Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Jalan-Jalan Pagi


__ADS_3

Berada di Villa yang ada di Bogor, pagi datang menyapa dengan cara yang lebih lembut. Desiran angin yang membuat tirai jendela berwarna putih itu melambai-lambai, dan senyuman hangat sangat surya yang membias di cermin yang ada di dalam kamar. Marsha terbangun dengan melihat suaminya dan Mira yang tidur dan saling memeluk.


Di dalam hatinya, wanita itu tersenyum. Rasanya selalu saja sweet ketika melihat Papa Abraham dengan Mira yang tidur dan saling memeluk. Hubungan Papa dan anak yang sangat indah. Marsha pun sadar bahwa waktu seperti ini hanya berjalan beberapa saat saja. Sebab, ketika Mira akan semakin beranjak dewasa, akan sukar untuk bermanja-manjaan dengan Papanya sendiri.


Hingga akhirnya, Marsha memilih menguncir rambutnya, menggosok gigi dan mencuci wajahnya terlebih dahulu. Setelahnya, dia keluar dari kamar perlahan-lahan.


Lantas dia menuju ke dapur, hendak menyeduh Teh untuk seluruh orang yang ada. Bagaimana pun Marsha di sini adalah diajak, jika terlalu bersantai rasanya juga malu. Namun, di dapur sudah ada Bu Sara dan pembantu di dapur yang sedang menyiapkan sarapan dan tampak mengobrol santai di sana.


"Pagi Bu Sara ... pagi Mbak," sapa Marsha kepada keduanya.


"Pagi, Sha ... sudah bangun?" tanya Bu Sara.


"Sudah Bu ... saya kesiangan yah?" tanya Marsha.


"Enggak lah ... masih jam setengah enam pagi ... masih pagi banget. Para suami dan anak-anak saja masih lelap kok," balas Bu Sara. "Gimana, semalam kamu bisa tidur di sini?" tanya Bu Sara kepada Marsha.


Marsha pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Bisa Bu ... nyenyak malahan. Setelah api unggun itu, saya dan Mas Bram tidur kok," balasnya.


Sembari membantu untuk urusan dapur. Hingga akhirnya terdengar suara anak-anak dan para Papa sudah sudah heboh dengan obrolan mereka.


"Pagi," sapa mereka semua kepada Bu Sara dan Marsha yang ada di dapur.


Ada Pak Belva dengan Evan dan Elkan, juga ada Papa Abraham yang menggendong Mira pagi itu. Mereka semua belum mandi, masih menunjukkan wajah bantal, khas baru tidur.


"Mama ayo jalan-jalan pagi, Ma," ajak Elkan dengan berlari ke arah Mamanya yang ada di dapur.

__ADS_1


"Mama baru bantuin untuk membuat sarapan, El," balas Bu Sara.


"Jalan-jalan saja Ma ... sebentar saja. Ayo, ajak Mira jalan-jalan pagi," balas Elkan lagi.


Bu Sara pun tersenyum dan melirik ke Marsha. Setidaknya dia ingin menunjukkan bahwa Elkan sebegitunya ingin menunjukkan pemandangan indah di pagi hari kepada Mira. Jika bukan perasaan sayang, lalu ini adalah perasaan apa? Yang pasti terlihat bahwa juga terlihat rasa sayang itu. Padahal Evan terlihat cool dan santai saja.


"Tanya dulu itu sama Om Abraham, boleh enggak Miranya diajak jalan-jalan?" respons Mama Sara.


Rupanya Elkan pun berjalan dan berdiri di depan Abraham dan dia bertanya kepada Abraham di sana. "Om, Om Abraham ... boleh tidak kita jalan-jalan bersama Mira. Di dekat Villa ini adalah tempat yang indah dan taman bunga," ucap Elkan.


Abraham pun tersenyum dan menatap bocah berusia 5 tahun itu dengan perasaan mungkinkah Elkan ini yang akan menjadi menantunya di masa depan. Hingga akhirnya Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Boleh ... yang penting hati-hati yah," balasnya.


"Iya, El akan jagain Mira kok. Om dan Tante Marsha ikutan yah ... Mama dan Papa juga ikut kok," balas Elkan lagi.


Akhirnya dua keluarga itu sepakat untuk jalan-jalan sebentar di sekitaran Villa. Ada Belva yang segera menggandeng istrinya. Pun demikian, Abraham dan berjalan di sisi Marsha. Sementara Elkan dan Mira tampak bergandengan tangan berjalan di depan, dan Evan yang berjalan di belakang adiknya itu.


Mereka berjalan di jalan aspal yang tidak seberapa itu, dengan aneka pohon dan tanaman yang membuat tempat itu menjadi sejuk. Pun dengan sinar matahari yang rasanya hangat dan tidak begitu terik.


"Pelan-pelan saja Mama ... perut kamu sudah membuncit," ucap Papa Belva yang mengingatkan agar istrinya itu tidak terlalu cepat-cepat berjalannya.


Pun Abraham yang turun memperingatkan istrinya, "Kamu juga hati-hati Sayang ... Ibu hamil jalannya santai saja," ucap Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Mas ... ini juga nyantai. Kita di paling belakang. Tuh, lihat menantu kecil kamu ... sweet banget ya Mas," gumam Marsha dengan menahan tawa.


"Papanya Mira kalah sweet ya Yang?" balas Abraham.

__ADS_1


Marsha tersenyum perlahan, "Bagiku sih paling sweet ya kamu dong ... tidak ada yang lain," balasnya.


Hingga akhirnya, mereka sampai di kebun bunga yang dimaksud oleh Elkan. Ada beberapa bunga di sana yang pagi itu tampak bermekaran. Begitu indah, ada mawar dengan tetesan embun yang membuat kelopaknya menjadi basah, dan juga justru terlihat kian indah.


Sementara para orang tua duduk di kursi dari kayu yang ada di sekitaran kebun bunga itu, dan Evan tampak duduk saja. Sementara ada Elkan yang berjalan di belakang Mira yang memang suka bunga. Ketika Mira bertanya itu bunga apa, rupanya, Elkan bisa menjawabnya.


"Ini bunga apa Kak El?" tanya Mira.


"Ini bunga Kencana Ungu, Mira ... bagus kan warnanya ungu," balas Elkan.


Mira tampak menganggukkan kepalanya, "Bagus ya Kak ... bisa ungu warnanya. Kalau yang putih itu Mawar Putih ya Kak?" tanya Mira lagi.


"Iya, Mawar Putih. Mawar itu kan warnanya banyak, Mira. Ada merah, pink, kuning, dan putih." Elkan hanya menyebutkan warna bunga Mawar yang lazim saja.


"Bunga berwarna biru apa ada Kak El?" tanya Mira lagi.


"Ada ... Bunga Flax yang berwarna biru muda keunguan, ada bunga Forget Me Not yang mekar bergerombol. Sayangnya hanya tumbuh di Ameriksa Selatan. Bunga Iris juga berwarna biru. Di rumah ada Ensiklopedia bunga-bunga nanti aku pinjemkan buat kamu," balas Elkan.


Mira kemudian menatap Elkan di sana, "Bukunya itu buat Mira saja boleh enggak?" tanyanya.


Elkan tampak tersenyum, "Itu bukunya Kak Evan ... bukan milikku. Kalau kamu mau, nanti aku belikan buat kamu. Aku punya tabungan sendiri, aku belikan yah," balas Elkan.


"Makasih Kak El," balas Mira yang tentu senang dengan Elkan.


Dari jarak beberapa meter, Belva pun berbicara kepada Abraham, "Tuh, lihat Bram ... lamaranku semalam bukan tanpa sebab. Terlihat kan putra bungsuku sangat sayang pada Mira," ucapnya.

__ADS_1


Abraham pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Benar Pak ... apa yang mereka bicarakan hingga Mira sebahagia itu," balas Abraham dengan mengamati putri kecilnya dari jauh.


Rasanya begitu lucu, tapi nyata bahwa Elkan dan Mira tampak saling menyayangi satu sama lain. Sementara Evan adalah anak yang cuek dan cool. Berbeda dengan Elkan yang ada anak yang hangat dan juga perhatian pada Mira.


__ADS_2