Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kekhilafan Terlarang


__ADS_3

"Marsha, Marsha ... aku sungguh cinta kamu," ucap Abraham dengan berbisik lirih di telinga Marsha.


Itu ada pengakuan yang tulus dan jujur, maka itu adalah pengakuan cinta Abraham kepada Marsha. Pengakuan yang kali ini bisa dia ungkapkan. Sekian tahun waktu berlalu, nyatanya perasaan cinta di dalam hati Abraham masih saja ada.


Diiringi dengan derai hujan di luar sana, pria itu tak ragu untuk mengucapkan perasaan cintanya kepada Marsha. Bukan hanya mengungkapkan rasa cintanya, Abraham pun menyisiri garis leher Marsha dengan bibirnya. Memberikan kecupan demi kecupan yang tentu saja menyulut gelenyar asing dan syarat terlarang untuk Marsha sendiri. Akan tetapi, nyatanya Marsha justru menahan nafas dan terus memeluk tubuh Abraham dengan begitu eratnya.


Deru nafas yang terasa berat, menjadi suara yang mereka dengar bersama saat itu. Dibarengi dengan pergerakan bibir Abraham yang seakan menyentuh titik-titik sensitif di leher, hingga tulang belikat Marsha. Abraham mengurai sejenak pelukannya, pria itu tersenyum dan menelisipkan satu rambut Marsha ke belakang telinga, lantas Abraham menarik tubuh Marsha, hingga kini tidak ada jarak antara tubuh keduanya. Kembali Abraham memagut bibir Marsha dengan begitu lembutnya. Abraham ingin Marsha tahu bahwa itu bukan sekadar ciuman, tetapi itu adalah ungkapan cinta, ungkapan perasaan yang Abraham ungkapkan kepada Marsha. Ketika bibir bertemu, terciptalah kesan hangat dan basah yang beradu. Ketika lidah menyapa, terciptalah usapan demi usapan yang begitu syarat akan godaan.


Abraham kini memiringkan sedikit wajahnya, pria itu memberikan tekanan pada bibirnya untuk menghisap dan memberikan lu-matan di bibir Marsha.


Oh, itu adalah ciuman yang benar-benar dalam, intens, dan juga panas secara bersamaan. Marsha bak kapal yang terombang-ambing dalam gelombang. Dicium Abraham seintens ini membuatnya hilang akal. Cumbuan, pagutan, dan hisapan yang Abraham berikan membuat Marsha memekik. Suaranya bak tercekat di dalam tenggorokan. Namun, akhirnya suara itu keluar juga.


"Ah, Bram," de-sahan Marsha saat lidah Abraham menyusup masuk dan memberikan sapaan, godaan, bahkan belitan di rongga mulutnya.


Namun, de-sahan yang Marsha ucapkan nyatanya justru membuat Abraham kini menekan, dan seakan tak henti-hentinya memagut, melu-mat habis bibir Marsha. Tangan Abraham yang semula hanya melingkari pinggang Marsha, perlahan tangan itu bergerak mengikuti insting dalam dirinya dan memberikan usapan hingga ke tengkuk Marsha, memberikan usapan dari rambut Marsha, memberikan belaian di bahu hingga lengan Marsha. Perpaduan ciuman dan gerakan tangan Abraham membuat Marsha meremang. Kali ini, di dalam hatinya Marsha mengakui bahwa dia benar-benar tersulut.


Bak tak ingin banyak berbicara, Abraham mengedepan instingnya untuk menyentuh Marsha. Bukan sekadar hasrat, tetapi Abraham mengakui bahwa dia sangat mencintai Marsha. Sejak beberapa tahun yang lalu sampai saat ini cinta itu masih ada.


Mengurai sedikit gerakannya, Abraham mengangkat panggul Marsha, dalam satu kali gerakan, kini sudah berada di dalam gendongannya. Pria itu menahan tubuh Marsha dengan tangannya yang kokoh, berjalan dengan pasti, dan mendaratkan ciuman di bibir Marsha.


Tempat yang Abraham tuju kali ini adalah kamarnya. Pria itu dengan pasti melangkah dan kini mendaratkan Marsha dengan perlahan di atas ranjang. Kamar dengan didominasi warna Abu-Abu itu siap menjadi saksi bagaimana hasrat terlarang antara Marsha dan Abraham.


Sedikit merayap, kini Abraham pun menindih tubuh Marsha. Pria itu menarik kedua tangan Marsha dan menahannya di atas kepala. Dengan posisi yang begitu dekat dan seakan tampa celah, Abraham kembali mendaratkan ciuman di bibir Marsha. Kali ini dengan nafas yang memburu. Gairah cinta yang benar-benar gila, seumur hidupnya baru kali ini Abraham merasakan sulutan api yang tidak bisa dia padamkan. Yang ada api itu justru kian membakarnya, menuntunnya untuk melakukan sesuatu sebagai bukti cintanya kepada Marsha.

__ADS_1


Berapa kali Abraham mencium, melu-mat, dan menghisap lipatan bibir Marsha, sampai bibir itu sedikit bengkak di sana. Abraham menghela nafas, dan dia kini mulai perlahan melepaskan kancing kemeja Marsha dari sarangnya. Gerakan yang pelan dan terkesan hati-hati, justru membuat Marsha kian berdebar-debar rasanya. Dalam setiap jari Abraham yang melepaskan kancing, ada helaan nafas yang dihembuskan Marsha. Hingga tidak membutuhkan waktu lama, lima kancing di kemeja Marsha pun sepenuhnya terbuka. Terlihat di sana pakaian berenda berwarna pink yang begitu lembut, berpadu dengan apiknya dengan kulit Marsha yang putih dan juga halus.


"Marsha, aku cinta kamu," ucap Abraham dengan melepas kaos yang saat itu dia kenakan.


Pria itu menunjukkan bagian atas tubuhnya yang polos. Dada yang bidang, perut dengan enam kotakan sixpack di sana, dan juga otot-otot liat yang tercetak di sana membuat Marsha mengerjap, wanita itu sedikit mengalihkan pandangannya, dan kesusahan meneguk salivanya sendiri.


Oh, Tuhan ... hasrat ini benar-benar terlarang. Namun, hasrat terlarang ini juga menantang di saat yang bersamaan.


"Boleh Marsha?" tanya Abraham kali ini.


Sekalipun pria itu berada di puncak gairah, dan ada pikiran sehat yang tersisa bahwa semua ini salah. Namun, Abraham justru berusaha menghancurkan garis batas yang ada. Dengan harap-harap cemas Abraham masih menindih Marsha, dan menunggu jawaban yang diberikan Marsha.


Beberapa detik berlalu, hanya deru nafas keduanya yang terdengar. Marsha terlihat bimbang. Haruskah dia terseret arus gelombang terlarang ini, atau menghenti semua di saat dirinya pun juga berdiri di tepi jurang.


Kali ini tidak ada reaksi penolakan sama sekali dari Marsha. Abraham dengan nafas yang menderu kian membawa wajahnya untuk turun dan kini pria itu memberikan godaan di sembulan dada Marsha yang begitu menggoda. Mengecupinya, mencumbunya, bahkan Abraham menggigit kecil di sana dan menghisapnya dalam-dalam. Tidak membutuhkan waktu lama sebuah tanda merah tertinggal di sembulan dada itu. Tangan Abraham pun kini menelisip di balik punggung Marsha, melepaskan tiga pengait di sana, dan membuangnya asal.


Pria itu sedikit menatap buah persik yang begitu ranum, bak tak kuat lagi menahan, Abraham untuk kali pertama merasakan puncak buah persik itu, menggigitnya, menghisapnya, dan bahkan menggoda dengan lidahnya. Saat Abraham menyentuhnya, lenguhan demi lenguhan keluar dari bibir Marsha. Sensasi bercinta seperti ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. Pria yang terlarang baginya untuk memperlakukannya dengan begitu lembut, menghantamnya dengan kenikmatan demi kenikmatan yang Marsha nyatakan dalam lenguhan dan de-sahannya.


Bahkan kedua tangan Marsha bergerak dan seakan kian membenamkan wajah Abraham di dadanya. Memberikan akses penuh kepada Abraham untuk mencicipi buah persik yang ranum dan begitu menggoda itu.


Ini benar-benar khilaf terlarang. Ini adalah benar-benar puncak hasrat terlarang. Menghentikannya tidak bisa. Yang bisa keduanya lakukan adalah terus melanjutkan sampai *******.


Meninggalkan sejenak buah persik di atas, Abraham kian turun. Pria itu kini dengan hati-hati melepaskan celana jeans yang masih dikenakan oleh Marsha. Ada senyuman di wajah pria itu, saat melihat under wear berwarna pink yang justru terlihat manis di sana. Abraham menundukkan wajahnya, dan hendak melakukan invansi di lembah yang sudah begitu lembab di bawah sana. Namun, saat wajah Abraham kian turun, Marsha menahan wajah Abraham dengan tangannya.

__ADS_1


"Bram," ucapnya dengan nafas yang terengah-engah.


Abraham beringsut dan kemudian menatap wajah Marsha sejenak. "Biarkan aku memujamu, Sha ... aku tidak akan nyakitimu, rasakan cintaku. Rasakan perasaanku untukmu," ucap Abraham.


Usai mengatakan semuanya itu, Abraham turun, pria itu mulai melakukan invansi di lembah milik Marsha. Menyapanya dengan sapuan lidahnya, memberikan tusukan demi tusukan dengan ujung lidah itu, dan memberikan godaan yang membuat Marsha bergerak gelisah dan meremas sprei.


"Ah, Bram," de-sah Marsha saat wanita itu merasakan badai kenikmatan yang menghantamnya.


Abraham tersenyum dalam hati, rupanya caranya untuk memuja Marsha berhasil. Menyadari bahwa inilah waktunya, Abraham melepaskan celananya, membuat tubuhnya dan Marsha sama-sama polos mutlak tanpa busana. Abraham menunduk, dan mulai memberikan sedikit gesekan demi gesekan di pintu cawan surgawi milik Marsha. Abraham memejamkan matanya, sebatas gesekan saja sudah membakar dirinya. Mengumpulkan seluruh kemampuannya, Abraham sampai akhirnya membawa pusakanya untuk masuk dan merasai hangat rongga yang penuh madu kenikmatan milik Marsha.


Kali pertama dalam hidup, Abraham merasakan sensasi bercinta dengan mantan pacarnya sendiri. Memang tidak ada usaha menghujam untuk mengoyak tirai di sana karena Marsha sudah menikah sebelumnya, tetapi harus Abraham akui sensasi yang dia rasakan saat ini benar-benar nikmat. Sampai tak ada kata lagi yang bisa Abraham ucapkan. Pria itu memegangi pinggul Marsha dengan kedua tangannya, dan berikan hujaman demi hujaman. Lecutan gairah membuat Abraham memejamkan matanya, pria itu menengadahkan wajahnya merasakan sensasi bercinta untuk kali ini pertama. Tangan yang semula memegang pinggul itu, perlahan merayap dan memberikan sedikit remasan di buah persik milik Marsha, memberikan pilinan dengan ibu jari dan jari telunjuknya dengan gerakan memutar. Geliat tubuh Marsha, de-sahan wanita itu, membuat Abraham kian terlecut untuk bergerak dan menghujam. Gerakan seduktif keluar dan masuk, disertai geraman yang benar-benar mengoyak tempat tidur itu.


"Astaga, Marsha," racau Abraham kali ini dengan mata yang perlahan terbuka. Mata yang dipenuhi kabut, tetapi mata itu bisa melihat bahwa Marsha pun menikmatinya.


Wanita itu justru kian cantik menggeliat dan mende-sah berkali-kali. Abraham kian bergerak, keluar dan masuk, menusuk, dan menghujam dengan dalam.


Beberapa kali gerakan seduktif itu terus berlalu dengan sangat intens. Sampai akhirnya, tubuh Abraham rubuh di atas tubuh Marsha, pria itu kembali mencium bibir Marsha dengan nafas yang memburu, membawa kedua tangan untuk melingkari lehernya. Peluh keduanya bersatu, tetapi kesan hangat, liat, dan basah untuk kian membuat atmosfer di dalam kamar itu benar-benar panas.


"Aku cinta kamu, Marsha ... aku cinta Marsha," ucap Abraham dengan terus menghujam.


Sampai di batas pria itu menggeram, dan benar-benar meledak dengan tubuhnya yang bergetar. Sengatan basah dan hangat di bawah sana mengakhiri hujaman Abraham. Pria itu untuk kali pertama merasakan ledakan dahsyat yang menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas tubuh Marsha. Dengan nafas yang menderu, dengan cairan hangat layaknya lava pijar yang bersatu, hingga akhirnya kekhilafan yang syarat akan hasrat yang terlarang ini sampai dipuncaknya.


Tak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa semua ini akan terjadi. Rengkuhan Marsha menguat, dengan tubuh yang terasa lemas. Deru nafas yang hangat, dada yang kembang kempis, Marsha pun kehilangan akal. Saat Abraham menyentuhnya, Marsha benar-benar menjadi bunga. Bunga yang bermekaran dan menunjukkan pesonanya dengan setiap kuncup dan kelopak bunga yang bermekaran di sana.

__ADS_1


__ADS_2