Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 269


__ADS_3

Satu Minggu berlalu akhirnya Tiana memutuskan untuk bekerja, wanita itu melamar pekerjaan di sebuah toko kue mengingat jika ia tidak memungkinkan untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan besar lagi.


Dan pagi ini Tiana sudah bisa bekerja, awalnya wanita itu merasa ragu karena takut jika Mae tidak akan mengijinkan nya. Namun dengan memberanikan diri akhirnya Mae, Julian dan Aleta membiarkan Tiana untuk bekerja.


"Selamat pagi semuanya." Ucap Tiana.


"Pagi sayang ayok sarapan dulu." Ucap Mae, Tiana mengangguk dan duduk di samping Axel.


"Tiana kamu sudah mulai bekerja?" Tanya Aleta.


"Iya kak." Balas Tiana.


"Kamu kenapa gak kerja di kantor Azka atau Arka saja, atau kamu bekerja dengan Alea kan bisa." Ucap Aleta, Axel tersenyum miring karena ia berpikir Tiana akan menyetujui perkataan Aleta. Sampai saat ini Axel masih berpikir jika Tiana selalu bergantung kepada keluarganya.


"Tidak kak aku sudah mendapatkan pekerjaan dan aku juga menyukainya." Ucap Tiana, Aleta mengangguk wanita itu menghargai keputusan Tatiana.


Setelah selesai sarapan Tiana pamit untuk pergi bekerja, Mae menyuruh Axel untuk mengantar Tiana namun wanita itu menolak permintaan Mae.


"El kamu antar Tiana ke tempat kerja nya ya." Ucap Mae.


"J_jangan mi tidak perlu Tiana bisa pergi sendiri." Ujar nya.


"Gak apa-apa lah na kalau Axel mengantar kamu, agar dia tahu juga kan siapa tau Axel berniat untuk menjemput kamu." Ucap Aleta, Tiana menatap Axel yang diam dengan wajah datar nya.


"Tidak perlu kak aku bisa sendiri, kalau begitu maaf sebelumnya aku permisi lebih dulu." Ucap Tiana, Julian menatap menantunya yang terlihat baik dan lugu.


"Kamu yakin?" Tanya Mae.


"Aku yakin mi." Jawab nya, Tiana mengecup kedua pipi Mae lalu berjalan keluar.


Wanita itu benar-benar berjalan kaki untuk menuju tempat kerja nya, di tuang makan Julian menatap tajam Axel yang hanya diam tanpa mengejar Tiana.


"Beginikah sikap kamu sebagai seorang suami El?" Tanya Julian.


"Apa maksud papi?" Ucap Axel.


"Siapa yang mengajarkan kamu seperti ini Axel sampai kamu tidak mempedulikan kenyamanan istri kamu, bahkan dia sampai memilih untuk bekerja di toko kecil." Ucap Julian, Mae dan Aleta terdiam mendengar Julian yang sedang marah.


"Pi aku tidak meminta dia untuk bekerja." Ucap Axel.


"Tapi kau memarahinya waktu aku dan yang lain membelikan beberapa pakaian dan barang untuk Tiana, kau juga memberikan kartu milikmu dengan tidak ikhlas dan malah merend*hkan harga diri nya." Ucap Aleta, sebagai wanita tentu saja Aleta tak rela melihat Tiana yang juga seorang wanita di perlakukan seperti itu.


"Aku memarahinya karena tidak ingin dia mengadu kepada kalian." Ucap Axel.

__ADS_1


"Mau dia mengadu atau tidak itu bukan masalah Axel, toh kalau dia mengadukan sikap kamu kepada kami keluarga kamu bukan kepada orang tua atau keluarga nya." Ucap Mae.


"Papi tidak habis pikir dengan jalan pemikiran kamu El, dulu kamu rela menghabiskan banyak uang hanya untuk wanita yang bukan istri kamu. Tapi sekarang kamu sama sekali tidak memberikan itu kepada Tatiana yang statusnya adalah istri kamu, papi kecewa kepada kamu." Ucap Julian, setelah mengatakan itu Julian pergi dari ruang makan begitupun dengan Mae.


"Jaga sikap kamu El ingat mami dan kakak kamu juga seorang wanita, bagaimana jika mami atau Aleta yang mengalami hal yang sama dengan yang kamu lakukan kepada Tiana." Ucap Mae, Axel memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Tiana juga memiliki batas kesabaran Axel tidak selamanya dia akan diam saat kamu menyakiti hatinya, mungkin diluar sana akan ada laki-laki yang membuat nya merasa nyaman dan lebih berarti. Hati-hati karena hal itu bisa membuat kamu kehilangan Tatiana!" Tegas Aleta, semua orang pergi meninggalkan Axel.


Sementara di jalanan Tiana masih berjalan menuju jalan raya yang jauh dari kediaman nya, dari kejauhan terlihat mobil Aiden yang melaju dengan kecepatan sedang.


"Tatiana." Lirih Vee.


"Apa sayang." Sahut Aiden.


"Bukankah itu Tiana?" Ucap Vee lagi.


"Sepertinya iya tapi kenapa Tiana berjalan dengan pakaian rapi sepagi ini." Ucap Aiden.


"Dad berhenti dad." Ucap Vee.


"Iya-iya honey." Balas Aiden menepikan mobilnya, Vee membuka pintu mobil dan memanggil saudara nya.


"Tiana." Panggil Vee, membuat Tiana menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Kak Vee." Ucap Tiana tersenyum tipis.


"Oh aku mau ke tempat kerja kak." Ucap nya, Aiden keluar dari mobil dengan menggendong Varo.


"Kamu bekerja dimana?" Tanya Aiden.


"Di toko kue kak, hmmm ini sudah siang kalau begitu aku pergi duluan ya kak." Ucap Tiana.


"Tiana kamu pergi bersama kami saja." Ucap Vee merasa tidak tega.


"Enggak kak gak usah aku bisa naik angkutan umum." Ujar nya.


"Tiana pergilah bersama kami." Ucap Aiden, Tiana mengingat saat dirinya di paksa oleh Aleta untuk ikut ke mall dan berakhir dengan Axel yang memaki nya.


"Tidak terimakasih kalian terlalu baik kepadaku, aku pergi dulu." Ucap Tiana, wanita itu berlari menuju gerbang utama komplek tempat nya tinggal.


Aiden dan Vee menatap nanar kepergian Tiana, Vee sebagai seorang wanita merasa nyeri di hatinya melihat Tiana. Barang-barang dan pakaian yang ia berikan benar-benar tidak di pakai oleh Tiana, wanita itu masih saja memakai pakaian lama nya yang terlihat sedikit lusuh.


"Apakah Axel memarahi Tiana atau melarang Tiana memakai pakaian yang layak." Lirih Vee, Aiden menoleh menatap wajah Vee yang menahan air matanya.

__ADS_1


"Apa maksudnya?" Tanya Aiden.


"Aku, Adelle, Alea dan Aleta sudah membelikan banyak barang dan pakaian untuk Tiana tapi kamu lihat dad dia masih memakai pakaian lama nya." Ucap Vee, Aiden kembali melihat Tiana yang sudah memberhentikan angkot dan masuk kedalam angkot itu.


"Aku tidak menyangka jika Axel sangat keterlaluan, mau bagaimanapun Tiana itu istrinya." Ucap Aiden, Vee mengangkat bahu nya acuh tak acuh yang jelas ia kecewa dengan sikap Axel.


"Sudahlah ayok kita pergi." Ucap Vee, karena memang wanita itu berniat untuk ikut ke kantor bersama dengan suaminya.


"Hmmm." Balas Aiden, lelaki itu merangkul pinggang Vee dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Setelah Vee duduk Aiden menyerahkan tubuh mungil Varo kepada Vee, Aiden mengelus kepala Vee dengan lembut.


"Jangan terlalu di pikirkan sayang nanti kita bicarakan dengan Axel, dan kamu jadilah saudara yang baik untuk Tiana dan Alea." Ujar nya, Vee mengangguk dan tersenyum manis kepada Aiden.


"Hmmm, terimakasih karena dulu kamu memperlakukan aku jauh lebih baik dari Axel memperlakukan Tiana." Ujar nya, Aiden tertawa kecil dan melajukan kembali mobilnya.


"Aku masih waras honey dan aku juga berpikir jika posisi itu dibalik, bagaimana jika Anes yang mengalami semua itu tentu saja aku tidak akan pernah menerima nya." Ucap Aiden, Vee mengangguk dan tersenyum manis mendengar perkataan Aiden.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


A***: Hai vote ya gaes biar author nya semangat, jangan lupa like juge Okhey 😁


N: Okhey-okhey 😂

__ADS_1


A: Ini kan pada minta fokus Tiana dan Axel, okelah tapi campur ya biar semua kebagian biar rame 😁


N: Siap 😂


__ADS_2