
Begitu telah sampai di unit mereka, Abraham segera menggandeng tangan Marsha dan membawa istrinya itu untuk masuk ke dalam unit apartemennya. Apartemen milik Abraham memang cukup mewah, hanya saja memang hanya ruangan persegi yang menjadi ruang gerak mereka. Namun, bagi Marsha, unit ini sangat berarti karena di sinilah dia bisa belajar hidup berumahtangga untuk kali kedua dengan Abraham.
Baru saja menutup pintu, Abraham dengan cepat menyentak tangan Marsha. Membawa tubuh istrinya itu di dinding tepat di belakang pintu. Tanpa menunggu waktu, Abraham menghimpit tubuh Marsha di dinding. Tanpa perlu meminta izin lagi, Abraham lantas mengikis jarak wajahnya yang hanya sejengkal itu, dan mulai mendaratkan kecupan-kecupan hangat di bibir Marsha.
Seakan tidak sabar rasanya, dengan dada yang bergemuruh, Abraham mendaratkan kecupan, pagutan, hingga lu-matan di bibir Marsha. Menghisap lipatan atas dan lipatan bawah bibir yang begitu ranum dan manis itu dengan memberikan tekanan yang serupa. Melu-mat habis bibir itu dan mencumbunya dengan sedikit cepat. Bukan hanya itu saja, Abraham pun menyapa bibir itu dengan usapan yang hangat dan basah.
Tidak membutuhkan waktu lama, suara decakan pun memenuhi seisi unit apartemen itu. Pasangan itu sama-sama menikmati permainan bibir yang sama-sama memabukan. Ketika bibir bertemu dengan bibir hingga menghasilkan pagutan yang intens dan juga lembut. Keduanya seakan tidak henti-hentinya untuk s aling menghisap, saling melu-mat, dan saling mencumbu.
Rayuan berbalut ciuman hangat yang berhasil menghasilkan erangan dari bibi Marsha.
"Ah," de-sah Marsha dengan kian melingkarkan tangannya di leher Abraham.
Marsha mengakui dalam hatinya dalam dia turut larut, bahkan hanyut dalam gelombang plyang terjadi karena ciuman Abraham.
Tangan Abraham bergerak dan memberikan belaian di sisi wajah Marsha. Belaian yang begitu lembut, dan seolah menyisir permukaan kulit wajah Marsha. Sementara tangan yang satunya melepaskan sling bag yang masih melingkar di bahu Marsha. Membuangnya asal ke lantai. Kemudian tangan itu mulai memberikan rabaan di lengan Marsha, mengusap perut Marsha yang sudah begitu membuncit, dan bahkan tangan itu menyusup di balik kaos yang Marsha kenakan, memberikan usapan di punggungnya.
Bukan hanya Marsha yang mende-sah, pun sama dengan Abraham yang benar-benar tersulut siang itu. Rasanya ingin mendaki puncak asmara bersama dengan Marsha. Tentu, Abraham akan melakukannya dengan pelan-pelan mengingat usia kehamilan Marsha.
Bibir Abraham kini menyusur di telinga selangka hingga tulang selikat Marsha, memberikan jejak-jejak yang hangat dan basah di sana. Sedikit membuka bibirnya, Abraham mengigit kecil leher Marsha dan menghisapnya. Sesapan yang menghasilkan rasa perih itu membuat Marsha berdesir. Wanita itu menghela nafas dengan memejamkan matanya.
“Mas,” ucap Marsha dengan nafas terengah-engah.
__ADS_1
“Hmm, apa Shayang,” sahut Abraham yang masih betah berlama-lama menyusuri garis leher Marsha.
Saat Abraham hendak meninggalkan tanda merah lagi di bagian leher, Marsha dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Jangan di leher, Mas … kelihatan nanti,” balasnya.
“Di tempat lain yah?” balas Abraham dengan menarik kaos yang dikenakan Marsha, sehingga terlihat sembulan buah persik dengan kain renda berwarna biru muda. Ah, melihat ini saja sudah membuat Abraham gelap mata.
Marsha sudah tidak bisa lagi menjawab, hanya bisa memejamkan mata dan merasakan terpaan demi terpaan yang membuat suhu tubuhnya meningkat secara drastis. Abraham menunduk, kemudian pria itu mulai mendaratkan kecupan dan jejak-jejak basah di sembulan buah persik Marsha. Memberikan godaan melalui usapan lidahnya. Hingga akhirnya, Abraham membuka sedikit mulutnya, dan menggigit di sembulan buah persik milik Marsha yang kian berisi itu. Menghisapnya dalam-dalam, disertai dengan pekikan Marsha dan remasan wanita itu di rambut Abraham.
“Hh, Mas,” pekik Marsha. Hingga Marsha justru membenamkan wajah Abraham di dadanya. Entah berapa banyak jejak merah yang Abraham tinggalkan di area itu. Marsha sudah tidak lagi peduli, yang Marsha pedulikan adalah dirinya yang tak mampu lagi berdiri. Kakinya kian lemas saja, tetapi Abraham tak henti-hentinya untuk menggodanya.
Ketika tangan-tangan nakal Abraham hendak mengeluarkan buah persik itu dari wadahnya, tiba-tiba saja handphone Abraham berdering. Keduanya sama-sama berhenti, Marsha merapikan rambutnya, dan perlahan membuka matanya, tetapi Abraham masih dalam posisi setengah menunduk. Sungguh, deringan dari handphone itu mengganggu saja acara panasnya bersama dengan istrinya.
Saat tangan Abraham ingin menyusup dan membelai buah persik istrinya, rupanya handphone Abraham kembali berdering. Kali ini Abraham menggeram dan menegakkan tubuhnya, dengan Marsha yang mendorong dada suaminya itu.
“Diterima dulu saja,” balas Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, “Ganggu aja sih … padahal mau itu,” balas Abraham dengan menunjuk milik Marsha dengan berbagai jejak merah di sembulannya. Jejak merah yang begitu kontras dengan kulit Marsha yang begitu putih.
“Udah, sana … diterima dulu, sapa tahu penting,” balas Marsha.
__ADS_1
Abraham pun menganggukkan kepalanya, pria itu mengernyitkan keningnya melihat nama yang masuk dan sedang berusaha memanggilnya.
“Pak Bos Belva,” gumamnya. Abraham segera menggeser ikon telepon berwarna hijau di layarnya, dan berbicara dengan orang yang sedang menelponnya itu.
Kurang lebih lima menit Abraham berbicara melalui telepon, setelahnya, Abraham kembali menghampiri Marsha yang sudah duduk di sofa dan mengenakan kembali kaosnya.
“Lanjut enggak Shayang?” tanya Abraham kemudian.
Marsha dengan cepat menggelengkan kepalanya, “Enggak … nanti malam aja,” balasnya dengan menyandarkan kepalanya di bahu Abraham.
“Siapa tadi Mas?” tanya Sara kemudian.
“Oh, itu … Pak Belva, dulu suaminya salah satu model yang sudah wafat. Sering aku fotokan dulu,” balas Abraham. “Aku ada kerjaan untuk memotret pesta ulang tahun anaknya. Kamu mau ikut?” tawar Abraham kepada istrinya.
“Emang boleh aku ikut?” tanya Marsha kemudian.
“Boleh aja, cuma ya aku sambil bekerja ya … nungguin aku kalau mau?” balas Abraham lagi.
“Boleh deh … biar ketemu banyak orang dan lihat anak-anak. Daripada di dalam unit terus. Aku ikut ya Mas,” balas Marsha.
“Iya, boleh. Kapan yuk, belikan kado untuk anaknya Pak Belva dulu. Biar kita datang tidak dengan tangan kosong,” balas Abraham.
__ADS_1
Marsha pun mengangguk setuju. Akan jadi, pengalaman pertama baginya mengikuti suaminya yang mengambil job memotret.