Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 144


__ADS_3

Sore hari Anes pulang ke apartemen nya, ia ingin tahu apakah lelaki itu sudah pergi atau belum.


Anes membuka pintu dengan hati-hati takut-takut jika orang yang di bantu nya masih ada di apartemen, Anes mengedarkan pandangannya kesana kemari.


"Sepertinya dia sudah pergi." Gumam Anes, wanita itu berjalan menuju kamar tamu.


Kamar yang semalam di tempati oleh lelaki aneh yang ditolong nya, Anes melihat kamar itu rapi dan tak berpenghuni.


Saat Anes mengedarkan pandangannya ia melihat selembar kertas di atas malas, Anes berjalan mendekati meja yang berada tepat di samping tempat tidur.


(Siapapun kamu, saya ucapkan terimakasih atas kebaikan kamu karena mau membantu saya. Entah apa niat kamu sebenarnya mengajak saya ke apartemen kamu, tapi disini saya tidak mau berhutang kepada orang seperti kamu.) Kurang lebih seperti itulah isi surat nya.


Tak hanya itu lelaki itu juga meletakkan selembar cek yang membuat Anes tercengang, ia benar-benar tidak habis pikir kepada orang itu.


Ternyata dia benar-benar lelaki sombong dan arogan, Anes hanya melirik sekilas cek itu lalu memutuskan untuk pulang kerumah nya.


"Dia pikir dia siapa, apakah dia berpikir jika aku orang yang tidak memiliki uang." Geram Anes, sepanjang perjalanan wanita itu terus menggerutu.


Setibanya di rumah Anes melihat Aiden dan Vee yang sedang duduk santai di ruang keluarga, tanpa banyak bicara Anes langsung duduk disamping Vee.


"Eh, kamu kenapa?" Tanya Vee, Anes melirik Vee lalu menyomot makanan yang ada di pangkuan kakak ipar nya.


"Tidak apa-apa." Jawab Anes, Aiden melirik adil nya sekilas.


"Setelah kemarin tidak pulang kerumah, sekarang pulang dengan wajah di tekuk seperti itu." Ucap Aiden.


"Lalu aku harus bagaimana, haruskah aku tertawa dan melompat-lompat." Ucap Anes, Aiden menggelengkan kepalanya ia selalu kalah jika berdebat dengan Anes.


"Tidak seperti itu yang aku maksud." Geram Aiden.


"Katakan seperti apa yang kau maksud?" Tanya Anes, Aiden ingin sekali memasukkan Anes kedalam karung dan melemparkannya ke kali.


"Terserah padamu Anes." Ucap Aiden mulai lelah, Vee tertawa kecil melihat tingkah keduanya.


"Sudah, kenapa kalian malah berdebat seperti ini." Ucap Vee.


"Kak ai yang mulai." Kesal Anes, Aiden mencibir selalu saja dirinya yang salah.


"Iya aku yang mulai, aku yang salah kau puas!" Ucap Aiden, Anes hanya mengangkat bahu nya saja.


Vee tertawa keadaan seperti inilah yang selalu membuat nya terhibur, Anes dan Aiden selalu bisa membuat Vee tertawa dengan hal-hal kecil yang mereka lakukan.


.....


Satu Minggu berlalu hari ini Anes memutuskan untuk pergi ke supermarket atas permintaan Vee, ibu hamil itu meminta Anes pergi untuk membeli sesuatu.


Saat Anes akan mengambil sebuah barang seseorang menabrak nya, hal itu membuat Anes kesal dan menoleh.


"Kau_" Pekik Anes, lelaki itu menatap Anes dengan datar.


"Kenapa dunia terasa begitu sempit." Ujar nya.


"Cih, aku selalu si*l saat bertemu dengan mu." Ucap Anes, lelaki itu menatap Anes dengan kesal.


"Apa maksudnya?" Tanya lelaki itu.

__ADS_1


"Menurutmu apa." Ucap Anes, saat keduanya sedang berdebat wanita paruh baya menghampiri mereka.


"De apa yang terjadi?" Tanya nya, lelaki itu menoleh menatap wanita yang berdiri di samping nya.


"Tidak ada apa-apa ma." Jawab nya, wanita paruh baya itu mengalihkan pandangan nya menatap Anes.


"Kamu mengenalnya?" Tanya nya.


"Tidak." Jawab lelaki itu, membuat Anes membulatkan matanya.


"Benarkah?" Tanya nya lagi.


"Benar kami tidak saling mengenal, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Anes, wanita paruh baya itu menatap Anes yang berjalan menjauh.


"Apa kamu memiliki masalah dengan nya?" Tanya wanita tua itu.


"Tidak, apa masih ada yang mama butuhkan." Ujar nya.


"Tidak ada, mari kita pergi saja." Ujar nya, lelaki itupun mengangguk.


Di kasir ia kembali bertemu dengan Anes, sementara Anes ia malas sekali melihat lelaki itu. Anes terlihat cuek keduanya sama sekali tidak seperti orang yang pernah bertemu.


Setelah membayar semua belanjaan nya Anes memutuskan untuk langsung pulang, saat akan berjalan ke parkiran Anes melihat wanita paruh baya yang tadi bertemu dengan nya.


"Nyonya apa yang anda lakukan?" Tanya Anes, saat melihat wanita tua itu memegang kepalanya.


"Tidak apa-apa, hanya saja kepalaku sedikit pusing." Jawab nya.


"Apakah anda baik-baik saja, atau mau di antar ke dokter?" Tanya Anes, wanita tua itu tersenyum manis kepada Anes.


"Baiklah kalau begitu, jika memang anda baik-baik saja saya permisi dulu." Ucap Anes, wanita tua itu mengangguk dan menatap kepergian Anes.


Ia merasa senang melihat keramahan Anes terhadap nya, ia ingin sekali mengenal Anes lebih jauh lagi.


"Ma ayok kita pulang." Ucap seseorang, wanita tua itupun menoleh kepada putranya.


"Hmmmmmm." Jawab nya.


Merekapun pergi dari supermarket menuju kediaman masing-masing, di perjalanan Anes fokus melajukan mobilnya.


Hingga akhirnya Anes tiba di kediaman Justin, ia turun dari mobil dan meminta pelayan untuk membawakan barang belanjaan nya.


"Kamu sudah pulang." Tanya Vee, Anes tersenyum dan duduk di sofa.


"Hmmmmmm." Jawab Anes.


"Bagaimana apakah barang yang aku minta sudah kamu belikan?" Tanya Vee, Anes menatap Vee dan tertawa kecil.


"Kau itu kenapa hmmmmmm, tentu saja aku sudah membelikan nya untuk kamu." Ucap Anes, Vee tertawa kecil lalu duduk di samping Anes.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Vee.


"Seperti apa?" Tanya Anes, Vee mendekati wajah Anes dan membuat Anes mengernyit heran.


"Apa ada seseorang yang menggangu kamu?" Tanya Vee, Anes kelabakan kenapa Vee selalu bisa menebak ekspresi wajah nya.

__ADS_1


"Ti_tidak." Jawab Anes.


"Benarkah?" Tanya Vee lagi.


"Hmmmmmm, kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Anes.


"Tidak apa-apa, hanya saja wajahmu aneh. Saat pergi kamu terlihat begitu tenang, namun saat kembali wajahmu terlihat kusut." Ucap Vee, Anes tersenyum manis kepada kakak iparnya itu.


"Aku baik-baik saja kakak ipar." Ucap Anes, baiklah Vee untuk kali ini kamu harus percaya dengan perkataan Anes.


"Baiklah jika seperti itu." Ucap Vee, Anes mengedarkan pandangannya.


"Dimana mommy?" Tanya nya.


"Mommy sedang pergi katanya ada urusan penting." Ucap Vee, Anes mengangguk baiklah biarkan mommy nya itu pergi.


"Sepenting apa sampai mom harus pergi." Ucap Anes.


"Mana aku tahu, aku tidak pernah bertanya mengenai urusan mommy." Jawab Vee, Anes mengangguk di antara mereka memang tidak pernah ada yang kepo tentang urusan Dea.


Yang terpenting bagi mereka mommy nya tidak melupakan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri dan seorang ibu yang baik, itu saja sudah cukup untuk Anes dan Vee.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Aku penasaran sekali miskah 😂*


A: Penasaran Mulu heran 😒


N: Abis gimana ya, belum ada hilal yang pasti si 😂


A: Hilal kaga tuh 🙄

__ADS_1


N: 😂😂😂


__ADS_2