Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 103


__ADS_3

Malam hari Aiden sedang mengelus punggung Vee, karena setiap malam wanita itu akan merasa tidak nyaman dengan tidur nya. Maka dari itu Aiden berinisiatif untuk mengelus punggung Vee.


"Sayang." Panggil Vee, Aiden dengan cepat menatap wajah cantik Vee.


"Ada apa sayang?" Tanya Aiden.


"Lapar aku." Ucap Vee, Aiden tersenyum mengelus kepala Vee.


"Mau makan apa, hmmmmmm?" Tanya Aiden, Vee tersenyum manis kepada suaminya itu.


"Aku ingin martabak telur coklat keju sayang." Ucap Vee, Aiden terbelalak lelaki itu sangat terkejut dengan permintaan sang istri.


"Sa_sayang mana ada martabak telur coklat keju?" Tanya Aiden, Vee merengut masam ia ingin itu kenapa Aiden tidak ingin memberikan nya.


"Tapi aku ingin sayang." Lirih Vee, Aiden bergidik memikirkan bagaimana rasa martabak telur rasa coklat keju. Membayangkan nya saja sudah membuat Aiden begitu mual.


"Sayang itu tidak enak percayalah, baby jangan meracuni mommy mu yang tidak-tidak." Ucap Aiden, Vee menitihkan air matanya membuat Aiden kalah. Lagi-lagi lelaki itu harus mengalah dengan keinginan aneh baby nya yang belum lahir itu.


"Kau berhasil baby, kau menang oke. Belum lahir saja sudah membuat Daddy mu kebakaran kutu." Ceplos Aiden, Vee mengernyit sejak kapan suaminya itu memiliki kutu.


"Sejak kapan kau punya kutu sayang?" Tanya Vee, Aiden kelabakan itu hanya perumpamaan Vee kenapa kau menganggap nya serius.


"Perumpamaan sayang perumpamaan." Ucap Aiden, Vee mencibir suaminya itu.


"Kebakaran jenggot sayang not kutu." Ucap Vee, Aiden mengangguk kini ia turun dari kasur nya membuat Vee mengernyit.


"Kamu mau kemana? Kenapa selalu meninggalkan aku?" Tanya Vee, Aiden menoleh bingung.


"Bukankah kamu mengatakan ingin martabak telur coklat keju, aku akan mencarinya untuk mu nona muda." Ucap Aiden, Vee diam benarkah ia mengatakan itu.


"Hmmmmmm, apakah aku mengatakan seperti itu?" Tanya Vee, oh God Aiden kini ingin membenturkan kepalanya kepada dinding.


"Sayang come on, kau lapar bukan? Katakan apa yang ingin kamu makan." Ucap Aiden, Vee terlihat memegang dagu nya pertanda jika wanita itu tengah berfikir.


"Aku ingin nasi goreng di depan komplek saja." Ucap Vee, Aiden terheran-heran dengan sikap Vee yang plin-plan.


"Sungguh kau hanya ingin nasi goreng?" Tanya Aiden, Vee mengangguk mantap.


"Martabak telur coklat keju nya tidak jadi?" Tanya Aiden lagi, Vee menatap curiga suaminya.


"Apa kamu ingin meracuni aku dan anakku, bagaimana rasanya martabak telur coklat keju." Sengit Vee, lihat Vee cepat sekali berubah-ubah membuat Aiden tertekan.


"Kamu yang menginginkan nya kenapa malah mengira aku yang akan meracuni kamu." Grutu Aiden, lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu keluar dari kamar.


Saat menuruni anak tangga Aiden berpapasan dengan Alexi sang adik, Alexi heran kenapa wajah kakak nya terlihat sangat murung sekali.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu seperti itu?" Tanya Alexi.


"Tanyakan kepada keponakan mu yang lucu dan belum lahir itu, kenapa masih ngontrak di rahim Vee saja sudah membuatku pusing bukan main." Ucap Aiden, Alexi mengernyit memangnya apa yang dilakukan oleh calon keponakan nya.


"Memangnya apa yang dilakukan oleh calon keponakan ku?" Tanya Alexi, Aiden pun menceritakan tentang perdebatan sengit dengan Vee.


Mendengar cerita Aiden Alexi tertawa puas, siapa lagi yang bisa membuat seorang Aiden Giovaro Abrisham tunduk seperti ini.


"Dan kau tahu, bisa-bisanya dia mengira jika aku akan meracuni dia dan anakku." Keluh nya, semakin membuat tawa Alexi pecah.


"Sabar kak itu adalah bibitmu, kau yang membuat nya maka terimalah konsekuensinya." Ucap Alexi, Aiden mendengus lalu pergi.


Setelah kepergian Aiden, Anes heran melihat kakak nya yang tumben sekali terlihat murung, ia menepuk pundak Alexi.


"Kau baru pulang?" Tanya Alexi saat merasa seseorang menepuk nya, ini sudah pukul 11 malam.


"Hmmmmmm, kenapa Aiden? " Tanya Anes, Alexi menceritakan apa yang sedang terjadi kepada kakak sulung nya itu. Dan cerita seperti itu membuat Anes tertawa senang.


"Begitulah ceritanya." Ucap Alexi.


"CK, biarkan saja. Anggaplah itu balasan dari anak nya." Ucap Anes, Alexi mengernyit tak mengerti dengan ucapan Anes.


"Balasan apa yang kau maksud?" Tanya Alexi.


"CK, balasan karena dulu dia begitu menolak Vee. Tapi lihat sekarang apa yang terjadi, dia begitu mencintai Vee dan tidak ingin membuat istrinya menangis." Ucap Anes, Alexi tertawa kecil. Ya, yang di ucapkan oleh Anes memang benar adanya.


Di tempat lain tepatnya di kediaman Artadinata terlihat Adelle yang sedang menangis histeris merasakan sakit di bagian perut nya, Arka yang melihat Adelle sangat kesakitan bingung dan khawatir.


"Bang hiks...sakit bang, mami sakit tolong Adelle." Teriak nya, Mei yang kala itu sudah berada di kamar nya berlari keluar bersama dengan Dio.


Kedua orang itu merasa bingung apa yang sebenarnya terjadi kepada Adelle, Mei mengambil tubuh Adelle dari pelukan Arka putranya.


"Sayang kamu kenapa nak?" Tanya Mei khawatir, sebelumnya Mei sempat mendiamkan Adelle. Namun ia sadar Mei tidak boleh seperti itu, bagaimanapun juga Adelle adalah menantunya sekarang.


Jika Dea saja sudah memaafkan Adelle, ia juga harus bisa melupakan kesalahan Adelle yang pernah mengecewakan putranya.


"Mi perut Adelle sakit hiks... sakit." Lirih nya, Mei panik ia meminta Azka untuk menyiapkan mobil. Sementara Arka masih menatap tak tega kepada Adelle.


"Sabar sayang sabar ya nak, apa yang kamu makan hari ini sayang kenapa bisa seperti ini." Ucap Mei, wanita itu menciumi Adelle.


Tuhan kau sudah mengambil ibunya, maka aku mohon jangan memberikan kesakitan lain kepada putri cantik yang malang ini. Itulah yang ada di fikiran Mei saat ini.


Setelah Azka selesai menyiapkan mobil merekapun memutuskan untuk membawa Adelle ke rumah sakit, dalam perjalanan Adelle terus menangis dalam pelukan Mei.


"Apa yang sebenarnya terjadi dok?" Tanya Mei, saat mereka sudah tiba di rumah sakit dan Adelle sudah di periksa oleh dokter.

__ADS_1


"Begini nyonya nona muda sedang mengandung, namun kandungan nona muda begitu lemah hingga mewajibkan nona muda untuk istirahat total." Ucap dokter itu, ada rasa bahagia dalam diri Mei saat mengetahui Adelle tengah hamil.


Namun rasa sedih juga menyelimuti hatinya, saat mengetahui kandungan Adelle sangat lemah. Jika sekali saja Adelle melakukan hal-hal yang membuat tubuh nya lelah, maka itu akan membahayakan kandungan nya.


Adelle yang mendengar itu menitihkan air matanya, ia tak menyangka jika dirinya akan mengalami kejadian seperti ini. Adelle memegang perut nya lembut, sudah ada nyawa lain yang harus ia jaga disana.


"Bang." Lirih Adelle, Arka mengerti Adelle masih terikat kontrak pekerjaan.


"Aku akan berbicara dengan Aleta dan Axel sayang, kamu istirahat lah jangan banyak fikiran." Ucap Arka, Adelle mengangguk ia tahu Arka akan melakukan semuanya untuk Adelle dan calon anak mereka.


Mei mengecup kening Adelle mencoba memberikan ketenangan, kenapa harus Adelle. Mei sempat iri melihat Vee yang hamil dengan sehat dan ceria, tapi ia tak benci kepada Vee. Mei berfikir Vee pantas mendapatkan kebahagiaan seperti itu setelah banyak kesedihan yang di alaminya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Antara seneng dan sedih si part ini, disaat gue ngakak dengan tingkah calon anak Aiden gue juga sedih sama keadaan Adelle Thor 😢*


A: Nano-nano gak Uun rasanya 🙄


N: Rasanya aaaaahhhh, mantap Thor 😂


A: Si*lan bisa-bisanya Lo becanda kek gitu 😒


N: Mon maap Thor, jangan sedih-sedih amat lah 😁

__ADS_1


A: Iya si bener 😌


N: 😁😁😁


__ADS_2