
Menjalin hubungan jarak jauh memang membuat Marsha begitu rindu dengan Abraham. Jika, bisa Marsha ingin selalu bertemu dengan Abraham dan tidak ingin berpisah lagi dengan pria itu. Rasanya aneh, saat di Ungaran dan Marsha tidak bertemu Abraham, rasanya Marsha baik-baik saja.
Namun, setelah bertemu dengan Abraham dan hubungan keduanya kini menuju ke jenjang yang lebih serius. Rasa rindu seakan benar-benar bergelayut di dalam hati. Ada rasa rindu tak bertepi yang begitu Marsha rasakan. Ada sekelumit senyuman yang menghiasi wajahnya, saat menatap nama yang muncul di layar handphone itu.
“Bram,” sapanya dengan mendekatnya handphone ke telinganya. Hanya sebatas menerima telepon saja dari Abraham membuat Marsha bahagia.
“Kamu baru ngapain Shayang?” tanya Abraham di seberang sana.
“Baru tiduran saja di kamar … kamu masih lama ya Bram di Jakartanya?” tanya Marsha secara langsung kepada Abraham.
“Dua harian lagi … cuma untuk masalah studio sudah beres kok. Kenapa? Kangen yah?” tanya Abraham secara langsung.
“Iya, aku kangen kamu … enggak tahu, antara kangen atau debaynya nih yang kangen,” ucap Marsha sembari mengusap-usap perutnya.
Abraham pun tersenyum di sana, dia begitu senang mendengar Marsha yang bisa mengakui perasaannya secara langsung. Tidak melulu menyembunyikan perasaannya. Andai saja, keduanya tidak terpisah Semarang - Jakarta, pastilah Abraham akan selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi Marsha.
“Sabar … tinggal lama lagi kita akan menjadi Mr. & Mrs. Narawangsa,” balasnya.
Jujur saja, Abraham pun ingin segera meminang Marsha. Namun, pinangan tidak bisa dilaksanakan sekehendak hatinya. Ada prosedur hukum dan agama yang harus mereka jalani. Bisa menikah dalam rentang sepuluh hari saja sudah bagus. Itu juga karena reformasi birokrasi yang dilakukan pemerintah daerah sehingga pemberkasan bisa diselesaikan dengan baik. Bahkan untuk layanan administrasi yang lainnya di Provinsi Jawa Tengah juga kian cepat. Hanya 1 x 24 jam, pengurusan surat-surat dan administrasi bisa selesai.
“Cuma, agaknya kita tidak bisa bertemu sampai hari H pernikahan deh, Bram,” ucap Marsha kali ini dengan lesu.
__ADS_1
“Hmm, kenapa?” tanya Abraham yang cukup kaget dengan apa yang baru saja diucapkan Marsha.
“Iya, kelihatannya aku harus dipingit sama Mama. Tidak boleh keluar rumah. Biar auranya bagus. Kayak anak perawan saja nih Mama … padahal kondisiku kayak gini,” balas Marsha.
Pingit merupakan sebuah tradisi yang biasanya dilakukan oleh calon pengantin berdarah Jawa menjelang hari pernikahannya. Pingitan ini menjadi sebuah proses di mana calon pengantin wanita tidak diperkenankan untuk bepergian ke luar rumah, termasuk menemui calon suaminya sendiri dalam kurun waktu tertentu.
Marsha yang sudah kepalang rindu, agaknya harus benar-benar bersiap dengan tradisi pingitan yang diwacanakan Mamanya itu. Padahal Marsha ingin bertemu dengan Abraham. Namun, apa daya, kebudayaan dan tradisi keluarga tetap harus dijalankan.
“Ya sudah … sabar saja. Toh, tidak lama lagi hari pernikahan kita kan. Aku akan menjadi suamimu, dan kamu menjadi istriku. Kita tidak akan terpisahkan,” balas Abraham.
Walau Abraham juga kecewa sebenarnya, tetapi lebih baik menjalani semuanya dan bersabar terlebih dahulu. Orang bilang akan banyak cobaan menjelang pernikahan, jadi lebih baik bersabar dan menjalani semuanya dengan tulus. Sudah pasti dengan ridho dari Allah, semuanya akan terwujud.
“Kamu pengen apa kalau kita sudah ketemu nanti?” tanya Abraham kali ini.
Sebelum menginginkan hal yang lain, lebih baik Marsha mengatakan bahwa untuk proses ke depannya, diawali dengan ucapan ijab kabul. Di mana keduanya akan dinyatakan sah secara hukum dan agama. Rasanya Marsha akan merasa lega, jika Abraham akan mengucapkan kalimat akad yang akan menjadikannya sebagai istrinya secara sah.
“Pasti Shayang … sudah pasti, aku akan mengucapkan akad. Memintamu untuk menjadi istriku dan menemaniku,” balas Abraham dengan yakin.
Pria tersenyum dan mengusap wajahnya, terbayang bagaimana suasana akad nanti. Sudah pasti, bukan hanya merasa berdebar-debar, tetapi sekaligus merasa bahagia karena cinta keduanya akhirnya bersatu.
“Setelah halal, kamu ingin apa?” goda Abraham lagi melalui telepon itu.
__ADS_1
“Apaan sih Bram … malu ah, kamu ini,” jawab Marsha.
Hanya sebatas berbicara melalui telepon saja, semburat merah muda sudah memenuhi pipinya. Rasanya membayangkan apa yang terjadi selanjutnya setelah akad membuatnya hatinya berdesir.
“Hayo, kamu pasti mikirin yang enggak-enggak yah … ya kita minta restu kepada Mama dan Papa dulu,” jawab Abraham sambil tertawa.
Mendengar jawaban Abraham, Marsha pun tergelak dalam tawa, “Ishs, kamu apaan Bram … siapa juga yang mikirin yang enggak-enggak,” balasnya.
“Ya sudah, Shayangku … ini sudah malam. Masih mau telepon lagi, atau mau bobok sekarang? Hmm, pengen deh aku jadi guling yang ada di tempat tidur kamu itu biar bisa kamu pelukin sepanjang malam,” ucap Abraham dengan tiba-tiba.
“Tuh, yang mikir yang aneh-aneh siapa?” sahut Marsha kali ini.
“Enggak aneh … aku cuma pengen jadi guling aja, ya ampun Shayang … kamu ini, bikin aku gemes deh,” balas Abraham.
Sekian lama mereka saling berbicara, bertukar cerita, membagi tawa melalui telepon seluler yang ada di genggaman tangan mereka. Lantaran hari sudah malam, Abraham pun berusaha menutup teleponnya.
“Ya sudah … udah malam. Besok telponan lagi yah. Met bobo Calon Istriku … mimpiin aku sepanjang malam ini yah. Sun sayang untuk Debay yang ada di perut kamu, bilangin kalau Papanya sayang dan kangen banget sama dia,” ucap Abraham.
Marsha mengangguk, saat Abraham berbicara manis dan lembut seperti ini membuatnya benar-benar bahagia, terharu rasanya.
“Iya Papa Bram … met malam. I Love U,” ucap Marsha.
__ADS_1
“I Love U too. Jangan sedih terus, percaya saja di hari yang sudah ditentukan aku akan datang meminangmu dan mengucapkan akad sama seperti yang kamu minta tadi. I Love U So Much Marsha,” balas Abraham.
Untuk dua jiwa yang terpisah jarak begitu jauh. Cukup bertukar pesan dan perasaan dengan melakukan telepon rindu. Untung saja, masih ada media yang bisa mereka gunakan untuk bertukar pesan. Marsha menutup harinya dengan memejamkan matanya, jika bisa, dia ingin bangun dan esok hari pernikahannya sudah tiba, sehingga tidak perlu lagi dirinya menggenggam rindu seperti ini.