
Sore hari Aiden pulang dari kantor nya ia berjalan memasuki rumah, para pelayan menyambut kepulangan tuan nya.
"Selamat sore tuan." Sapa nya.
"Hmmm, dimana Vee." Ucap Aiden.
"Nona sedang berada di kamar nyonya tuan." Jawab nya.
"Oiya tadi Alexi pulang kerumah?" Tanya Aiden lagi.
"Benar tuan tadi tuan muda Al pulang bersama dengan nona muda Alea, tapi setelah melihat kondisi nyonya sudah membaik tuan muda pamit untuk mengantar nona muda Alea pulang." Ucap nya jujur.
"Baik kalau begitu saya permisi untuk pergi ke kamar mommy." Ucap Aiden, pelayan pun mengangguk dengan sopan.
Aiden berjalan menaiki anak tangga ia ingin melihat keadaan mommy nya, Vee yang saat itu kebetulan baru saja keluar dari kamar mommy.
"Kamu sudah pulang." Ucap Vee, Aiden mengangguk dan mengecup kening Vee.
"Hmmm, bagaimana keadaan mommy sayang." Ucap Aiden.
"Sudah lebih baik dari sebelumnya, demam mommy juga sudah turun." Ucap Vee.
"Syukurlah, dimana Varo?" Ucap Aiden, lalu menanyakan keberadaan putranya.
"Varo sedang berada di taman belakang bersama suster, kamu ke kamar dan bersih-bersih dulu aku mau ambil Varo." Ucap Vee, Aiden mengangguk lalu pergi ke kamar nya.
Sementara Vee wanita itu pergi ke taman belakang, ia melihat suster yang menjaga Caro dengan baik.
"Hallo sus Varo nya mau saya ajak ke kamar boleh." Ucap Vee.
"Nona, tentu saja boleh nona silahkan." Ucap suster.
"Oke terimakasih sus sudah menjaga Varo dengan baik." Ucap Vee, wanita itu mengambil tubuh mungil Varo dari stroller baby.
Setelah itu Vee pamit kepada suster untuk pergi ke kamar nya, sementara itu di sebuah jalan raya terlihat seorang gadis yang sedang berjalan.
"Ngapain tuh cewek di jalanan malam-malam seperti ini." Gumam Axel, ya Axel yang kebetulan sekali melewati jalan itu.
Axel menatap wanita itu dengan intens, sepertinya ia mengenali wanita itu tapi_ Tiana ya wanita itu seperti Tiana.
"Cih, dia pasti mau mencari perhatian berjalan malam-malam seperti ini di jalanan." Ucap Axel, yaiyalah jalan di jalanan yakali jalan di udara itu namanya terbang Axel.
Axel melihat Tiana yang pergi ke sebuah apotek, tanpa Axel sadari dibelakang mobil miliknya yang mengikuti Tiana ada mobil Aleta bersama dengan Anes.
"Axel ngapain ngikutin Tiana." Ucap Aleta.
"Gak usah pura-pura bo*oh ta, mungkin saja Axel sudah mulai tertarik kepada Tiana." Ucap Anes.
"Masa sih, secepat itu?" Tanya Aleta.
"Hei, prasaan tidak ada yang tahu ta. Bisa saja kan sehari bertemu langsung jatuh hati." Ucap Anes.
"Iya si, tapi kenapa kamu masih belum jatuh hati kepada Deandra." Ucap Aleta, membuat Anes mencomot bibir nya.
"Jangan bahas aku ta, kisah ku begitu suram bagaikan malam tanpa lampu." Ucap Anes, Aleta tertawa mendengar perkataan Anes.
__ADS_1
"Nes Tiana sudah pergi tuh nes, kita ikutin Axel apa ikutin Tiana." Ucap Aleta, Anes terdiam kenapa ia merasa ingin tahu kehidupan Tiana.
"Am, ta kita ikutin Tiana aja kali ya lagian itu mobil Axel juga ngikutin Tiana kok." Ucap Anes.
"Yasudah ayok lah gas." Ucap Aleta.
Mereka tiba di depan sebuah gang yang terlihat begitu sempit, Tiana masuk kedalam gang kecil itu membuat Anes dan Aleta saling pandang.
"Kayaknya kita gak bisa masuk kedalam pake mobil deh ta." Ucap Anes.
"Kenapa?" Tanya Aleta, Anes menyentil kening Aleta.
"Kamu gak liat itu gang nya Aleta, itu hanya cukup untuk motor saja." Ucap Anes.
"Oiya haha maaf nes, jadi gimana kita turun aja nih." Ucap Aleta.
"Yasudah ayok, tapi itu Axel kok langsung pergi ya." Ucap Anes.
"Udahlah biarin aja dia kan selalu galak kepada Tiana." Ucap Aleta.
"Iya juga si kamu benar, yasudah ayok." Ucap Anes, Anes dan Aleta pun memutuskan untuk berjalan kaki.
Mereka berjalan kaki mengikuti Tiana yang sudah berada jauh di depan sana, ini malam hari bisa-bisanya Anes dan Aleta mengekori Tiana.
"Nes Tiana tinggal disini?" Tanya Aleta, wanita itu mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan.
"Mana aku tahu ta, aku saja baru pertama kali kesini kan bersama kamu." Ucap Anes.
"Oiya bener juga." Ucap Aleta tertawa kecil.
"Nes mana Tiana kok hilang." Ucap Aleta, Anes mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Tiana.
"Ashhh, sakit Aleta." Pekik Anes.
"Mon maap ni Wak itu warung Wak warung, bukan minimarket lagian mana ada minimarket di gang kecil begini kamu ngarang ya." Ucap Aleta, Anes menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya kan itu jualan ta ada banyak camilan juga." Ucap Anes.
"Serah kamu deh nes, begini nih kalau gak pernah main ke daerah-daerah tertentu. Taunya cuma kota, perumahan sama pulau saja." Sengit Aleta, Anes mendengus kesal.
Anes kan selama ini memang tidak memiliki teman selain rekan bisnis, bukan apa-apa Anes pernah kecewa karena seorang teman.
"Udah si gak usah ngatain orang." Ucap Anes, Aleta menggandeng tangan Anes.
"Permisi." Ucap Aleta.
"Permisi." Balas Anes.
"Iya ada apa neng." Jawab pemilik warung.
"Ibu maaf sebelumnya kita kesini mau bertanya, ibu kenal Tatiana?" Ucap Anes.
"Tatiana yang ibunya sedang sakit itu bukan neng." Ucap si ibu warung.
"Hah, kita kan gak tau ibunya Tiana sakit apa enggak." Ucap Anes.
__ADS_1
"Iyain aja dulu nes gak usah ribet." Ucap Aleta.
"Oh iya mungkin Bu." Jawab Anes, membuat Aleta menghela nafas pasrah.
"Oh, Tiana itumah rumah nya di ujung sana. Nanti si neng nya lurus saja di depan ada pertigaan belok kanan, disitu kelihatan neng rumah Tiana yanh berada di sebelah pojok kecil." Ucap si ibu warung.
"Oh gitu, terimakasih ibu kalau begitu kami permisi." Ucap Anes dan Aleta.
"Iya neng sama-sama." Balas si ibu, ibu warung itu terpesona dengan kecantikan Anes dan Aleta.
Saat di pertigaan Anes mendengar suara teriakan orang, Anes dan Aleta menatap sepertinya itu berada di pojok kanan seperti yang ibu warung jelaskan tadi.
"Ma bangun ma hiks, mama bangun ma jangan buat Tiana khawatir." Tiana menangis histeris, melihat mama nya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ta itu suara Tiana ta." Ucap Anes.
"Iya nes, sebaiknya kita lihat apa yang terjadi." Ucap Aleta, kedua wanita itu berlari dan melihat salah satu rumah yang pintunya terbuka.
"Tiana." Panggil Anes dan Aleta.
"No_nona." Lirih Tiana.
"Apa yang terjadi?" Tanya Anes.
"Saya tidak tahu nona hiks, tadi mama tidak apa-apa saat saya tinggal pergi untuk membeli obat. Tapi saat saya kembali mama sudah seperti ini." Ucap nya.
"Sudah jangan menangis kita ajak mama kamu ke rumah sakit." Ucap Anes.
"Tapi nona saya." Lirih Tiana.
"Sudah Tiana kamu tidak perlu memikirkan biaya atau apapun itu, yang terpenting sekarang kita bawa mama kamu ke rumah sakit." Ucap Aleta, Tiana terdiam ia tak punya pilihan lain selain mengajak mama nya ke rumah sakit bersama dengan Anes dan Aleta.
.
.
.
.
.
.
.Yang masih nanya Thor kenapa malah bahas Axel dan Alexi si, kan Anes aja belum selesai masih gantung. Oke aku udah pernah bilang kalau novel Anes sudah aku buat dan terpisah, judulnya (Cinta Tuan Muda) kalian bisa cek profil aku oke. Terimakasih 🙏🤗
.
***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N**: Maaakk pen punya ipar kaya Anes dan Aleta Mak 😂*
A: Yok bisa yok banyak-banyak berdoa aja 😁
N: Siap Thor mari kita berdoa 😁
__ADS_1
A: Iya jangan berhallu Mulu 😂
N: Suue😂😂