
Malam hari Axel menatap Tiana yang sedang duduk bersandar di tempat tidur nya, Axel duduk di samping Tiana dan menatap wajah cantik istrinya.
"Kenapa?" Tanya Axel.
"Kaki aku pegal-pegal sayang." Lirih Tiana memijat kakinya sendiri.
"Bersandar saja biar aku yang memijat nya." Ucap Axel, Tiana menatap tidak enak kepada Axel.
"Eh jangan gak usah aku bisa sendiri." Ucap Tiana.
"No nanti perut kamu kejepit kalau kamu pijit kaki sendiri." Ucap Axel, akhirnya Tiana pun hanya bisa mengangguk pasrah atas perkataan suaminya
"Sudah sayang." Ucap Tiana.
"Sudah kalau begitu ayok kita tidur." Ucap Axel, Tiana mengangguk dan masuk kedalam pelukan suaminya.
"Apakah nyaman?" Tanya Axel, Tiana mengangguk cepat dan tersenyum manis.
"Sangat nyaman." Ujar nya, Axel tertawa kecil saat melihat mata indah Tiana mengerjap lucu.
"CK, menggemaskan sekali." Kekeh Axel mengecup kening Tiana.
Tiana tersenyum ia bahagia akhirnya kini bisa merasakan kasih sayang Axel, kasih sayang yang ia harapkan sejak dulu.
"Aku mengantuk." Lirih Tiana, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Axel.
"Tidurlah sayang." Ucap Axel, lelaki itu mengusap punggung Tiana agar istrinya cepat tidur dalam pelukannya.
Setelah dirasa Tiana sudah terlelap Axel pun ikut menyusul Tiana ke alam mimpi nya, Axel memeluk Tiana dengan lembut.
...
Satu Minggu berlalu dan kini sikap Alexi masih dingin kepada Alea, bahkan Alea tidak tahan lagi dengan sikap suaminya seakan ingin membuktikan jika keluarga Alexi memang mendiamkan Alea seperti tuduhan kedua orang tua Alea.
"Sayang." Lirih Alea saat Alexi keluar dari kamar mandi, Alea memeluk Alexi dari belakang membuat Alexi menghela nafasnya.
"Alea lepaskan aku ada meeting penting pagi ini." Ucap Alexi, hal itu membuat Alea menangis dan Alexi menghela nafasnya lalu membalikkan tubuhnya menatap Alea.
"Hiks... Kenapa kamu mendiamkan aku selama ini." Lirih Alea, Alexi sebenarnya merasa tidak tega namun mau bagaimana lagi ia masih kecewa dengan orang tua dari istrinya.
"Hapus air matanya." Ucap Alexi, meskipun begitu Alexi tetap tidak ingin Alea menangis karenanya.
"Aku akan pergi sekarang jika butuh apa-apa minta pelayan atau Vee untuk membantu kamu." Ucap Alexi.
"Tapi aku ingin bersama kamu." Lirih Alea.
"Alea jangan manja aku tidak bisa terus bersama kamu, aku harus pergi jaga diri baik-baik." Ucap Alexi, setelah kepergian Alexi Alea bersiap-siap dan mengambil tas nya.
Alea berjalan menuruni anak tangga dengan berlari kecil, Vee yang melihat itu cukup terkejut pasalnya kandungan Alea sudah lumayan besar sekarang.
"Alea hei hei kamu kenapa?" Tanya Vee, memegang tangan Alea mencoba menenangkan adik ipar nya.
"Lepasin aku kak." Lirih Alea.
__ADS_1
"Gak aku gak akan lepasin kamu, kamu mau kemana?" Tanya Vee.
"Aku mau kerumah mama dan papa bukankah Alexi bersikap dingin karena mereka, mereka yang selalu mempercayai Alia sampai mengorbankan putri kandung mereka." Ucap Alea berapi-api.
"Putri kandung apa maksudnya?" Tanya Vee.
"Kak hiks... Aku harus pergi lepasin." Ucap Alea, wanita itu menepis tangan Vee sampai terlepas dari tangannya dan berlari keluar rumah.
Vee yang khawatir mengejar Alea ia takut terjadi sesuatu kepada adik iparnya, Vee mengusap wajah nya kasar dan memanggil supir.
"Pak pak tolong kejar nona Alea." Ucap Vee.
"Baik nona." Jawab nya, merekapun mengejar Alea di perjalanan Vee mencoba menghubungi Alexi namun tidak di jawab ah mungkin Alexi sedang meeting sebaiknya Vee mengirimkan pesan saja kepada Alexi.
Setibanya di kediaman tuan Xavier Alea berjalan cepat kedalam rumah, Alea berteriak memanggil nama Alia sampai membuat sang mama terkejut.
"Alia keluar kamu Alia." Teriak Alea.
"Naura apa yang kamu lakukan kenapa berteriak seperti itu?" Ucap mama, menghampiri Alea.
"Jangan sentuh aku." Teriak Alea, mama tercengang ada apa dengan putrinya apakah Alexi menyakiti Alea.
"Apa yang dilakukan Alexi apakah dia menyakiti kamu?" Tanya mama memasang wajah sinis nya.
"Cukup, mereka tidak pernah menyakiti aku sedikitpun tapi kalian_ justru kalian yang menyakiti aku." Teriak Alea.
"Apa-apaan kamu datang-datang berteriak dan marah-marah kepada mama." Ucap Alia berjalan menuruni anak tangga.
"Jangan banyak bicara kamu, plaa*akkkkkk!" Ucap Alea yang langsung men*mpar pipi Alia.
"Cih, kakak kamu bukan kakak aku." Sinis Alea.
"G*la ini anak ma kayaknya mulai sadar kalau Alexi dan keluarga nya gak baik." Ucap Alia, tanpa ragu Alea menarik rambut Alia dan menyandarkan tubuh Alia di dinding.
"Naura cukup apa yang kamu lakukan." Teriak mama.
"Tentu saja memberikan pelajaran kepada anak pung*t ini, anak pung*t kau Alia anak pung*t yang tidak tahu d*r*." Ucap Alea menc*k*k leher Alia.
"Alea." Teriak Vee terkejut melihat Alea yang membabi buta.
"Alea lepasin kamu bisa memb*n*h Alia." Ucap Vee.
"Biarin biarin dia ma*i biar ikut dengan orang tuanya." Teriak Alea, Alia berkaca-kaca kata-kata itu ternyata keluar dari mulut Alea.
"Gak Alea jangan." Ucap Vee.
"Kenapa dia sudah merebut semuanya dari aku kak, mama, papa, Haris dan sekarang dia belum merasa puas sampai ingin merusak rumah tangga aku dan Alexi." Teriak Alea, ia melempar tubuh Alia kesamping hingga membuat wanita itu terbatuk dan duduk di lantai dengan menangis.
"Naura mama kecewa kepada kamu." Bentak mama, ia langsung memeluk Alia.
"Aku tidak peduli mau mama mengatakan aku anak durh*ka pun aku sudah tidak peduli, ma apa mama pernah berpikir bagaimana perasaan aku? Bagaimana kehidupan aku karena mama selalu membela Alia." Lirih Alea, mama menatap sinis putrinya yang ada di pelukan Vee.
"Kamu seperti bukan anak mama." Teriak mama.
__ADS_1
"Ya, aku memang bukan anak mama sekarang mama sudah puas? Mama tahu karena mama selau menuruti keinginan Alia dan percaya dengan kata-katanya hampir saja Alexi mengembalikan aku kerumah, itu yang mama mau? Melindungi anak pung*t mama dan menghancurkan kebahagiaan dan kehidupan anak kandung mama. Wah ma aku menyesal merasa kasihan kepada anak pung*t mama, tahu akan seperti ini aku biarkan saja dia ma*i." Ucap Alea, mama menangis sesenggukan mendengar kenyataan jika putri kecilnya terluka.
"Alea." Lirih Vee, saat Alea tiba-tiba terduduk di lantai.
"Aku anak kandung mama Alea Naura Xavier tapi kenapa mama lebih memilih Alia, bukan soal janji kepada orang tua Alia ma tapi ini sudah keterlaluan." Teriak Alea lagi.
"Naura." Lirih mama.
"Mama tahu setelah hiks... Kejadian mama yang tiba-tiba datang kerumah mommy Alexi mengetahui tujuan mama, selama itu dia mendiamkan aku apa mama tahu Alexi yang biasanya hangat kini menjadi dingin. Dan ma bagaimana kalau mommy dan Daddy tahu, apakah mereka juga akan mendiamkan Alea? Lalu setelah itu Alea harus gimana apakah Alea harus hidup sendiri?" Lirih nya, mama merasa dadanya sesak melihat Alea yang menangis.
"Nak apakah kamu begitu terluka?" Tanya mama.
"Menurut mama? Ma Alea mencintai Alexi Alea bahkan tidak pernah mengganggu kehidupan anak pung*t mama dengan suaminya. Dan aku selalu berusaha agar Haris tidak menceraikan Alia. Tapi kenapa kalian malah seperti ingin Alexi meninggalkan aku kenapa?" Lirih Alea, ia bangun dan kembali menarik rambut Alia.
"Aaaaa hiks ma sakit." Lirih Alia.
"Kau selalu ingin bun*h diri maka sekarang aku akan membantu kamu Alia." Sinis Alea.
"Alea no lepaskan Alia." Teriak Vee, Vee menarik tangan Alea dan memeluk nya.
"Kak lepasin aku." Teriak Alea.
"Enggak sayang enggak." Ucap Vee.
"Naura cukup jangan si*sa mama seperti ini." Lirih mama.
"Ma aku sudah menyakiti mama bukan, maka akan aku lepaskan marga Xavier dari namaku." Ucap Alea dengan yakin, mama tercengang begitupun dengan Alia.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N: Puas banget loh aku disini 😂
A: Gue yang nulis geregetan Uun 😌
N: Ya resiko 😂
__ADS_1
A: Hilih 😒
N: 😂😂😂