Axel dengan wanita lain tapi Tiana tidak melihat kontak fisik di antara keduanya, namun kini malah Axel yang melihat dirinya di rangkul oleh Lion.
"Sudah bersenang-senang nya." Ucap Axel, Tiana menghentikan langkahnya dengan jantung berdegup kencang.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksud." Ucap Tiana, wanita itu melanjutkan langkahnya dan masuk kedalam rumah.
Ia melihat Aiden, Vee, Alea dan Alexi yang sedang duduk berbincang dengan mami dan papi Julian. Mom Dea dan dad Justin tidak ada kedua orang itu sedang sibuk begitupun dengan Mei dan Dio hanya ada Arka dan Adelle disana.
"Tiana kamu baru pulang." Sapa Vee.
"Iya kak, kalau begitu aku permisi ke kamar dulu untuk bersih-bersih." Ucap Tiana, para anggota keluarga pun mengangguk dan mereka mengalihkan pandangan nya kepada Axel yang masuk kedalam rumah dengan wajah marah nya.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Axel mencengkram erat tangan Tiana.
"Axel sak_it." Desis Tiana.
"El ada apa ini lepaskan tangan Tiana kau bisa menyakiti nya." Ucap Julian, mereka bangun dari duduknya dan menatap Axel juga Tiana.
"Wanita seperti ini yang kalian bela? Aku tahu aku belum bisa memberikan hak nya tapi apakah pantas seorang istri pergi dan pulang kerja dengan laki-laki lain." Ucap Axel, Tiana mendongak menatap para keluarga yang terlihat begitu terkejut dan ia mengalihkan pandangan kepada Axel.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" Ucap Tiana.
"Apa aku kenapa?" Ucap Axel.
"Bukankah kau juga melakukan hal yang sama? Kau datang ke tempat kerjaku dengan seorang wanita." Teriak Tiana, emosi nya meluap membuat Vee dan Alea sadar ada rasa sakit di dalamnya.
"Aku? Aku berani mengajaknya pergi setelah aku melihat kau pulang dengan laki-laki lain, dan tadi pagi aku sudah bersikap baik kepada kamu tapi kamu lebih memilih pergi dengan lelaki itu." Ucap Axel, Tiana bungkam ia tak tahu harus berkata apa lagi.
"Tapi kau bahkan memajang foto nya di kamar." Teriak Tiana, Axel tersenyum smirk kepada Tiana.
"Aku memang memajang foto nya tapi aku tidak pernah menyentuh tubuhnya, berbeda dengan kamu yang di rangkul seperti ini olehnya." Ucap Axel memperagakan bagaimana Lion merangkul pinggang ramping Tiana.
"Axel cukup." Teriak Julian.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa kalian hanya membela nya? Aku sudah ingin menyudahi sikap keras kepala ku tapi apa yang dia lakukan? Aku saja belum menyentuh nya lalu aku harus menerima dia yang sudah di sentuh oleh orang lain, apakah sem*r*han itu kamu hah." Ucap Axel di hadapan Tiana, Tiana yang merasa tidak terima men*mp*r pipi mulus Axel.
Plaaakkk... Alea dan Vee langsung menarik Tiana ia tidak ingin Axel menyakiti Tatiana.
"Jaga ucapan kamu ya, aku memang bukan orang kaya tapi kamu tidak berhak mengatakan itu kepadaku." Teriak Tiana.
"Tiana sudah jangan terbawa emosi." Ucap Alea.
"Lancang nya kau." Teriak Axel, ini benar-benar seperti Mae dan Julian yang rela bertengkar di hadapan para keluarga.
"Bagaimana denganmu hah, kau tidak pernah menjalankan tugas kamu sebagai seorang suami tapi kau bersikap seenaknya kepadaku." Teriak Tiana lah, senyum devil muncul di bibir Axel yang langsung menarik Tiana.
"Aaaa, Axel apa yang akan kamu lakukan." Teriak Vee, Aleta, Adelle dan Alea.
"Lepaskan dia." Ucap Axel, dengan sekali tarik tubuh mungil Tiana sudah berada dalam pelukan Axel.
"Axel lepaskan Tiana." Teriak Julian terdengar murka.
"Aku akan menjalankan tugasku sebagai seorang suami, bukankah itu yang dia inginkan." Ucap Axel, ia mengajak Tiana ke kamar nya membuat semua orang khawatir.
"Axel buka pintunya." Teriak Alexi, Arka, Aiden dan yang lainnya mengetuk pintu kamar Axel yang sudah terkunci.
"Ap_apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Tiana memundurkan tubuhnya, saat Axel menurunkan Tiana di atas tempat tidur.
"Menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami." Ucap Axel, ia membuka dasi dan kemejanya dengan kasar.
"Jangan Axel jangan." Teriak Tiana, Axel tak mempedulikan hal itu dan langsung menarik kemeja yang di kenakan oleh Tiana.
"Axel." Jerit nya, Tiana menutupi tubuhnya dengan tangan.
"Hiks... Aku mohon jangan." Lirih Tiana, Axel tidak peduli ia menarik kaki Tiana hingga wanita itu terbaring.
"Baj*ngan." Teriak Tiana, Tiana teriak histeris dengan aksi Axel.
"Eng*hhh, hiks cukup." Teriak nya, si*l kenapa tubuh Tiana malah merespon.
Axel menatap Tiana hingga akhirnya Axel pun. melakukan nya, hal itu membuat Tiana menjerit keras dengan air mata yang mengalir di wajah nya.
"Ak*h ***_up." Lirih nya kesakitan, semua orang masih berdiri di depan pintu kamar Axel.
"Axel buka pintunya." Teriak Aleta.
"Hiks... Mama hiks...." Lirih Tiana, sampai akhirnya Axel pun ambruk di atas tubuh nya.
Axel memgecup kening Tiana membuat Tiana menatap b*nci kepada Axel, lelaki itu menautkan keningnya di kening Tiana.
"Ingat jangan pernah berdekatan lagi dengan nya, aku tidak suka milikku di sentuh oleh orang lain apalagi aku belum menyentuh nya. Kau tidak tahu siapa dia, aku tidak akan semarah ini jika aku tidak tahu asal-usul lelaki itu." Ucap Axel, Tiana terdiam ia menangis kencang saat Axel bangun dari tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
"Si*l apa yang sudah aku lakukan." Geram nya di dalam kamar mandi, setelah selesai Axel membuka pintu kamar nya dan pergi begitu saja.
"Tiana." Teriak Aleta, Alea, dan Adelle, tak lupa Vee yang melihat Tiana menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Axel." Teriak Julian, lelaki itu berjalan cepat dan mendaratkan kepalan tangan nya di wajah tampan Axel.
"Assshh, apa yang papi lakukan." Sengit Axel.
"Aku tidak pernah meminta apapun dari kamu Axel, aku hanya ingin kamu menghargai wanita yang sekarang menjadi istri kamu." Ucap Julian.
"Ya aku akan menghargai nya saat dia mengandung anakku." Ucap Axel, setelah mengatakan itu Axel pergi begitu saja.
Di kamar Axel para wanita di keluarga nya menatap Tiana, leher mulus Tiana penuh dengan karya buatan Axel Mae ingin bangga tapi ia juga sedih melihat Tiana yang kesakitan.
"Maafkan mami sayang maaf." Lirih Mae.
"Ak_aku ingin pulang mi." Lirih nya, Mae menggelengkan kepalanya membuat Tiana menangis histeris dalam pelukan Mae dan Vee.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***: El gua tau lo pengen punya anak, tapi ga gitu caranya sue 😌
A: Antara pengen marah tapi bingung ya kan, kalo itu cebong Axel jadi kan Tiana bener-bener jadi milik dia 😌
N: Pinter bener titisan Julian 😂
A: Gak beda jauh sama papi nya un 😌
N: Gas teros ya gak si 😂😂😂
__ADS_1