
Sore hari yang sejuk ini, Abraham dan Marsha mendapatkan undangan dari Belva Agastya, tetangganya yang hanya berbeda cluster dan sekaligus orang yang sering bekerja sama dengan Marsha dan Abraham. Mungkin mengingat bahwa belum lama juga keluarga Abraham berduka terkait dengan berpulangnya Ayah kandung Abraham, sehingga sore ini keluarga Belva Agastya mengundang Abraham, Marsha, dan juga Mira untuk playdate bersama di rumahnya.
"Ayo Shayang ... nanti udah ditungguin Bu Sara dan Pak Belva loh," ucap Abraham yang masih menunggu Marsha yang sedang menguncir rambutnya ala pony tail itu.
"Sebentar Mas ... lima menit aja. Biar rapi kuncirannya," balas Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya ya ... sudah pasti aku tungguin kok," balasnya.
Selang lima menit berlalu, kini Abraham bersama Marsha yang menggendong Mira memilih mengendarai motor matic yang berukuran besar miliknya menuju kediaman Belva Agastya. Pikirnya hanya berbeda cluster saja, dan jaraknya tidak terlalu jauh. Naik motor sore-sore juga tidak masalah.
"Jadi kangen kamu boncengin motor kayak di Semarang dulu," ucap Marsha yang kali itu duduk membonceng menyamping dan melingkarkan satu tangannya di pinggang Abraham.
"Mau? Yuk, nanti kalau pulang Semarang kan biar Mira sama Eyangnya dan kita muter-muter di Kota Lama," balas Abraham.
Marsha pun tertawa di sana, teringat dengan kenangan mereka di kala masih berpacaran dulu di kota Semarang. Dulu, Abraham sering memboncengkannya dengan motor pria yang besar mengelilingi jalanan di kota Lumpia itu.
"Boleh ... ntar kalau kita pulang ke Semarang yah," balas Marsha.
Hanya beberapa menit berkendara dan mereka sudah tiba di kediaman Belva Agastya. Abraham yang mengucapkan permisi segera disambut security yang menjaga pintu gerbang dengan ketinggian yang hampir dua meter itu dan membukakannya.
"Silakan, silakan," ucap security itu dengan ramah.
"Mau bertemu Bu Sara dan Pak Belva, Pak," ucap Marsha.
"Iya Bu ... silakan langsung ke taman saja yah," balas security itu.
Pak Security pun memandu Abraham dan Marsha untuk menuju ke taman yang letaknya di samping rumah. Taman hijau dan penuh aneka bunga, lampu taman layaknya bola-bola berwarna putih, dan ada kolam renang di sana.
"Permisi," sapa Marsha dan Abraham bersamaan.
__ADS_1
"Mari ... tuh Evan dan Elkan beri salam sama Om Abraham dan Tante Marsha," ucap Bu Sara.
Rupanya Evan dan Elkan pun berjalan ke arah Abraham dan Marsha, lantas bersalaman dan mencium punggung tangan mereka satu per satu. Walau lahir sebagai anak-anak orang kaya, tetapi terlihat bahwa Pak Belva dan Bu Sara mendidik Evan dan Elkan dengan sangat baik. Tidak meninggalkan nilai dan norma kesopanan.
"Boleh enggak, aku gendong Mira?" tanya Bu Sara kemudian.
"Tentu boleh dong Bu," balasnya. Marsha pun segera memberikan Mira kepada Bu Sara di sana.
Tampak Bu Sara tersenyum lebar kala mulai menggendong Mira. "Mira kapan main ke sini lagi. Kalau Mama dan Papa sibuk, Miranya tinggal di sini saja. Ikut Mama Sara," balas Bu Sara.
Tidak mengira bahwa Bu Sara membahasakan kepada Mira untuk memanggilnya Mama Sara. Pak Belva pun segera mendekat dan tersenyum pada Mira yang sekarang sedang berada di gendongan istrinya.
"Tumben ngajakin playdate Bu?" tanya Marsha kemudian.
"Iya ... soalnya, minggu depan aku dan Mas Belva mau jalan-jalan ke London. Main dulu sama kalian," balas Bu Sara.
"Pasti mau bulan madu kedua ya Bu?" balas Marsha.
Dengan cepat Bu Sara pun tertawa, "Kamu tahu saja. Iya, minggu depan Adik Iparku mau ke sini, merawat Evan dan Elkan. Aku dan Suami mau quality time sebentar ke London," balas Bu Sara.
Oh, rupanya playdate sore itu adalah untuk bermain bersama sebelum Bu Sara dan suaminya akan jalan-jalan ke London minggu depan. Kemudian Sara tersenyum menatap Mira.
"Doakan saja nanti bisa punya baby girl yang cantik kayak Mira yah," balas Bu Sara.
"Amin ...."
Abraham dan Marsha pun begitu kompak untuk mengaminkan harapan dari Bu Sara. Kemudian ada Elkan yang rupanya mendekat dan tampak suka dengan bayi cantik bernama Mira itu.
"Mama, i want baby girl," ucapnya.
__ADS_1
"Dik El berdoa dulu yah ... biar di perut Mama ada baby girl yang cantik seperti Mira. Menurut Kakak El, Mira cantik tidak?" tanya Bu Sara kepada putra bungsunya itu.
"Ya ya ya, cantik ...." Elkan membalas dengan begitu menggemaskannya. Hingga mereka semuanya pun tertawa karena ucapan Elkan yang terdengar lucu.
" ..., tapi cantik Mama," balas Elkan lagi.
Jika Elkan bisa berbicara seperti ini mungkin saja Elkan terlalu sering mendengar ucapan Papanya yang sering mengatakan bahwa Mamanya itu adalah wanita yang paling cantik di rumah. Lagi-lagi mereka yang ada di sana pun tertawa.
"Yuk makan ... itu tadi aku buat Bulgogi. Kak Evan yang pengen Bulgogi. Sana, kalian makan aja, biar aku yang gendong Mira," ucap Bu Sara lagi.
Akhirnya Pak Belva pun mengajak Abraham dan Marsha untuk menikmati berbagai menu khas Korea Selatan yang disajikan sore itu. Bukan hanya Marsha dan Abraham, tetapi si tuan rumah juga menyuruh asisten rumah tangga mereka untuk menikmati hidangan yang tersaji sore itu.
"Yang banyak yah ... nanti bungkus bawa pulang boleh," ucap Belva kepada Marsha dan Abraham.
"Ini sudah banyak Pak Belva," balas Abraham.
Di kala semua orang tengah makan, rupanya Pak Belva mendekat ke istrinya dan mulai menyuapi daging Bulgogi untuk istrinya. "Kamu juga makan Sayang," ucapnya.
Bu Sara pun menerima saja suapan dari tangan suaminya itu. Marsha yang melihat chemistry Bu Sara dan Pak Belva pun tersenyum dan berbisik kepada suaminya yang duduk di sampingnya.
"Sweet ya Mas," ucapnya.
"Iya ... idaman banget," balas Abraham.
"Doaku kita bisa sweet dan langgeng terus. Manis dan harmonis seperti Bu Sara dan Pak Belva," sahut Marsha.
"Amin!"
Abraham dengan sepenuh hati mengaminkan ucapan istrinya itu. Semoga saja memang hubungannya dengan Marsha memiliki chemistry yang harmonis, manis, dan juga langgeng tentunya.
__ADS_1