
Di perjalanan menuju kantor setelah bertemu dengan Alea Anes terlihat lebih diam, hal itu membuat Aleta merasa penasaran kepada Anes.
"Kamu kenapa nes?" Tanya Aleta, Anes menoleh memiringkan tubuhnya menatap Aleta.
"Ta kok bisa ya cewek secantik Naura Xavier di khianati oleh kekasihnya." Ucap Anes, Aleta tertawa kecil.
"Nes kadang hidup itu pahit, kita gak akan pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan nya. Mungkin saja kemarin Naura di khianati dan bisa juga kan di masa depan nanti dia mendapat lelaki yang tepat." Ucap Aleta, Anes mengangguk.
"Bener si, tapi aku ngeliat dia kaya mendem sakit hati yang mnedalam ta." Ucap Anes, Aleta teringat dengan tatapan Alea kepada Anes.
"Tapi tadi aku lihat dia kaya seneng banget natap kamu nes." Ucap Aleta, Anes memukul tangan Aleta.
"Jangan ngarang deh aku masih normal ta, apa kata Daddy nanti kalau aku dengan Naura." Ucap Anes, Aleta mengernyit kenapa Anes bisa lemot seperti ini.
"Heh, yang bilang kamu suka sama Naura siapa si nes." Ucap Aleta, Anes diam ia tertawa setelah mengingat kesalahan nya.
"CK, maaf. Iya si tadi juga aku liat nya kaya gitu." Ucap Anes.
"Wanita secantik Naura saja bisa di khianati oleh saudara nya nes, apalagi kita yang jomblo berabad-abad." Ucap Aleta.
"Yang jomblo aku ta bukan kamu, lagian kamu kan sudah ada tambatan hati meskipun belum di publish." Ucap Anes.
"Oiya, haha kasian banget status doang putri tunggal tuan Justin. Taunya Masi jomblo." Ucap Aleta, Anes menatap Aleta dengan bengis.
"Ta lagi-lagi bahas soal perjombloan aku tendang kamu ke kutub Utara ta." Ucap Anes, Aleta tertawa ia selalu mendapat ancaman seperti itu dari Anes.
"Iyadeh maaf nona muda saya hilap." Ucap Aleta, Anes mencibir.
"Gaya doang punya tambatan hati, taunya kemana-mana selalu sama aku kamu." Ucap Anes, keduanya menjadi saling mengejek satu sama lain.
Sementara itu di tempat lain terlihat dua manusia yang sedang duduk berhadapan, setelah kepergian Anes dan Aleta tadi Alea menghubungi Alexi karena memang keduanya sudah sedekat itu sekarang.
"Sudah menunggu lama?" Tanya Alexi, lelaki itu rela meninggalkan pekerjaan nya hanya demi seorang gadis manis dan mungil.
"Tidak juga, apa aku menganggu pekerjaan mu." Ucap Alea balik bertanya, Alexi tersenyum gadis seperti Alea lah yang mampu membuat Alexi tidak terlalu menggilai pekerjaan nya.
__ADS_1
"Tidak, bagaimana kamu sudah memesan kado ulang tahun untuk mama." Ucap Alexi, Alea mengangguk ia memberikan gambar perhiasan yang dipilih nya.
"Bagus, mama kamu pasti suka dengan apa yang kamu pilihkan." Ucap Alexi, Alea mengangguk ia senang karena Alexi selalu menghargai pendapat dan keinginan nya.
"Alexi." Panggil Alea, Alexi menatap Alea seakan bertanya ada apa.
"Hmmmmm." Sahut lelaki tampan itu.
"Terimakasih karena sudah mau menjadi temanku." Ucap Alea.
"Teman hidup maksudmu, tentu saja tidak masalah." Balas Alexi, Blush pipi Alea merona membuat Alexi merasa gemas.
"Berhenti menggoda ku Alexi, kenapa setiap kali kita bertemu kamu selalu menggoda ku." Rengek nya, ah lihatlah melihat reaksi Alea seperti itu Alexi merasa ingin mencubit pipi gadis itu.
"Aku berbicara dengan kenyataan nya, tidak ada yang menggodamu Alea." Ucap Alexi, Alea menatap Alexi tuhan lelaki seperti apa yang kau ciptakan. Tampan yang menggemaskan itulah yang ada di fikiran Alea saat ini.
Jika kedua orang itu sedang mencoba berdamai dengan hatinya, maka tidak dengan pasangan yang satu ini. Ia justru sedang mencoba berdamai dengan calon anak nya.
"Sayang ayok cepetan." Ucap Vee memanggil Aiden.
"Sayang itu pohon kelapa nya terlalu tinggi." Ucap Aiden, Vee merengut ya wanita itu ingin sekali meminum air kelapa muda sepertinya segar.
"Ya aku tahu sayang itu keinginan baby, lagian ini anak belum keluar suka banget ngerjain Daddy nya." Grutu Aiden, Dea tertawa melihat sang putra yang buru-buru pulang dari kantor hanya karena Vee meminta Aiden untuk memanjat pohon kelapa.
"Sabar ai, kan ini keinginan kamu untuk punya baby." Ucap Dea, Vee menatap sendu suaminya.
"Siapa yang nanam pohon kelapa disini, besok-besok ini pohon harus udah di tebang." Ujar Aiden, lagi-lagi Dea tertawa.
"Gak boleh, siapa yang suruh kamu tebang pohon kelapa." Protes Vee, mom ayolah selamatkan putramu dari calon cucu mu ini.
"Sayang, beli saja gimana." Ucap Aiden, mata Vee berkaca-kaca ia ingin kelapa yang langsung dari pohon nya.
"Aiden." Ucap Dea, baiklah demi istri, demi anak dan demi jatah Aiden rela manjat pohon kelapa.
Dari bawah Vee terlihat kegirangan apalagi saat kepala pelayan membantu mengupas buah kelapa, Vee meminum air nya dengan cepat.
__ADS_1
"Sayang pelan-pelan." Ucap Dea, sementara Aiden ia tercengang melihat Vee. Pemandangan macam apa ini, Aiden yang manjat Vee yang menikmati hasilnya.
"Aku mau sayang." Ucap lelaki itu, saat sudah turun dari pohon.
"Ini, aku sudah kenyang." Ujar nya, Vee pergi begitu saja dengan menggandeng tangan Dea.
"Nasib-nasib." Gumam Aiden, kepala pelayan menunduk berusaha menyembunyikan tawa di wajah nya.
Ada rasa tak tega melihat tuan nya yang kelelahan, tapi mau bagaimana lagi ia lebih tak tega melihat Vee yang sedang mengidam.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉
N**: Semangat Aiden, tenang gue bantu doa 😂*
A: Gue yang aamiinin Uun 😂
N: Kita merdeka kalo liat Aiden di kerjain sama calon anak nya🤣
__ADS_1
A: Puas banget kan 😂
N: Yap 🤣🤣🤣