Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 255


__ADS_3

Keesokan paginya Aiden, Vee, Alea dan Alexi memutuskan untuk sarapan pagi bersama. Sekalian mereka ingin membahas soal hadiah pernikahan untuk Axel.


"Jadi bagaimana Al kamu akan memberikan apa untuk Axel?" Tanya Aiden.


"Yang jelas kita berdua jangan memberikan sesuatu yang sama." Ucap Alexi, para suami sibuk berbincang sementara para istri sibuk dengan makanan mereka.


"Ya mangkanya itu aku bertanya apa yang akan kamu berikan kepada Axel." Ucap Aiden.


"Mungkin rumah." Jawab Alexi santai.


"Rumah? Bukankah aunty Mae ingin mereka tinggal bersama." Ucap Aiden.


"Apakah Axel tidak akan memiliki anak sampai harus tinggal bersama aunty Mae terus." Ucap Alexi, membuat Aiden sedikit tersinggung.


"Kau menyinggung aku yang sudah memiliki anak tapi masih tinggal bersama dengan mommy." Ucap Aiden.


"Ahh tidak aku tidak berpikir untuk menyinggung kamu." Ucap Alexi.


"Yasudah jika kau ingin memberikan rumah itu tidak masalah, maka aku bisa memberikan sesuatu yang lain." Ucap Aiden, Alexi mengangguk dan menatap para istri yang sibuk dengan urusan perut masing-masing.


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Aiden dan Alexi, membuat Alea dan Vee menoleh.


"Ada apa?" Tanya Vee.


"Mom bisakan menunda dulu kegiatan makan nya, aku bertanya apa yang ingin kamu berikan kepada Axel dan Tiana." Ucap Aiden.


"Doa yang tulus." Jawab Vee santai, Aiden menepuk dahinya sendiri.


"Aku tahu dan kita semua juga pasti akan memberikan doa untuk Axel, maksud aku hadiah apa yang akan kamu berikan untuk Tatiana?" Ucap Aiden lagi.


"Ohh itu rahasia kamu lihat saja nanti apa yang aku berikan kepada Tiana." Ucap Vee, Aiden menatap curiga kepada istrinya.


"Jangan aneh-aneh sayang." Ucap Aiden.


"Gausah negatif thinking sayang aku masih waras, jadi tidak mungkin aku memberikan sesuatu yang mengejutkan untuk anggota baru." Ucap Vee, Alea dan Alexi tertawa kecil mendengar percakapan Aiden dan Vee.


"Baguslah kalau begitu aku senang mendengar nya." Ucap Aiden, Vee mengangguk dan Aiden pun makan sarapan mereka.


Di tempat lain terlihat Axel yang sedang mengecek cctv kantor nya, Axel melihat awal mula pertengkaran Tatiana dengan karyawan nya.


"Shiitt." Umpat lelaki itu, Axel merasa bersalah karena tidak mendengarkan penjelasan Tiana lebih dulu.


Dan hari ini wanita itu tidak lagi datang ke kantor nya, karena urusan Tatiana sudah selesai di perusahaan Axel.


"El come on gak boleh bo*oh, kau memang tidak menyukainya tapi kenapa kau harus selaku memperlakukan dia dengan kasar." Gumam Axel.


Saat Axel sedang berkecamuk dengan fiikiran nya sendiri, Mae menelpon Axel dan meminta putra bungsu nya untuk datang ke butik.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara Axel pun menuruti keinginan Mae, dan sesampainya di butik Axel melihat Tiana yang duduk dengan tenang.


"El kamu sudah datang." Ucap Mae, Tiana menatap Axel sekilas.


"Hmmm." Balas Axel.


"Segera coba jas nya ya nak, Tiana juga sudah mencoba gaun pengantin nya." Ucap Mae, saat Axel masuk ke ruang ganti Tiana bangun dari duduknya dan menghampiri Mae.


"Nyonya, emmm maksud saya mami." Panggil Tatiana.


"Ya sayang ada apa?" Tanya Mae.


"Ini saya ada urusan bolehkah saya pergi lebih dulu?" Tanya nya, Mae menatap Tatiana dengan penuh sayang.


"Boleh tapi apa tidak sebaiknya kamu menunggu Axel?" Tanya Mae.


"Tidak maksud saya teman saya sudah menunggu, jadi bolehkah saya pergi lebih dulu?" Tanya nya lagi.


"Boleh sayang hati-hati jika ada apa-apa kabari mommy." Ucap Mae, Tiana mengangguk wanita itu buru-buru keluar dari butik.


Tidak lama Tiana pergi Axel keluar dari ruang ganti, dan ia melihat hanya ada Mae disana Mae menghampiri Axel dengan senyum bahagia nya.


"Sempurna." Ucap Mae, Axel hanya tersenyum tipis.


"Sudah kan." Ucap Axel, Mae mengangguk cepat kepada putranya.


"Emmm." Balas Axel, dan disebuah cafe kini Tiana duduk di hadapan Aleta dan Adelle.


"Nona." Lirih Tiana.


"Kakak panggil kita berdua kakak." Ucap Aleta, Tiana mengangguk.


"I_iya ada apa kakak minta aku untuk datang kesini." Ucap Tiana.


"Tiana kami tahu apa yang kamu rasakan, tapi bisakah kamu jangan terlalu baik kepada Axel. Jadilah diri kamu sendiri jangan berpura-pura kuat." Ucap Aleta.


"Benar, biarpun Axel saudara kami tapi kami sebagai wanita tidak rela dia berbuat jahat kepada kamu." Ucap Adelle.


"Benar jadilah seperti Vee yang bisa tegas meluluhkan hati Aiden, dan seperti Anes biarpun seperti kucing dan tikus akhirnya dia bisa membuat Deandra yang semula seperti singa liar kini menjadi kucing yang lucu dan penurut." Ucap Aleta, Tiana terdiam ia tidak mengerti perkataan kedua calon ipar nya.


"Maksudnya?" Tanya Tiana, Aleta dan Adelle menghela nafasnya.


"Sudahlah sepertinya tidak ada gunanya kami menghasut kamu, intinya jadilah diri kamu sendiri. Jika kamu tidak suka dengan sikap kadar Axel maka bertindak lah, keluarga tidak akan menyalahkan kamu." Ucap Aleta, lihatlah belum apa-apa Aleta dan Adelle sudah meracuni Tiana.


Sebenarnya tidak sepenuhnya meracuni, kedua wanita itu tidak ingin Tiana menjadi lemah. Mereka ingin Tiana tegas meskipun berada dari keluarga yang biasa saja, bukankah Tiana berhak untuk melindungi harga diri nya.


"Kenapa kalian begitu membela aku." Tanya Tiana.

__ADS_1


"Karena kami tahu kamu orang yang baik, jika kamu bukan orang baik tidak mungkin mami, papi, mommy dan Daddy membiarkan Axel menikahi kamu." Ucap Aleta.


"Untuk menjadi menantu Abrisham tidak mudah Tiana, ada yang menjalin hubungan lama namun tidak sampai menikah karena para keluarga tahu bagaimana kelakuan para wanita itu." Ucap Adelle.


"Adelle sangat berpengalaman Tiana karena dia pernah gagal menjalin hubungan dengan putra sulung keluarga Abrisham." Ucap Aleta, Adelle mendengus lagi-lagi dirinya yang kena.


"Iya benar si, tapi kamu tahu aku mendapatkan putra Artadinata yang ternyata masih satu keluarga dengan Abrisham family." Ucap Adelle dengan bangga nya.


"Ya begitupun dengan aku." Ucap Aleta, Adelle tertawa dan Tiana juga ikut tertawa ia merasa lucu dengan tingkah Adelle dan Aleta.


"Terimakasih karena kalian sangat baik dan peduli kepadaku." Ucap Tiana.


"Kamu itu calon bagian dari keluarga tentu saja kami baik dan peduli." Ucap Adelle dan Aleta.


"Aku akan menjadi diriku sendiri tapi memang inilah aku tidak ada yang aku sembunyikan." Ucap Tiana.


"Ya aku tahu kau orang yang terlalu baik." Ucap Aleta.


"Benar tapi nanti setelah kamu menikah mau tidak mau percaya tidak percaya kamu akan sama seperti kita, sedikit banyak nya akan ketularan jiwa bar-bar kita." Ucap Adelle dengan bangga nya.


Aleta hanya bisa tertawa, mereka benar-benar meracuni kepolosan dan kebaikan Tatiana. Tapi mereka tidak peduli yang terpenting bagi mereka jangan ada yang menindas Tiana lagi.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ€—πŸ˜‰ jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜Š


N**: Kaya nya ikut ghibah bareng Adelle sama Aleta asik tuh πŸ˜‚*


A: Boleh dicoba πŸ˜‚


N: Otw in πŸ˜‚


A: Gas πŸ€ΈπŸ˜‚


N: πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2