
Setelah satu Minggu Axel mengalami koma barulah Tiana mau menemui lelaki yang kini terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit, Tiana berjalan di belakang Aiden dan Alexi di gandeng oleh Vee dan Alea.
"Aunty." Panggil Aiden, Mae menoleh dan menatap Aiden lalu ia melihat sosok menantunya yang terlihat berisi.
Air mata Mae mengalir deras di pipinya ia langsung berjalan mendekati Tiana dan memeluk Tiana, Tiana membalas pelukan Mae dan terisak disana.
"Maafkan Tiana yang baru kesini mi, maaf Tiana sudah egois dengan menjauh dari Axel." Lirih nya, Mae melepaskan pelukan nya dan menangkup wajah cantik Tiana.
"Enggak Tiana gak salah justru Axel yang salah karena sudah menyakiti Tiana." Ucap Mae, bahkan dalam keadaan seperti ini Mae tidak menyalahkan nya.
Hal itu semakin membuat dada tiada sesak, Julian menatap senyum kepada Tiana dan merentangkan kedua tangannya.
"Apa kabar putri papi hmmm." Ucap Julian, Tiana berlari kecil dan masuk kedalam pelukan Julian.
"Tiana baik-baik saja Pi." Ucap nya.
"Syukurlah dan terimakasih karena kamu mau menjenguk Axel." Ucap Julian, Tiana mengangguk dan meminta maaf kepada Julian karena baru mau menemui Axel sekarang.
"Aku tahu ini berat untuk kamu ini adalah ujian untuk kamu dan Axel, aku harap kamu dan Axel bisa bersama dan bahagia ya." Ucap Aleta, Tiana mengangguk dan berjalan masuk kedalam kamar rawat Axel.
Ia melihat Axel lelaki angkuh itu penuh dengan alat medis yang menempel di tubuh nya, Tiana tak kuasa menahan air mata dan berjalan mendekati Axel.
"Tuan hiks, bangunlah bukankah kau selalu marah jika aku memanggilmu dengan sebutan tuan." Lirih Tiana.
"Axel maafkan aku maaf hiks, aku jahat iya aku memang jahat aku wanita licik iya aku licik ayok bangun katakan semua itu kepadaku sekarang." Lirih Tiana.
"Axel kau tahu aku tidak suka melihat kamu terbaring seperti ini, bangunlah marahi aku ayok aku nakal sudah pergi meninggalkan kamu kan bangun El marahi aku ayok pukul dan bentak aku." Lirih nya lagi, semua orang yang menyaksikan itu menangis tersedu-sedu.
"Kenapa kau jahat sekali hmmm, kau selalu memarahiku sekarang kau seperti ini. Apakah kamu tidak ingin memanjakan aku dan anakmu." Lirih Tiana.
"Axel disini ada anakmu bangunlah kami sangat membutuhkan kamu." Raung Tiana, ia mengarahkan tangan Axel untuk menyentuh perutnya.
"Papa bangunlah aku dan mama ingin bersama papa, bangunlah bukankah papa sangat menginginkan kehadiranku." Lirih Tiana, ia tak tahan lagi melihat keadaan Axel yang seperti ini.
...
Waktu begitu cepat berlalu sudah satu Minggu Tiana bolak-balik ke rumah sakit, wanita itu mengurus dan merawat Axel dengan sangat baik.
Tiana juga membersihkan tubuh Axel dan menatap sendu Axel yang tak kunjung bangun, Tiana kembali menangis ia tak tahu jika semua akan seperti ini.
"Apakah ini hukuman untukku karena sudah meninggalkan kamu hmmm, kapan kamu bangun aku rindu kamu aku rindu suara kamu." Lirih Tiana.
"Axel bangunlah." Ucap Tiana, saat itu kebetulan ada Anes yang juga menjenguk Axel dengan adik sepupu Deandra.
__ADS_1
"Axel kau masih tak ingin bangun, bangunlah jika tidak aku akan membuat kamu tidak bisa lagi melihat Tiana dan anakmu." Ucap Anes, Tiana menoleh menatap Anes.
"Apa kau ingin lelaki si*l*n itu mendekati Tiana lagi hmmm, jika ya maka tidur lah selama mungkin." Ucap Anes, dan saat itulah tubuh Axel langsung merespon lelaki itu kejang-kejang membuat adik sepupu Deandra sedikit takut.
"K_kak." Lirih Cya.
Anes langsung menekan tombol untuk memanggil dokter, dan tidak lama kemudian dokter datang untuk memeriksa keadaan Axel.
"Bagaimana keadaan nya dok?" Tanya Anes khawatir.
"Tuan muda sudah melewati masa kritis nya nona." Ucap dokter, Anes dan Tiana tersenyum lega.
"Tiana aku harap setelah ini kamu dan Axel akan berbahagia, aku dan keluarga hanya bisa membantu sampai dini selebihnya kamu yang harus mengambil keputusan. Namun jika ada apa-apa kamu boleh mengatakannya kepada aku ataupun yang lain." Ucap Anes, Tiana mengangguk dan memeluk Anes.
"Terimakasih kak terimakasih banyak." Ucap Tiana.
"Tidak perlu sungkan kalau begitu aku pergi dulu karena takut anakku menangis." Ucap Anes, Tiana mengangguk dan tersenyum manis.
Malam hari Tiana menemani Axel dan menggenggam tangan lelaki itu, tak lama kemudian para saudara datang untuk menjenguk Axel.
"Axel belum membuka matanya?" Tanya Alexi.
"Belum." Ucap Tiana.
"Kenapa lama sekali apa kita perlu membuka matanya." Ucap Aleta.
"Tapi ini sangat lama." Ucap Aleta.
"Sabar ta semua butuh proses." Ucap Aiden, mereka duduk di sofa lalu makan malam bersama.
"Tiana ayok makanlah dulu kasihan kandungan kamu." Ucap Vee, wanita itu selalu mengingatkan makan kepada Vee.
"Aku belum lapar kak." Ucap Tiana.
"Jika tidak mau makan sebaiknya kamu pulang saja." Ucap Alea, akhirnya mau tak mau Tiana pun makan.
Matanya terus menatap Axel ia berharap Axel bangun sekarang, Aleta teringat jika siang tadi Anes datang kesini.
"Si Anes bener-bener menakutkan sebenarnya dia anak keluarga Abrisham atau keluarga Gavriel, kenapa kejam amat." Ucap Aleta.
"Kenapa Anes mengancam Axel pasti." Ucap Aiden.
"Iya sampai si Axel bisa melewati masa kritis nya." Ucap Aleta.
__ADS_1
"Ya itu bagus dong sayang Axel akan segera sembuh." Ucap Azka Aleta mengangguk.
"Ya iya si bener tau lah dia itu lucu-lucu ngeselin." Ucap Aleta, mereka tersenyum manis lalu menatap keadaan Axel.
"Kapan sadar si apa aku harus menyiram air ke wajah nya." Ucap Aleta.
"Kamu kelewat bar-bar lebih baik kita pulang sebelum kamu melakukan hal yang aneh." Ucap Azka, akhirnya merekapun memutuskan untuk pulang setelah menemani Tiana makan malam.
Setelah para saudara pergi Tiana berjalan kembali mendekati Axel, ia menggenggam tangan Axel dengan lembut.
"Masih tidak ingin bangun kah?" Lirih Tiana, ia mengelus tangan Axel lembut dan tersenyum tipis.
"Kau tampan jika sedang tidur." Lirih nya.
"Axel selamat malam selamat beristirahat, aku harap saat aku bangun nanti akan melihat kamu membuka mata dengan senyuman manis kamu." Ucap Tiana, ia menatap kepala Axel yang di perban ah lukanya pasti sangat parah.
"Maafkan aku." Lirih Tiana, lagi-lagi ia merasa bersalah kepada Axel.
Tiana memejamkan matanya dan meletakkan kepalanya di atas tangan Axel yang ia genggam, matanya mulai meredup dan wanita itu mulai masuk ke alam mimpi nya.
Bibir nya tersenyum manis entah apa yang sedang ia mimpikan, namun senyuman itu menggambarkan jika Tiana tengah merasa nyaman.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading π€π jangan lupa like komen dan vote nya ππ
N: Bangun ya El bangun noh Tiana udah datang
A: Yok bisa yok bangun π
__ADS_1
N: Harus bangun pokoknya βΊοΈ
A: πππ