
Satu bulan berlalu pagi ini Axel bangun jam 05:00 pagi hari, lagi-lagi lelaki itu harus memuntahkan isi perutnya. Kini tubuh Axel sudah semakin kurus, lelaki itu jarang makan dan selalu tidur larut malam.
Saat Axel selesai memuntahkan isi perutnya ia berjalan menuju dapur, kepalanya terasa pusing dengan rasa mual yang melanda membuat Axel lemas dan tak bertenaga.
Namun saat akan menuruni anak tangga tubuhnya limbung dan terjatuh menggelinding ke bawah, lelaki itu terlihat pasrah dan tubuhnya tergeletak di lantai dengan kening yang berlumuran darah.
"Axel." Teriak Aleta, wanita yang tadinya ingin mengambil air minum itu di kejutkan dengan keadaan Axel.
"Axel." Lirih Aleta berlari menuruni anak tangga dan langsung memangku kepala Axel, Aleta menepuk pipi Axel berharap adiknya membuka mata.
"El bangun El." Lirih Aleta.
"Mami papi tolong Azka." Teriak Aleta.
"Nona ada apa?" Tanya para pelayan.
"Tuan Axel." Ucap kepala pelayan terlihat sangat terkejut.
"Axel bangun Axel." Teriak Aleta, air mata Aleta menetes menatap Axel yang lemas dengan tubuh kurus nya.
"Ta ada ap_ Axel." Teriak Mae, berlari menuruni anak tangga dan menghampiri Aleta dan Axel.
"Aku gak tau mi pas aku mau ke dapur Axel sudah seperti ini." Lirih Aleta.
"Papi tolong Pi." Teriak Mae, merekapun memutuskan langsung membawa Axel ke rumah sakit.
Bahkan Mae, Julian, Aleta dan Azka belum mengganti pakaian tidur yang mereka kenakan, Aiden berlari menghampiri Julian ia menatap uncle dan aunty nya.
"Aunty." Lirih Aiden, melihat Aiden Mae langsung berlutut di hadapan keponakan nya itu.
"A_aunty." Lirih Vee, Alexi dan Alea juga ada disana setelah mendapat kabar Axel terjatuh dari tangga mereka langsung memutuskan untuk pergi ke rumah sakit.
"Aunty mohoh ai tolong ajak Tiana kesini, aunty tahu apa yang dilakukan oleh Axel memang sudah kelewatan. Tapi bukankah sudah cukup menghukumnya sampai seperti ini." Ucap Mae.
"Aunty kita bicarakan itu nanti." Ucap Aiden.
"Tidak ai, Axel sudah merasa sangat bersalah dan menyesal." Ucap Mae.
"Mi aku sudah menelpon Anes dia mengatakan kita sudah tidak bisa mengambil keputusan seperti apa yang kita inginkan, untuk saat ini biarkan Tiana yang memutuskan semuanya." Ucap Aleta.
"Anes benar ini menyangkut kenyamanan Tiana dan Axel juga, jadi biarkan Tiana yang memutuskan nya aunty." Ucap Alexi, Mae mengangguk wanita itu berdoa agar Tiana mau menemui Axel.
...
__ADS_1
Sore hari Mae menemani Axel di kamar rawat nya, setelah dokter mengatakan jika kondisi Axel sangat lemah dan tidak memungkinkan untuk dibawa pulang Mae merasa bersalah kepada putra bungsu nya itu.
"Ti_ana." Gumam Axel dalam tidurnya.
"El mami disini nak." Ucap Mae menggenggam tangan Axel.
"Mae." Panggil mom Dea, Mae bangun dari duduknya dan langsung memeluk Dea sahabat sekaligus kakak ipar nya.
"Dea Axel de." Lirih Mae, mom Dea mengusap punggung Mae berniat untuk menenangkan.
"Semua akan baik-baik saja Mae, sekarang kita berdoa agar Tiana mau menemui Axel ya." Ucap mom Dea.
"Tiana." Gumam Axel lagi, mata lelaki itu terpejam membuat hati mom Dea sakit melihat nya.
Mom Dea melepaskan pelukan Mae dan berjalan mendekati Axel, wanita itu mengusap tangan Axel karena kepala Axel di perban jadi mom Dea hanya mengusap tangan nya saja.
"El ini mommy sayang El kuat ya nak, El harus sembuh karena Tiana dan bayi nya butuh El." Ucap mom Dea, ia melihat air mata Axel menetes dari sudut matanya.
"Tiana." Hanya nama itu yang di gumamkan oleh Axel.
"Iya Tiana akan kesini nak Tiana akan_" Ucapan mom Dea terhenti karena tiba-tiba saja tubuh Axel kejang-kejang, kondisinya semakin memburuk.
"Dea Axel." Teriak Mae, tanpa menunggu lama mom Dea langsung memanggil dokter.
"Mae tenang ya Axel pasti akan sembuh." Ucap mom Dea, Mae menggelengkan kepalanya dokter keluar dari kamar rawat Axel dan menghela nafasnya.
"Kondisinya semakin menurun nyonya, kita hanya bisa berdoa untuk kesembuhan tuan muda." Ucap dokter, Mae terduduk di lantai dan dari kejauhan Anes datang lalu berdiri di hadapan Mae.
"Aunty." Panggil Anes, Mae mendongak dan langsung menubruk tubuh Anes wanita itu memeluk Anes dengan erat.
"El akan baik-baik saja kan nes." Ucap Mae, Anes mengangguk dan membalas pelukan aunty nya.
"El akan baik-baik saja Anes sudah meminta Aiden dan Vee untuk membujuk Tiana." Ucap Anes, Mae wanita itu tidak marah kepada Anes karena Mae tahu niat Anes bukan seperti ini.
"Axel." Lirih Mae, Aleta muncul dan menitihkan air matanya ia tahu rasa sakit yang dirasakan oleh mami nya.
"Aunty tenang ya semua akan baik-baik saja, Anes rela di hukum jika Axel kenapa-kenapa atau aunty sampai kehilangan Axel." Ucap Anes, mom Dea menatap putrinya dengan berkaca-kaca.
Anes wanita itu selalu berani bertanggung jawab jika perbuatan nya merugikan orang lain, mom Dea mengusap punggung Anes dengan lembut.
Dan di tempat lain Tiana sedang duduk di hadapan Aiden , Alexi, Alea dan Vee wanita itu menunduk dalam.
"Axel masuk rumah sakit apa kamu ingin menjenguk nya?" Ucap Aiden, Tiana mendongak menatap Aiden.
__ADS_1
"Ti_tidak." Jawab nya, Aiden mengangguk dan menatap Tiana.
"Dari kabar yang aku dengar kondisinya memburuk dan kritis, kau bisa memikirkan nya dulu." Ucap Aiden.
Deggh, jantung Tiana berdegup kencang mendengar Axel kritis dadanya sesak ada rasa takut akan kehilangan Axel.
"Kalian berbohong?" Tanya Tiana, Vee dan Alea menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak akan berbohong Tiana kamu tahu jika selama ini kami mendukung dan menjaga kamu disini, kami hanya ingin memberi tahu keadaan Axel saat ini." Ucap Vee.
"Kak aku_" Lirih Tiana terhenti.
"Kamu boleh memikirkan nya dulu Tiana, jika dirasa kamu sudah siap maka beri tahu kami." Ucap Alea, Tiana menunduk lagi jemari lentik nya saling meremat satu sama lain.
Vee yang melihat itu bangun dan duduk di samping Tiana, wanita itu mengusap bahu Tiana dengan lembut.
"Aku tahu ini berat untuk kamu tapi percayalah dalam keadaan seperti inipun Axel hanya menyebut nama kamu Tiana, itu artinya Axel sudah benar-benar menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan kepada kamu." Ucap Vee.
"Aku akan memikirkan nya." Lirih Tiana, Aiden dan yang lain mengangguk lalu tersenyum tipis.
Vee menggenggam erat tangan Tiana begitupun dengan Alea, Tiana mendapatkan dua kekuatan dan dukungan dari orang-orang yang menyayangi nya dan itu adalah keluarga Axel keluarga suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊
N: Apakah ini yang dinamakan dengan karma ia real?
A: Sangat nyata kan 😌
__ADS_1
N: Kasian huhu 😭
A: Sama 😌