
“Pa, Papa itu adalah sosok yang hebat untuk Mama dan Mira,” ucapnya dengan tidur di pelukan Papanya.
Ya, kali ini memang Mira meminta untuk tidur ditemani Papanya terlebih dahulu. Sehingga banyak juga obrolan antara Papa dan anak itu. Begitu juga dengan Mira yang mengatakan bahwa Papanya adalah orang yah hebat untuk Mamanya dan dirinya sendiri.
“Kenapa bisa Mira?” tanya Abraham kepada putri kecilnya itu.
“Iyah … katanya Mama, Papa itu hebat, bekerja supaya Mama dan Mira bisa makan, membelikan rumah supaya kami tidak kehujanan. Papa yang selalu menemani Mama dan menemani Mira. I Love U, Pa,” ucapnya dengan kembali memeluk Papanya.
Memang ketika Marsha mengasuh Mira setiap hari di rumah, Marsha akan menjelaskan bahwa Papanya adalah kepala rumah tangga yang hebat dan bertanggung jawab. Marsha menjelaskan secara sederhana dalam tindakan nyata yang dilakukan oleh Papanya, seperti Abraham yang bekerja untuk menghidupi mereka, rumah yang dibeli untuk berteduh dari panas dan hujan. Papa Abraham yang membacakan buku untuk Mira, dan juga menolong Mama setiap hari. Semua teori perlu dijelaskan dalam kalimat aksi yang bisa dipahami oleh anak karena dia memang melihatnya secara langsung.
“I Love U, My Little Girl,” balas Abraham.
“Makanya, jangan buat Mama nangis lagi ya Pa … kan Papa itu yang terhebat untuk Mama,” balas Mira.
Abraham menghela nafasnya dan kemudian mengusapi kepala Mira dengan sayang, “Iya … maafkan Papa yah. Dulu Papa tidak peka dan bikin Mama menangis. Mama sedih ya waktu itu?” tanya Abraham.
“Iya, sedih … Mira yang melihat Mama juga sedih,” balasnya.
Barulah Abraham merasa bahwa ketika dua orang tua bertikai, anak yang turut merasakan kesedihannya. Seakan sekarang Mira sedang berbicara dari hati ke hati dengan Papanya. Abraham pun bukan seorang Papa yang otoriter, tetapi Abraham mau mendengarkan cerita Mira dan bahkan Abraham tidak segan untuk meminta maaf juga kepada Mira.
"Nanti kalau adik bayi sudah lahir, Papa akan punya dua anak yah. Aku dan adik," ucap Mira lagi.
"Iya ... Mira senang enggak punya adik bayi?" tanyanya.
__ADS_1
"Seneng ... seneng banget Pa ... apalagi bayinya cowok. Yang cakep kayak Papa," balasnya.
Abraham pun tersenyum, anak sekecil Mira saja sudah bisa melihat bahwa Papanya adalah orang yang cakep. Sampai tangan Abraham bergerak dan mengusapi puncak kepala Mira.
"Yang penting, adiknya sehat dan sempurna ya Sayang ... semua bayi itu lucu dan menggemaskan. Nanti, Kak Mira juga jadi kakak yang sayang sama adik yah," balas Abraham kepada Mira.
"Iya, sayang dong," balasnya.
Cukup lama Papa dan anak itu mengobrol bersama, cerita sebelum tidur hingga akhirnya, Mira pun akhirnya terlelap. Begitu Mira sudah terlelap, barulah Abraham turun dari tempat tidur perlahan-lahan dan kemudian dia masuk ke dalam kamarnya, menghampiri Marsha yang rebahan di atas tempat tidur.
"Belum bobok?" tanyanya.
"Belum, nungguin kamu," balas Marsha dengan beringsut dan mengambil tempat duduk masih di atas tempat tidur itu. "Sharing apa tadi Mas sama Mira?" tanyanya kemudian.
Marsha menghela nafas dan menengadahkan sedikit wajahnya, lantas menatap wajah suaminya itu, "Kok aneh ... kangen karena apa?"
"Apa bener ... kamu bilang ke Mira bahwa aku adalah orang yang hebat. Apa yang terhebat untuk kamu?" tanya Abraham kemudian.
Ah, berarti sikap manis Abraham ini didahului dengan cerita dari Mira. Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, tangannya bergerak dan memeluk tubuh Abraham di sana.
"Iya, kamu adalah orang yang terhebat untukku. I Love U, Papa Abraham," ucapnya dengan memejamkan matanya untuk sesaat.
"Maaf ya Sayang ... aku dulu nyebelin banget sampai membuat kamu nangis yah. Katanya Mira, dia sedih kalau lihat Mama dan Papanya bertengkar. Aku benar-benar tidak mengira, sekecil itu sudah bisa memiliki memori tentang kita," balas Abraham lagi.
__ADS_1
Marsha kemudian menganggukkan kepalanya lagi, "Iya, dulu dia nangis ... katanya kalau Mamanya sedih, dia jadi ikutan sedih. Kasihan Mas ... mungkin aku dulu kayak Mira yah ... melihat Mama dan Papaku bertengkar, aku yang menangis dan bersedih. Cuma saat itu kesedihanku tidak divalidasi dengan baik. Jadi, ya sudah ... aku sedih sendiri, tidak ditenangkan dan divalidasi Mama dan Papaku," ceritanya.
"Itu saja, padahal kita tidak bertengkar loh ya Shayang ... cuma aku yang nyebelin aja, dan kamu nangis. Mira sudah bisa berkata sesedih itu. Apalagi kalau kita sampai adu mulut dan pemukulan, sudah pasti Mira akan lebih sedih lagi," balasnya.
Marsha menghela nafas panjang dan kemudian mendorong dada Abraham untuk sesaat, "Kamu masak mau memukul aku Mas? Kamu tega? Sebelumnya, aku sudah pernah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Masak, kamu juga akan menyakiti aku dengan cara yang sama dengan adik kamu?" tanya Marsha.
Ah, barulah Abraham ingat bahwa Marsha memiliki masa lalu yang tidak baik dengan rumah tangganya dulu. Abraham menggelengkan kepalanya dan segera memeluk Marsha dengan begitu eratnya.
"Tidak ... tidak akan, Shayang ... tidak akan pernah. Kalau aku sampai melakukannya, kamu boleh menghukum aku," balas Abraham.
"Makanya, jangan ... kamu nyebelin saja dan tidak peka, aku sudah kesakitan, sampai kram kandungan aku. Kalau kamu sampai mengangkat tangan dan melakukan pemukulan tidak ada bedanya dong kamu dan dia," balas Marsha lagi.
"Iya, maaf Shayang ... tidak akan. Selama pernikahan kita, aku sampai lupa dengan masa lalu kamu itu karena aku terlalu menikmati kehidupan rumah tangga yang seperti ini dengan kamu."
"Makanya itu, jangan ya Mas ... aku takut dengan segala bentuk kekerasan. Bahkan diem saja itu sudah kekerasan loh Mas ... namanya Silent Treatment mendiamkan pasangan dan ujungnya bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi, jangan ... lebih baik kita cari solusinya bersama-sama," balas Marsha lagi.
"Iya Shayangku ... ngomong-ngomong, terlepas dari tidak sempurnanya aku, terima kasih sudah menjadikanku sosok yang hebat untuk kamu," ucap Abraham dengan masih mempertahankan Marsha dalam pelukannya.
"Iya Mas ... terima kasih kamu selalu menjadi rumah untukku pulang. Rumah yang mau menerima aku dengan segala kurang dan lebihmu. Rumah yang memberikanku rasa aman dan nyaman. You are My Home, and i'll stay in you forever," balasnya.
Bagi Marsha, suaminya itu adalah rumahnya. Rumah yang bisa menerimanya. Dengan suaminya, Marsha akan tinggal di dalamnya selamanya.
"Ah, i love u, Shayang ... kamu buat aku jadi pria yang hebat dan kuat. Terima kasih," balas Abraham.
__ADS_1