
“Mohon restui Bram dan Marsha,” ucap Marsha dengan tergugu pilu.
Melihat Marsha yang turut bersimpuh, Abraham memandang sekilas ke Marsha. Pria itu memberi isyarat dengan menggelengkan kepalanya.
Kali ini Marsha seakan tak peduli. Jika memang harus begini jalannya dan dengan memohon sembari bersimpuh bisa meluluhkan hati Mama Diah, Marsha akan melakukannya. Saat Marsha tergugu pilu, derai air mata yang terus membasahi wajahnya. Entah berapa menit Marsha menangis dengan bersimpuh, sampai akhirnya Marsha justru merasakan kepalanya yang berkunang-kunang, pandangannya mulai mengabur. Mungkin karena kesedihan mendalam, dan menangis sampai benar-benar tersedu-sedan membuat Marsha seolah merasakan tubuhnya yang melayang, pandangannya yang semakin mengabur. Sampai akhirnya, Marsha justru tak bisa lagi bertahan. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri di depan kaki Mama Diah.
“Marsha … Marsha!” teriak Abraham dengan panik.
Sungguh tidak mengira bahwa Marsha kini pingsan. Dengan cepat Abraham membopong Marsha dan membawanya ke kamarnya. Pria itu segera mengambil inhaler yang berada di sling bag milik Marsha dan menghirupkan inhaler beraroma mint itu ke hidung Marsha.
“Marsha … bangun Marsha,” ucap Abraham yang masih begitu panik.
Tak ingin mengambil risiko, Abraham pun berlari ke luar dari rumahnya, memanggil seorang Dokter Umum yang memang adalah tetangganya. Seakan begitu takut jika terjadi sesuatu kepada Marsha dan kandungannya.
“Dokter Patria … Dokter,” teriak Abraham dari luar gerbang tetangganya yang berprofesi sebagai Dokter itu.
Tidak berselang lama, Dokter Patria pun keluar dari rumah. Kaget dengan teriakan orang yang memanggilnya.
“Ya, ada apa?” tanya Dokter itu.
“Dok, tolong saya, Dok … ada yang pingsan di rumah saya,” ucap Abraham.
__ADS_1
“Baik-baik saya akan ke sana,” ucap Dokter itu dengan mengambil tas hitam miliknya terlebih dahulu di dalam rumah dan mengikuti Abraham ke rumahnya.
“Permisi Bu Diah,” sapa Dokter Patria yang memang mengenal akrab keluarga Abraham.
“Ya, Dok … silakan masuk,” balas Mama Diah.
“Di mana yang pingsan?” tanya Dokter Patria lagi.
“Di kamar saya, Dok,” sahut Abraham.
Ketiganya pun segera meneju ke dalam kamar Abraham, tampak Marsha yang berbaring dengan masih memejamkan matanya, dan terkadang terdengar isakan dari Marsha.
“Kenapa pingsannya?” tanya Dokter Patria.
Mulailah Dokter Patria mengarahkan penlight (Senter medis yang bentuknya seperti pulpen) ke mata Marsha, dan melihat mata itu. Kemudian mengukur nadi dengan memegang pergelangan tangannya. Sampai akhirnya, Dokter Patria pun menghela nafas.
“Terjadi guncangan stress dan pasien kekurangan darah. Mohon untuk dijaga, Bram … guncangan stress pada wanita hamil bisa berdampak buruk untuk Ibu dan janinnya,” ucap Dokter Patria.
Abraham yang mendengarkan penjelasan dari Dokter Patria pun menganggukkan kepalanya. “Lalu, bagaimana Dok?”
“Tolong berikan bantal atau guling di kaki, supaya aliran darah kembali ke otak. Begitu sudah bangun, berikan minuman manis dan hangat untuk menambah kadar gula dalam tubuh. Dijaga baik-baik, Ibu hamil tidak boleh mengalami guncangan stress,” ucap Dokter Patria.
__ADS_1
Setelahnya, Dokter Patria berpamitan untuk pulang. Di kamar itu, Marsha masih berbaring, belum sadarkan diri. Sementara Mama Diah memanggil Abraham untuk berbicara dengan putranya itu.
“Bram, Mama perlu bicara,” ucap Mama Diah.
“Bicara saja, Ma,” sahut Abraham.
“Kamu yakin dengan Marsha?” tanya Mama Diah kali ini.
“Sepenuhnya yakin Ma,” jawab Abraham tanpa ada keraguan.
“Kamu yakin bayi yang dia kandung adalah bayimu? Bukan bayinya Melvin?” tanya Mama Diah kali ini. Hanya saja mengingat perceraian Marsha dan Melvin, Mama Diah berasumsi bahwa mungkin saja yang berada di dalam kandungan Marsha sekarang adalah anaknya Melvin.
“Dia anaknya Bram, Ma … hanya Bram satu-satunya yang menyentuh Marsha dalam kurang waktu tiga bulan ini,” jawab Abraham dengan pasti.
Ada helaan nafas dari Mama Diah, “Bram, kamu tahu kan … kalau kamu dan Marsha itu banyak perbedaan. Banyak hitungan dalam Jawa yang tidak masuk untuk kalian berdua. Apa kalian masih akan nekad?” tanya Mama Diah kali ini.
“Abraham tidak peduli, Ma … yang Abraham yakini adalah Abraham dan Marsha saling mencintai, dan kami akan segera menjadi orang tua. Jodoh, rezeki, bahkan maut sudah diatur oleh Tuhan, Ma … biarkan kami yang menjalani dan berikan restu agar kami bisa menjalani semuanya dengan baik,” balas Abraham.
Walau secara tradisi Jawa, Mama Diah mengatakan banyak hitungan yang tidak masuk dan tidak cocok. Akan tetapi, bagi Abraham yang jelas dia dan Marsha akan saling mencintai satu sama lain. Apa pun aral rintangan yang ada di hadapannya, Abraham yakin bisa menjalani semuanya bersama dengan Marsha.
Usai mengatakan semua itu, Abraham memilih meninggalkan Mamanya, dan dia berada di kamar. Pria itu begitu sedih melihat Marsha yang sakit seperti ini. Pria itu membawa tangannya untuk menggenggam tangan Marsha dan memberikan usapan di punggung tangan Marsha.
__ADS_1
“Bangun, Marsha … aku cinta kamu. Dunia boleh tidak memberikan restu kepada kita. Namun, aku meminta kepada Tuhan, Sang Pencipta dan Pemilik Dunia ini kiranya Dia berkenan untuk merestui kita, menyatukan kita berdua,” ucap Abraham.
Mungkin Abraham sudah sampai pada satu titik bahwa yang dia butuhkan hanyalah restu dari yang Kuasa. Mengingat banyak pertentangan yang diberikan Mama Diah padanya. Abraham merasa cukuplah dia saja yang tumbuh besar tanpa merasa kasih sayang seorang Ayah. Namun, untuk calon bayinya, Abraham ingin bayinya bersama Marsha merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Biarlah hanya Abraham yang tak tahu bagaimana figur seorang Ayah itu. Namun, Abraham berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan terus berusaha menjadi Ayah yang baik untuk bayinya.