Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 178


__ADS_3

Di sebuah mall yang besar Mae dan Vee sedang berjalan di toko satu ke toko yang lainnya, Mae benar-benar menemani dan menjaga Vee dengan baik.


Seperti hari ini Mae mengajak Vee untuk beristirahat dulu, karena ia takut keponakan nya itu kelelahan.


"Sayang kita istirahat dulu yuk, kamu pasti capek dari tadi jalan-jalan terus." Ucap Mae.


"Enggak kok aku gak cape aunty." Jawab Vee.


"Gak, kita cari tempat dulu untuk makan ayok. Kamu mau makan apa." Ucap Mae, sebenarnya Mae sengaja melakukan itu karena dirinya sudah merasa lapar.


Saat Mae dan Vee akan pergi ke sebuah restoran, tiba-tiba ada seorang wanita yang tidak tua dan juga tidak muda.


Ia menatap Vee dari atas sampai bawah, membuat Vee menatap nya dengan datar. Menatap ibu tirinya tanpa ekspresi, itulah yang Vee lakukan.


"Veronica." Panggil wanita itu, Mae menoleh menatap Vee.


Ia tidak tahu siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapan mereka, Vee hanya diam tanpa menjawab panggilan itu.


"Lihatlah kau benar-benar berbeda." Ucap wanita paruh baya itu, ya anggap saja wanita paruh baya.


"Kau mengenalnya sayang?" Tanya Mae kepada Vee, karena sejak tadi Vee hanya diam saja tanpa mengeluarkan suara.


"Cih, kau bahkan tidak mau mengakui aku sebagai ibumu." Ujar wanita itu, Mae terbelalak mendengar perkataan wanita itu.


"Ibu? Bukankah mami Vee sudah tidak ada?" Ucap Mae, mendengar itu membuat Vee menghela nafas nya dan menatap Mae lalu mengalihkan pandangan nya kepada wanita yang mengaku sebagai ibunya itu.


"Mami ku memang sudah tidak ada aunty." Ujar nya, membuat sang ibu tiri menatap Vee dengan sinis.


"Lalu ini?" Tanya Mae.


"Dia ibu tiriku, dia orang yang sudah menjauhkan aku dari papi dan opa. Dia juga yang melarang aku untuk kembali, sampai tiba saat nya opa sakit parah dan aku diam-diam kembali kesini." Ucap Vee, wajah Vee yang putih mulus berubah menjadi merah padam.


Sangat terlihat jika Vee memendam rasa sakit yang begitu dalam, Mae mengerti keadaan Vee wajar jika Vee tidak ingin mengakui ibu tiri nya.


"Aku tidak melarang kamu kembali." Ujar wanita itu.


"Ulangi perkataan itu, ulangi perkataan jika kau tidak melarang aku untuk kembali. Tapi apa maksud dari semua yang kamu lakukan? Kamu meminta papi untuk segera menikahkan aku, padahal kamu tahu aku memiliki sebuah impian. Untuk apa? Agar kamu bisa menguasai semua harta peninggalan opa ku." Ucap Vee, ibu tiri Vee menatap nya dengan nyalang.


"Jaga ucapan kamu, nyonya Abrisham beginikah cara anda mendidik nya? Menikahkan dia dengan salah satu keluarga anda, kami mengira akan membuat nya menjadi lebih baik." Ucap ibu tiri Vee, Mae terdiam apa maksud dari wanita itu.

__ADS_1


"Maaf nyonya sepertinya anda salah paham, menikahkan Vee dengan salah satu putra dari keluarga kami bukan berarti membuat Vee melupakan hal menyakitkan yang telah anda berikan. Vee memiliki ingatan yang kuat, maka dari itu harusnya anda sadar jika Vee seperti ini karena sikap anda yang tidak baik kepadanya." Ucap Mae.


"Tidak ada yang bersikap tidak baik kepada anak ini, dia nya saja yang kurang bersyukur memiliki kami. Dan lihatlah sekarang dia bahkan seperti tidak s*di untuk pulang ke rumah." Ucap ibu tiri Vee.


"Untuk apa aku kerumah? Untuk memperlihatkan suamiku agar putrimu bisa merebutnya dari aku begitu." Ucap Vee, ibu tiri Vee benar-benar terpancing emosi.


"Jaga ucapan kamu Veronica, kau tidak pantas mengatakan hal seperti itu tentang anakku." Teriak nya, menunjuk wajah Vee.


Mae menggenggam erat tangan wanita itu dan menurunkan nya, ia tidak terima dengan sikap wanita itu kepada Vee.


"Jaga sikap anda nyonya, jangan pernah sekalipun anda mengarahkan telunjuk anda di hadapannya." Ucap Mae dengan tegas.


"Kau bahkan membela wanita yang tidak memiliki sopan santun ini." Ucap ibu tiri Vee.


"Tahu darimana anda jika Vee tidak memiliki sopan santun? Apakah anda tinggal bersama dengan nya, atau apakah anda tahu bagaimana kehidupan nya sehari-hari? Tidak, anda tidak tahu bagaimana Vee hidup. Karena Vee tinggal bersama dengan kami, kami yang lebih tahu bagaimana dia." Ucap Mae, wanita itu menatap Mae dengan tajam.


Ia merasa tidak terima karena banyak yang membela Vee, ia kira jika dirinya berkata seperti itu akan membuat Mae menghakimi Vee atau bertanya banyak tentang Vee.


"Nyonya kau tahu apa tentang dia." Ujar nya, Mae tersenyum tipis dan menatap Vee.


"Tentu saja aku tahu banyak tentang nya, aku tahu dia wanita yang baik dan lembut. Dia begitu menyayangi suaminya, memperlakukan dan melayani suaminya dengan baik. Bahkan adik-adik dari suaminya pun begitu menyayangi Vee, bukankah itu tidak akan terjadi jika Vee bukan wanita yang baik? Aku percaya keluargaku tidak akan salah dalam memilih menantu." Ucap Mae, Vee menatap Mae dengan mata berkaca-kaca.


"Bahkan jika kakak ku Dea mendengar perkataan kamu, aku yakin dia tidak akan tinggal diam dan tidak akan menerima jika menantu kesayangan kau sakiti." Ucap Mae, wanita paruh baya itu bungkam seribu bahasa.


"Kau berhasil menghasut mereka Vee." Ucap seorang wanita, yang terlihat seusia dengan Vee.


"Sudahlah tidak ada gunanya bebicara dengan kalian, ayok sayang kita pergi saja." Ucap Mae, ia sudah tidak ingin mendengar perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut kedua wanita itu.


"Aunty." Panggil Vee.


"Iya sayang." Sahut Mae.


"Maaf karena menemani aku, aunty jadi mendengar kata-kata yang tidak baik." Ucap Vee, ia merasa tidak enak kepada Mae.


"Tidak masalah sayang ini bukan salah kamu." Ujar nya.


"Sekali lagi maafkan aku." Lirih Vee, Mae menangkup wajah cantik Vee lalu tersenyum manis.


"Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri sayang, karena sungguh ini bukan kesalahan kamu." Ucap Mae, Vee mengangguk membuat Mae tersenyum.

__ADS_1


"Lain kali jangan terlalu lembut kepada mereka, lawan saja kamu tidak sendirian ada kami yang akan membela kamu." Ucap Mae menyemangati Vee.


"Lawan dong berarti." Kekeh Vee.


"Lawan lah, contoh Anes dia selalu melawan orang yang mengganggu nya." Ucap Mae, ia sengaja mengatakan hal itu agar Vee tidak di tindas lagi.


Setelah mengatakan itu merekapun memutuskan untuk mengisi perut mereka, karena perdebatan tadi cukup membuat keduanya menjadi semakin lapar.


Mae memesankan makanan untuk Vee, apapun yang di pesan oleh Mae Vee akan memakan nya begitulah Vee ia selalu malas untuk memikirkan menu makanan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Sisain aunty ipar kaya Mae 😌*


A: Sok karungin Uun 😂


N: Oke Thor tunggu Thor 😂


A: 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2