
Di kediaman Julian Tiana sudah selesai membersihkan tubuhnya, ia memakai pakaian rapi membuat Axel mengernyit heran akan kemana istrinya pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Axel memegang tangan Tatiana.
"Kenapa." Jawab Tiana membuat Axel mengernyit.
"Aku bertanya kau mau kemana?" Ujar nya.
"Aku mau ke rumah sakit untuk menyusul mami dan papi." Ujar nya, Axel menatap keluar jendela diluar masih hujan.
"Tidak perlu menyusul mereka ini sudah malam lagipula diluar hujan." Ujar nya, Tiana tercengang mendengar perkataan Axel.
Ini Axel kan? Sejak kapan lelaki itu perhatian kepadanya, tunggu apa karena tadi Tiana di antar oleh bos nya ia terus menatap wajah tampan Axel yang terlihat dingin.
Axel yang sadar jika dirinya sedang di perhatikan mengusap wajah Tatiana dengan tangan nya, hingga membuat lamunan Tiana buyar.
"Aku tahu aku tampan tidak usah menatapku seperti itu." Ujar nya, setelah mengatakan itu Axel keluar dari kamar nya meninggal Tiana seorang diri.
Tatiana duduk di samping tempat tidur ia memegang dada nya yang berdebar kencang, ini pertama kalinya Axel memegang tangan Tiana tanpa kasar dan mengusap wajah wanita itu begitu saja.
Saat sadar Tiana mendengus dan menatap pintu keluar, Axel pikir siapa dia dikira hanya dengan perlakuan seperti itu bisa membuatnya luluh pikir Tiana.
Keesokan harinya di kediaman Justin terlihat Aleta dan Alea yang kegirangan saat mendapat kabar jika Aleta sudah melahirkan, mereka tidak sabar ingin segera melihat anak Aleta dan Azka.
"Aku sedang banyak urusan akhir-akhir ini, mungkin aku akan melihat anak Azka nanti setelah Aleta keluar dari rumah sakit." Ucap Alexi.
"Aku juga ada beberapa pekerjaan penting yang harus aku selesaikan dengan cepat, titip salam saja untuk orang-orang yang ada disana." Balas Aiden, Alexi mengangguk menyetujui.
"Yasudah tidak apa-apa mereka akan mengerti, para suami bisa fokus bekerja untuk anak istri kalian." Ucap mom Dea.
"Mom untuk sekarang hasil kerjaku hanya untuk kamu honey, anak-anak kita sudah dewasa bahkan sudah bisa membiayai wanita-wanita nya." Ucap dad Justin bangga, Aiden dan Alexi mencebikan bibirnya membuat Dea dan Justin tertawa kecil.
"Jangan lupa masih ada cucu kalian yang ingin menikmati hasil kerja opa nya." Ucap Aiden.
"Anak kurang asem lalu apa gunanya kamu sebagai Daddy Varo hmmm, jika kebutuhan Varo saja harus Daddy yang penuhi maka sematkan nama Daddy di belakang nama putramu." Ucap dad Justin, Aiden mendengus dengan ocehan Daddy nya.
"Dad apakah usiamu sudah sangat tua sampai kau lupa jika nama putraku memakai namamu yang tersemat di namaku, Giovaro Abrisham bukankah itu namamu tuan besar Abrisham." Cibir Aiden, Alexi tertawa geli dengan kelakuan kakak dan Daddy nya.
"Ah i'm sorry boy aku melupakan nya." Ucap dad Justin.
"Usia tidak akan pernah berbohong, sekalipun kau masih terlihat tampan tidak memungkiri jika usiamu sudah renta." Goda Aiden, dad Justin tidak terima dengan perkataan putranya.
"Hey aku masih perkasa jika tidak percaya tanyakan kepada mommy kamu betapa perkasa nya Daddy." Ucap dad Justin, mom Dea menepuk dahinya sendiri mendengar perkataan suaminya.
__ADS_1
"Dad itu rahasia kita tolong jaga perkataan kamu honey." Ucap mom Dea.
"Maaf tapi anakmu ini benar-benar memancing emosiku." Ucap dad Justin.
"Kakek-kakek memang mudah terbawa emosi." Cibir Alexi, dad Justin memelototkan matanya.
"Apa ini kenapa kedua putraku malah menyerangku, hei apa kalian lupa jika tidak ada Daddy maka kalian tidak ada di dunia ini." Ucap dad Justin.
"Salah dad harusnya jika tidak ada mommy maka aku, Alexi dan Anes tidak akan ada di dunia ini." Ucap Aiden, sudahlah anak itu selalu membuat Daddy nya kesal.
"Sayang apa salahku kepadanya, bukankah dia putra pertama yang sangat aku sayangi dan aku lindungi. Tapi lihatlah sekarang dia malah mengatai Daddy nya." Ucap dad Justin kepada mom Dea.
"Sudah cukup bertengkarnya jika kami terus menyaksikan pertengkaran kalian kapan kami bisa pergi ke rumah sakit." Ucap mom Dea, akhirnya ketiga lelaki tampan itu bungkam dan bersiap untuk pergi ke kantor nya masing-masing.
Sesampainya di rumah sakit mom Dea berjalan menuju kamar rawat Aleta, disana ada Mae dan Tatiana yang sedang menemani Aleta.
"Hai maaf mommy baru menjenguk kamu sayang." Ucap mom Dea berjalan dan memeluk Aleta.
"Iya tidak apa-apa mom." Ucap Aleta, mom Dea mengecupi wajah Aleta membuat Tiana tersenyum manis.
Keluarga ini begitu tulus dan saling menyayangi, Tiana kembali berpikir jika ia meninggalkan Axel belum tentu dirinya akan mendapatkan orang tua dan ipar sebaik mereka.
Dari sini Tiana menangkap lebih baik berusaha keras menaklukan satu orang untuk menyayangi nya tanpa harus mengemis perhatian anggota keluarga, karena Tiana sudah mendapatkan itu dari keluarga Axel
"Tiana mommy kangen kamu." Ucap mommy, memeluk Tiana membuat Tiana bahagia karena tidak di beda-bedakan.
"Cepat-cepat mengandung ya nak agar kami para orang tua segera menimang cucu dari kalian." Ucap mom Dea mengelus perut rata Tiana, sebenarnya bukan itu yang mom Dea maksud lebih tepatnya wanita itu sedang menyindir Axel yang sedang duduk di sofa.
"Kalau Tiana belum ada tanda-tanda kehamilan itu artinya Axel kurang perkasa." Cibir Mae.
"Kenapa hanya aku bagaimana dengan Alexi." Ucap Axel.
"Alexi sudah akan memiliki anak asal kamu tahu, Alea sedang mengandung sekarang." Ucap Vee mengelus perutnya Alea yang memang sedikit mengembang.
"Hah." Ucap Mae, Axel dan Aleta.
"Beneran?" Tanya Aleta.
"Emmh, sudah delapan Minggu." Ucap Alea mengelus perutnya dengan bangga.
"Waaah Alexi tokcer juga ya." Ucap Aleta, Axel menelan saliva nya ia benar-benar terpojokkan saat ini.
"Axel apa kamu tidak bisa se cepat Alexi." Celetuk Mae.
__ADS_1
"Sabar mi nanti Axel usahakan." Ujar nya tidak mau terkalahkan, perkataan Axel membuat tubuh Tiana tegang dan bulu kuduk nya meremang.
"Khem mom mami kalau begitu Tiana permisi untuk pergi bekerja." Ujar nya, ia tak ingin lama-lama mendengar percakapan yang membuat kepalanya berputar.
"Kamu tidak mengambil libur saja?" Tanya Aleta.
"Enggak kak ammm ini juga sudah siang jadi Tiana permisi dulu." Ujar nya, mengecup pipi Dea, Mae, Aleta, Vee dan Alea secara bergantian namun ia melewati Axel begitu saja membuat mom Dea mengernyit heran.
"Hati-hati dijalan sayang." Ucap mom Dea, Tiana mengangguk dan berjalan terburu-buru keluar dari kamar rawat Aleta.
"Kenapa Tiana seperti tidak ingin menyentuh kamu." Tanya mom Dea.
"Tidak tahu mungkin alergi." Jawab Axel santai, lelaki itu meraih ponselnya yang ia letakkan di atas meja dan pamit pergi ke kantor.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N***: Mulai seru ni antara Axel dan Tatiana 😂
A: Seru dari mana pala gue pusing mikirin alur nya, sepertinya saya butuh asupan Uun 😂
N: Pengen apa lu Thor ngomong Thor ngomong 🤣
A: Pengen refreshing Lo kira pengen apa hah 😌
N: Gue kira pengen punya laki kaya Axel 😂
__ADS_1
A: Heh Ngadi-ngadi kaga mau ya, tapi kalo beneran kaya Axel segala-galanya si boleh dibicarakan baik-baik un 😂
N: Kurang asem 🤣🤣🤣