
Abraham kali ini kembali mengungkapkan bahwa dirinya memang sangat mencintai Marsha. Untuk itu, Abraham pun meminta kepada Marsha untuk mau berjuang bersamanya. Sekuat tenaga akan Abraham kerahkan untuk bisa mendapatkan Marsha.
Akan tetapi, belum sempat Marsha menjawab, terlihat Marsha menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rasanya dirinya begitu mual, ada sesuatu yang menyeruak dari perutnya, hingga naik ke tenggorokannya.
“Aku mau ke toilet, Bram,” ucap Marsha dengan sedikit berlari.
Abraham menjadi khawatir mengapa Marsha yang baik-baik saja, tiba-tiba merasa mual dan sampai berlari ke toilet untuk mengeluarkan isi perutnya.
“Aku antar, Sha,” ucap Abraham dengan khawatir.
Pria itu menggandeng tangan Marsha yang kali ini terasa dingin di genggaman tangannya, wajah yang semula sembab, kini tampak begitu sayu, dan telapak tangan yang menutupi mulutnya.
Tidak berselang lama, mereka sampai di area spot foto sebelum sampai di Candi Gedong Empat dan di sana Abraham menunggu Marsha yang memasuki toilet. Pria terlihat resah, apalagi terdengar suara Marsha yang mual-mual dan sudah beberapa menit, Marsha masih belum keluar dari toilet.
“Sha, gimana Sha? Aku masuk yah … kamu sakit yah?” tanya Abraham panik sembari menggedor pintu toilet itu.
Abraham akan menunggu lima menit lagi, jika selama lima menit, Marsha tidak keluar, maka Abraham akan memaksa masuk ke dalam toilet wanita itu. Sebab, Abraham begitu takut terjadi sesuatu kepada Marsha.
Syukurlah, tidak berselang lama Marsha sudah keluar dari kamar mandi. Wanita itu terlihat semakin pucat. Wajah basah yang dibasuh air dari keran yang dingin itu, justru membuat wajah Marsha kian pucat.
“Bram,” ucapnya lirih.
“Ya, ada apa Sha?” tanyanya.
“Tolong bantu aku jalan ke mobil,” pintanya kali ini.
Tidak perlu meminta bantuan, tentu Abraham akan membantu Marsha. Terlebih melihat wajah Marsha yang pucat pasi, maka sudah pasti Abraham tidak akan meninggalkan Marsha seorang diri.
“Ayo,” ucapnya sembari mengulurkannya kepada Marsha.
Kali ini, Marsha pun mengulurkannya dan memberikan tangannya yang terasa dingin itu berada dalam genggaman tangan Abraham.
“Tangan kamu dingin banget, Sha … mau ke Rumah Sakit?” tanya Abraham.
“Enggak … aku enggak apa-apa,” sahut Marsha.
__ADS_1
“Enggak apa-apa gimana Sha? Aku dengar sendiri kamu mual dan muntah di dalam toilet. Wajah kamu pucat, dan tanganmu dingin. Kamu sakit, Sha,” balas Abraham. Dari nada suara saja begitu terdengar jika Abraham sedang panik.
“Begitu sampai di mobil, Marsha menekan tombol untuk membuka pintu mobil, kemudian dia memilih duduk di balik stir kemudi. Marsha mengambil sebuah tumbler yang berada di dalam mobilnya, lalu meminumnya. Setelahnya, Marsha mencari inhaler dari kotak obat di dalam mobilnya, dan menghirup inhaler beraroma mint itu. Kali ini Abraham turut memasuki mobil Marsha dan duduk di samping stir kemudi.
“Kamu minum apa Sha?” tanya Abraham sembari isi tumbler yang rupanya air panas itu.
“Teh hangat,” ucap Marsha.
“Kamu masuk angin?” tanya Abraham lagi.
“Mungkin,” balas Marsha.
Tangan Abraham terulur dan menyentuh kening Marsha, pria itu ingin mengukur suhu tubuh Marsha dengan tangannya.
“Tidak demam kok, kamu tidak minum obat?” tanya Abraham lagi.
Marsha pun segera menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku enggak minum obat,” balasnya.
Kemudian Abraham mengamati wajah Marsha yang masih pucat, juga keringat dingin yang keluar dari keningnya. Abraham pun mengambil tissue, dan menyeka keringat dingin di kening Marsha.
Abraham menganggukkan kepalanya, “Iya, tidur saja … nanti aku bangunin,” balas Abraham.
Tidak sampai di situ, Abraham melepas jaket hitam yang tebal itu dari badannya, dan mengenakannya sebagai selimut untuk Marsha, menutupi tubuh bagian depan Marsha.
“Biar hangat … tidur saja, Sha … aku akan menjagamu,” ucapnya.
Marsha menganggukkan kepalanya, dan dia mengatur kursi kemudi supaya sedikit nyaman untuk tidur, kemudian dia mulai memejamkan matanya. Marsha pikir dengan sedikit istirahat akan membuatnya bisa lebih baik.
Begitu Marsha tidur, suasana di mobil itu menjadi hening. Namun, tidak dengan benak dan isi hati Abraham. Pria itu mengamati Marsha yang mulai memejamkan mata, aroma mint dari inhaler yang dihirup dan dioleskan Marsha di leher itu memenuhi isi mobil itu.
“Kamu sakit apa Sha? Kenapa tiba-tiba kamu bisa kayak gini? Aku panik Sha … apa yang sebenarnya terjadi, kenapa mendadak kamu sakit?” tanya Abraham pada dirinya sendiri.
Abraham menelisik dengan pandangan yang mengamati Marsha. Tidak mungkin bukan seseorang yang semula sehat, dan menangis juga hanya karena shock saja dan sekarang tiba-tiba bisa sakit seperti ini.
Kemudian, Abraham kembali mengamati Marsha. “Apa ada sesuatu pada dirimu yang aku tidak tahu, Sha?” gumam Abraham dengan lirih.
__ADS_1
“Kamu terlihat berbeda Sha … wajah kamu sayu, pucat, dan mual dan muntah barusan?”
Sungguh, Abraham menjadi bertanya-tanya. Banyak kemungkinan yang memenuhi otaknya sekarang ini. Abraham akan menunggu Marsha bangun dan akan bertanya kepada Marsha.
Tidak terasa menit berganti menit, dan kemudian Marsha pun terbangun. Wanita itu mengerjap dan melepas jaket milik Abraham yang semula menutupi tubuhnya.
“Bram,” ucapnya lirih.
“Hmm, sudah bangun?” tanya Abraham.
Ada anggukan samar dari Marsha, dan kemudian Abraham kembali mengangkat tangannya dan menyentuh kening Marsha, kembali mengukur suhu tubuh Marsha dengan telapak tangannya.
“Enggak demam kok,” ucapnya lagi.
“Aku sudah sehat kok, Bram,” jawab Marsha kali ini.
Memang dengan sedikit istirahat, meminum minuman panas, dan menghirup inhaler saja sudah membuat Marsha menjadi lebih baik sekarang.
“Kamu tidak pulang?” tanya Marsha kali ini.
“Kamu yakin kamu baik-baik saja? Perlukah kuantar pulang?” tanya Abraham.
“Tidak, aku bisa menyetir sendiri kok,” balas Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Sha, sebelum aku pulang … please, beritahu aku di mana kamu tinggal sekarang? Aku perlu berbicara serius denganmu, Sha?” tanya Abraham kali ini.
Marsha mengusapi tangannya sendiri. Ada rasa tidak yakin pada diri Marsha. Akan tetapi, Marsha pun tahu bahwa Abraham adalah orang yang gigih. Pantang pulang sebelum Marsha mengatakan di mana dia tinggal.
“Aku tinggal di rumah Eyangku … di Ungaran,” ucap Marsha.
“Oh … yang Eyang Putri ya Sha?” tanya Abraham.
“Iya,” sahut Marsha dengan singkat.
“Baiklah … aku akan mengekori mobilmu ya Sha. Sebab, aku tidak mau terjadi apa-apa sama kamu,” ucap Abraham kali ini.
__ADS_1
Ada helaan nafas dari Marsha, dan wanita itu pun menganggukkan kepalanya dengan pasrah. Lebih baik dia membiarkan Abraham saja melakukan apa yang dia mau, daripada dia menolaknya dan menghalang-halangi pria gigih seperti Abraham.