
Keesokan harinya di sebuah perusahaan besar terlihat seorang wanita yang sedang berjalan sambil menunduk, Tiana mencari liontin kalung nya yang entah bagaimana bisa jatuh.
"Duh dimana ya kok gak ada si." Gumam nya.
"Tiana kamu mencari apa?" Tanya senior nya.
"Aku mencari liontin kalung ku yang terjatuh mbak." Jawab nya.
"Kok bisa jatuh?" Tanya nya.
"Aku juga gak tau mbak." Jawab Tiana lagi.
"Yasudah kamu cari yang teliti semoga cepat ketemu, saya mau melanjutkan pekerjaan saya dulu." Ujar senior Tiana.
"Iya mbak terimakasih." Ucap Tiana, wanita itu mengangguk dan pergi.
Sementara Tiana terus mencari di si area kantor, karena Tiana merasa jatuh nya pasti di kantor tidak mungkin diluar hingga tiba-tiba Tiana menabrak seseorang.
Brukkk...
"Ashh, maaf-maaf." Ucap Tiana, saat ia akan mendongak Tiana merasa kepalanya menempel di dada seseorang.
"Kenapa kamu selalu membuat saya si*l." Sengit Axel, ya lelaki itu adalah Axel.
"Ma_maaf tuan sepertinya rambut saja tersangkut." Ucap Tiana, Axel mengusap wajah nya kasar.
"Cepat lepaskan." Ucap Axel.
"Ini saya lagi berusaha tuan." Ucap Tiana.
"Lebih cepat sedikit." Ucap Axel, Tiana kesal kenapa rambutnya harus tersangkut di kancing baju Axel si.
"Aduduh, tuan jangan mundur-mundur dong sakit kepala saya ketarik." Ringis Tiana, oh God bagaimana bisa mereka berada dalam posisi seperti ini di lingkungan kantor.
Axel merasa kesal karena kejadian dirumah sakit terulang lagi hanya berbeda posisi nya saja, saat itu posisi Axel mencoba untuk menolong Tiana yang hampir tertabrak oleh para perawat yang terlihat buru-buru.
Flashback on...
Saat itu ada seorang pasien yang tiba-tiba kritis hal itu menyebabkan beberapa perawat berlarian kesana-kemari, dan Tiana yang saat itu baru kembali dari kantin sedang berjalan melamun.
Dari kejauhan Axel melihat seorang perawat berlari dengan mendorong sesuatu, hal itu membuat Axel berlarian dan langsung merengkuh tubuh Tiana hingga keduanya terjatuh karena tubuh Axel yang tidak seimbang.
"Aaakh." Pekik keduanya, kepala Tiana bersandar di dada bidang Axel.
"Aduh-aduh." Ringis Tiana, saat rambutnya tersangkut di kancing kemeja Axel.
"Ada apa?" Tanya Axel.
"Ra_rambut saya tidak bisa lepas tuan." Ucap Tiana.
"Jangan bercanda kamu." Ucap Axel, lelaki itu mendorong kepala Tiana hingga membuat Tiana menjerit kesakitan.
"Aaaaa, aduh sakit tuan pelan-pelan tuan." Teriak Tiana, teriakan Tiana yang tidak jauh dari kamar rawat mama nya pun mengundang perhatian Mae dan yang lainnya.
"Yaampun Axel apa yang kamu lakukan?" Pekik Mae melihat Axel yang tiduran di lantai, dan kepala Tiana yang berada di atas dada Axel.
"Mi jangan berisik nanti banyak orang yang liat." Ucap Axel, lelaki itu berusaha untuk bangun hal itu diikuti oleh Tiana.
__ADS_1
"Kamu kalau sudah tidak tahan bilang dong tidak usah seperti ini, mami pasti akan langsung menikahkan kalian kok." Ucap Mae, mom Dea tertawa kecil melihat kelakuan Mae dan Axel.
"Mi gak tahan apa si, mami lihat nih rambut Tiana nyangkut di kancing kemeja aku." Ucap Axel.
"Alah modus itumah modus, sebenarnya Axel mau tuh tapi malu." Ledek Alexi.
"Mau apa jangan aneh-aneh deh." Kesal Axel, bukannya di bantu malah di ejek.
"Kamu memang tidak mau memiliki pasangan?" Goda Alexi.
"Ya, ya mau lah." Ucap Axel, Aleta dan Alexi tertawa kecil.
"Ya itu sudah dapat kan pasangan nya." Ucap Alexi, Axel mendelik tajam kepada Alexi.
"Mi tolongin apa ini anaknya sedang berada dalam kesulitan." Ucap Axel.
"Enggak ah mami mau foto kamu dulu terus kirim deh ke papi, biar kamu cepat-cepat di nikahin." Ucap Mae, Tiana panik dan menatap memohon kepada Alexi dan Aleta.
"Tuan." Lirih Tiana.
"Calon kok itu calon santai saja santai." Ucap Alexi, oh my bolehkah Tiana menendang Alexi yang memiliki tampang cool namun menyebalkan itu.
"Nyonya." Lirih Tiana, Mae menoleh dan menatap wajah memelas Tiana.
"Ada apa sayang?" Tanya Mae.
"Boleh minta tolong lepasin gak." Ujar nya.
"Tentu saja boleh kok boleh, sebentar ya." Ucap Mae, membuat Axel tercengang kenapa saat Tiana yang minta tolong Mae gerak cepat.
Axel tidak habis pikir sebenarnya anak Mae itu Axel apa Tatiana, kenapa Mae begitu baik kepada Tiana rasanya Axel seperti memiliki saingan baru.
Flashback off...
"Permisi pak kalau mau mesra-mesraan bisa di ruang kerja saja tidak." Goda Alexi, Axel menatap Alexi dengan kesal.
"Tolong lepaskan." Ucap Axel.
"Dih lepas saja sendiri." Ucap Alexi, Axel bergerak mendekati Alexi.
"Awh aw tuan sakit tuan." Pekik Tiana, Alexi tertawa puas melihat Axel dan Tiana.
"Tuan jangan banyak bergerak tuan sakit." Goda Alexi.
"Alexi bantu lepaskan atau_" Ucap Axel terhenti saat Julian papi nya muncul.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanya Julian, Axel kelabakan bagaimana papi nya bisa tiba-tiba datang ke kantor.
"Ini rambut dia tersangkut, sepertinya dia tidak pernah keramas sampai rambutnya selalu tersangkut." Ucap Axel.
"Enak saja saya selalu mencuci rambut ya tuan, bahkan pagi ini saya baru saja mencuci rambut." Ucap Tiana, Alexi mengulum bibir nya menahan tawa.
"Cepat lepaskan papi ingin bicara dengan kamu." Ucap Julian.
"Ambilkan gunting ambil." Ucap Axel kepada senior nya Tiana.
"Ap_apa gu_gunting untuk apa?" Tanya Tiana.
__ADS_1
"Ini tuan." Ucap senior Tiana.
Cekring... Rambut Tiana terlepas dari kancing kemeja Axel, dan Tiana tercengang saat menyadari rambutnya di gunting.
"Kenapa menggunting rambut saya?" Tanya nya.
"Agar cepat terlepas." Jawab Axel dengan cepat, sementara Alexi menunduk menyembunyikan tawa nya.
"Tiana kamu tidak apa-apa?" Tanya seniornya.
"Kak kepala aku." Lirih nya.
"Pitak tapi cuma sedikit kok." Ucap senior nya yang juga menahan tawa.
"Huaaaaa, dasar kutub Utara main gunting rambut orang sembarangan." Kesal Tiana.
"Sudah-sudah sabar ya, lagian bagaimana bisa rambut kamu tersangkut di kancing kemeja tuan Axel?" Tanya senior Tiana.
"Aku sedang mencari liontin kalung aku kak, dan tiba-tiba itu orang muncul seperti tuy*l." Ucap Tiana, seniornya tertawa dan mengusap pundak Tiana dengan lembut.
"Sudah ya sudah, liontin nya sudah ketemu?" Tanya senior Tiana.
"Belum hiks, bagaimana ini itu liontin pemberian dari papa." Lirih nya.
"Kita cari lagi nanti ya, sekarang kamu antarkan minuman dan makanan ke ruang kerja tuan Axel." Ucap senior Tiana.
"Bertemu dia lagi." Lirih nya.
"Ada tuan besar disana kamu antarkan dulu oke." Ucap seniornya, baiklah Tiana tidak bisa menolak lagi dan hanya bisa pasrah saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***: Axel sama ke Tiana udah kaya kucing liat tikus 😂
A: Kek liat mangsa ye kan 😂
N: Bener banget inimah 😂
A: 😂😂😂
__ADS_1