Jurney Of Love

Jurney Of Love
Epson 142


__ADS_3

Tepat pukul 02:30 dini hari Anes terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya lalu menggeliat, Anes langsung melebarkan matanya ia teringat jika ada orang lain di apartemen nya.


Anes berjalan keluar kamar menuju kamar sebelah, dimana kamar itu di tempati oleh lelaki yang ia temui.


Anes memasukan kepalanya dan melihat lelaki itu masih terlelap, pelan-pelan Anes berjalan mendekati lelaki itu. Wajah yang tampan, bulu mata lentik, hidung mancung, dan bibir mungil yang tipis. Itulah yang dilihat Anes malam itu.


Wajah lelaki itu terlihat sedikit pucat dan merah, dengan inisiatif Anes memegang kening lelaki itu. Anes terdiam saat merasakan tubuh lelaki itu panas.


"Sepertinya dia demam." Gumam Anes, putri dari pasangan Dea dan Justin itu berlari keluar kamar untuk mengambil Kompressan.


Dengan telaten Anes mengompres kening lelaki itu, dan memperhatikan nya. Semenit kemudian Anes menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Jangan g*la Anes, ingat dia lelaki sombong dan arogan. Cih, masih untung kau berbaik hati mau menolong nya." Celoteh Anes, setelah dirasa cukup Anes pun kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidur.


...


Keesokan harinya di kediaman Julian lelaki itu menatap putri sulung nya, bukan apa-apa kemarin Julian mendengar kabar jika Aleta dan Azka pulang lebih dulu lalu meninggalkan Anes.


Julian merasa bersalah kepada Anes, bagaimanapun juga Anes adalah keponakan perempuan satu-satunya milik Julian. Ia tak akan rela jika ada orang lain yang menggangu atau menyentuh keponakan tersayang nya itu.


"Papi dengar kamu kemarin pualng dengan Azka queen." Ucap Julian, Aleta tersedak ia langsung menyambar segelas air putih yang di pegang oleh Mae mami nya.


"Azka? Sejak kapan kamu akur dengan Azka ta." Tanya Mae, Axel memutar bola matanya malas.


Tidak tahu saja mami dan papi nya jika Aleta dan Azka seperti kucing dan tikus, keduanya akan berbaikan lalu bertengkar lagi.


Tapi yang membuat Axel heran adalah Azka yang tak pernah bosan membuat Aleta marah-marah, setelah itu akan berbaikan lagi.


"Memangnya menurut mami aku tidak pernah akur begitu." Ucap Aleta.


"Ya biasanya kan kamu dan Azka selalu berdebat, meskipun entahlah apa yang kalian perdebatkan." Ucap Mae, Julian menatap putrinya.


"Jadi benar kamu pulang bersama dengan Azka?" Tanya Julian lagi, Aleta mengangguk lemah.


Ia tahu papi nya akan memberikan kuliah pagi kepadanya, Aleta sadar jika harusnya ia dan Azka menunggu Anes pulang. Bukan malah pergi sebelum Anes pulang.


"Hmmmmmm, maaf Pi. Kemarin Aleta sudah menolak tapi Titan maksa, terus Aleta juga gak nunggu Anes pulang dulu." Ucap nya, Julian tersenyum tipis saat Aleta mengakui kesalahannya.


"Queen papi tidak melarang kamu dekat dengan siapa, pulang bersama siapa. Tapi lain kali jika kamu tidak bisa pulang bersama Anes, setidaknya tunggu sampai dia pergi. Kemarin hujan deras kita semua tahu bagaimana jalanan saat hujan, papi hanya khawatir saja." Ucap Julian lembut, Aleta mengangguk dan tersenyum manis.


"Hmmmmmm, aku tahu. Lain kali aku tidak akan mengulangi nya lagi." Ucap Aleta, Mae menatap Aleta dengan curiga.


Aleta yang mendapat tatapan seperti itu dari Mae merasa tak nyaman, ia ingin buru-buru selesai sarapan dan pergi saja.


Sementara itu di kediaman Justin lelaki itu menatap kursi kosong milik putrinya, Justin selalu mencari Anes saat bangun pagi.


Maklum Anes anak perempuan Justin satu-satunya, lelaki itu selalu posesif mengenai putrinya.

__ADS_1


"Anes tidak pulang?" Tanya Justin.


"Apakah Anes tidak mengirimkan pesan kepada Daddy?" Tanya Aiden, Justin terdiam ia membuka ponselnya dan mendapatkan beberapa pesan dari tuan putri.


"Ah, ada Daddy baru sempat membuka ponsel." Ujar nya, Aiden mengangguk dan tersenyum.


"Dimana Alexi?" Tanya Justin lagi.


"Alexi sudah pergi pagi-pagi sekali, mungkin ada urusan mendesak." Ucap mom Dea, dad Justin pun mengangguk.


Ia senang karena anak-anak begitu kompak dalam memegang tanggung jawab, apalagi seorang Alexi yang selalu mengutamakan pekerjaan nya.


Di sebuah apartemen mewah seperti wanita sedang berkutat di dapur, ia memasak beberapa makanan untuk sarapan.


Tak lupa juga Anes membuatkan teh untuk tamu yang tak di undang, setelah selesai Anes membawa nampan berisi makanan menuju kamar tamu.


Seseorang yang berada di dalam terlihat mengerjapkan matanya dan sedikit menggeliat saat mendengar suara langkah kaki masuk, ia menatap tubuh Anes yang berjalan mendekati nya.


"Siapa kamu?" Tanya nya terkejut, Anes menoleh dan menatap lelaki itu.


"Tentu saja aku manusia." Jawab Anes santai.


"Kenapa kamu bisa berada disini?" Tanya nya lagi, Anes menatap lelaki itu dengan malas.


"Tentu saja aku berada disini, memangnya mau dimana lagi." Ucap Anes, lelaki itu menatap sekeliling.


"Dimana aku." Tanya nya, Anes menatap lelaki itu dengan jengah.


"Kau ada di apartemen milikku, kemarin aku melihat kamu pingsan di jalan." Ucap Anes, lelaki itu menatap curiga kepada Anes.


"Kenapa kamu membawaku ke apartemen milikmu? Kau pasti mau mengambil keuntungan dariku bukan." Ujar nya, Anes menganga tak percaya mendengar perkataan orang itu.


"Mengambil keuntungan udelmu, lalu jika aku tidak membawamu kesini. Aku harus membawa kamu kemana? Ke kantor p*l*si?" Geram Anes, lelaki itu diam. Benar juga apa yang di katakan oleh Anes, tidak mungkin jika Anes membawanya ke kantor p*l*si.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Tanya Anes, karena lelaki itu terus menatap nya.


"Aku tidak percaya kepadamu." Ujar nya, Anes menghela nafasnya lelah.


"Terserah, lagi pula aku tidak meminta kamu untuk percaya." Ujar nya.


"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, sampai kamu mau membawa orang asing ke tempat tinggalmu?" Tanya nya, Anes yang semula akan pergi pun menghentikan langkahnya.


"Aku tidak menginginkan apapun, aku hanya ingin membantu. Dan aku tidak membawamu ke tempat tinggalku, karena aku jarang bahkan terbilang tidak pernah pulang ke apartemen. Aku selalu pulang ke rumah ku." Ucap Anes, lelaki itu menatap Anes yang pergi begitu saja.


Ia menatap meja dimana Anes meletakkan makanan disana, lelaki itu memegang kepalanya yang masih terasa pusing.


Ia mencoba mengingat kejadian apa yang sebenarnya terjadi, hingga membuat dirinya harus berhutang budi kepada Anes.

__ADS_1


Sementara Anes wanita itu memilih untuk membersihkan tubuhnya, ia akan pergi ke kantor pagi ini. Tak peduli bagaimana lelaki itu akan hidup di apartemen nya, atau mungkin akan pergi dari apartemen milik Anes.


"Menyebalkan, memangnya apa yang harus aku harapkan dari lelaki seperti dia." Gumam Anes, setelah selesai Anes bergegas keluar dari kamar nya.


"Kau mau kemana?" Tanya lelaki itu saat melihat Anes yang sudah rapi.


"Aku mau kerja, jika kamu membutuhkan sesuatu cari saja di dapur. Atau mungkin kamu akan pergi dari sini, maka pintu keluar nya ada di sebelah sana." Ucap Anes, wanita itu langsung melenggang pergi begitu saja.


Anes menghela nafasnya saat sudah berada di luar apartemen nya, baru kali ini ia menolong orang yang benar-benar tidak di kenal nya dan tidak mengetahui siapa Anes sebenarnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading 🤗😉 jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😊


N**: Lanjot lah yakali kaga 😂*


A: Sabar Uun sabar oke😁


N: Okhey Okhey 😂


A: Vote jangan lupa 😁


N: siap 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2