Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Terpergok Mertua


__ADS_3

Waktu selama dua jam akhirnya dihabiskan Marsha dan Abraham di ruangan karaoke itu. Seakan Abraham benar-benar memberikan waktu bagi Marsha untuk menenangkan dirinya. Abraham bahkan menjadi pendengar yang baik, mendengarkan keluh kesah Marsha. Juga, Abraham memberikan nasihat kepada Marsha untuk menilik kembali hati dan perasaannya kepada Melvin.


Abraham meminta kepada Marsha untuk tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Sebab, membuat keputusan dengan emosi yang menyala-nyala justru bisa merugikan diri sendiri. Keputusan yang diambil hanya berdasarkan emosi lebih banyak memberikan penyesalan yang terdalam. Abraham mengatakan semua itu, karena Abraham sudah merasakannya. Ya, akhir hubungannya dengan Marsha di bangku kuliah dulu, Abraham yakini pasti berakhir karena emosi sesaat.


“Mau dipeluk terus?” tanya Abraham pada akhirnya.


Tentu itu hanya sebuah pertanyaan yang sifatnya pengalihan, karena memang sedari tadi Marsha memeluk Abraham, entah sudah berapa banyak air mata yang tumpah dan membasahi dada Abraham. Namun, Abraham sama sekali tidak keberatan. Abraham juga merasa senang karena di saat terpuruknya, Abraham ada untuk menenangkan Marsha.


“Sorry, Bram,” balas Marsha sembari mengurai pelukan. Ya, wanita itu mengurai kedua tangannya yang semula melingkari pinggang Abraham.


Namun, justru terdengar kekehan dari mulut Abraham, “Peluk saja sepuasmu … aku tidak masalah kok,” ucap Abraham kali ini.


Tentu saja Abraham sama sekali tidak merasa keberatan. Dia justru senang bisa memeluk Marsha, menjadi tempat bersandar dan menumpahkan seluruh air mata wanita itu. Bahkan Abraham pun juga merasa nyaman bisa memeluk Marsha.


“Sorry … aku hanya membutuhkan sedikit pelukan,” aku Marsha.


Setelah semua perlakuan buruk yang dia terima dari suaminya, tidak dipungkiri bahwa Marsha membutuhkan sebuah pelukan yang hangat. Pelukan yang bisa melepaskan rasa sakit di hatinya itu. Mungkin Marsha terkesan jahat dan murahan karena dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan pria lain, tetapi bagaimana justru luka yang dia rasakan sekarang ini berasal dari suaminya. Sementara orang yang menggoreskan luka, pergi berlalu begitu saja dan tidak berniat untuk memberikan pelukan hangat dan membalut lukanya.


Ironis memang ketika seorang suami menyakiti dan menggoreskan luka, justru pria lain yang memberikan ketenangan dan menenangkan wanita itu. Seharusnya mereka yang menyakiti, mereka yang bertanggung jawab untuk mengobati. Namun, dalam kasus Marsha justru Abraham lah yang memberikan dirinya dengan sukarela untuk membalut luka di hati Marsha. 


"Usai ini, makan dulu yuk, Sha … aku yakin kamu belum makan. Kalau pun makan pasti hanya Crofflee di Coffee Bay tadi," ajak Abraham kali ini. 

__ADS_1


Ya, melihat kepedihan di wajah Marsha dan betapa sembabnya wajah wanita itu, Abraham yakin bahwa Marsha sudah pasti melewatkan makanannya. Untuk itulah, Abraham mengajak Marsha untuk makan bersama. 


"Kamu mau makan apa? Biar aku yang traktir," balas Marsha kali ini. 


Pikirnya tidak masalah untuk mentraktir Abraham dengan membelikan pria itu makanan yang enak. Lagipula, Abraham sudah begitu baik kepadanya. 


"Tidak perlu, biar aku saja. Mana ada cowok keluar sama cewek dan dibayarin. Big no, Sha." Abraham memberikan jawaban secara tega. 


Namun, Marsha justru menyunggingkan senyumannya. Di hadapannya justru sosok Abraham sama sekali tidak berubah. Abraham yang ada di hadapannya sekarang ini adalah Abraham yang sama dengan sosok Abraham yang menjadi kekasihnya di bangku kuliah dulu. 


"Kamu masih tetap sama, Bram," balas Marsha kali ini. 


"Yuk, kita makan bersama. Sudah yah jangan sedih-sedih lagi. Usai ini, saat kamu pulang nanti … please, jangan menangis lagi ya Marsha. Kamu tahu kan, aku paling enggak bisa lihat kamu menangis," balas Abraham. 


Sampai akhirnya, Abraham berjalan dan menggandeng tangan Marsha. Keduanya bahkan kian menikmati kebersamaan mereka. Lagipula, di pusat perbelanjaan sebesar ini, sudah pasti tidak ada yang memperhatikan mereka. Tidak akan ada yang mengenali Marsha, terlebih Marsha mengenakan kacamata dan masker yang menutup sebagai wajahnya. 


"Mau makan Sushi?" tanya Abraham kali ini. 


"Mau," sahut Marsha dengan cepat. 


Tentu Marsha menjawab dengan cepat karena Sushi adalah makanan favoritnya. Lihatlah, untuk tahun-tahun yang sudah berlalu pun, Abraham masih mengingat bahwa Marsha begitu menyukai makanan olahan khas Jepang itu. 

__ADS_1


"Yuk, ke restoran Sushi. Aku belikan satu boat Sushi untuk kamu," ucap Abraham. 


Di salah satu restoran Sushi khas Jepang, biasanya satu boat berisikan 28 hingga 32 buah Sushi yang disajikan dengan berbagai varian. Kali ini, Abraham mengatakan akan membelikan satu boat Sushi untuk Marsha. 


Pasangan terlarang yang saling bergandengan tangan itu dengan saling berbicara dan sesekali bercanda bersama. Menuju ke restoran Sushi terkenal yang berada di Mall itu dengan tangan yang saling bertaut. 


Sampai akhirnya sebuah panggilan menghenyakkan Marsha. 


"Marsha, kamu …."


Suara wanita paruh baya yang sangat dia kenali. Suara wanita paruh baya yang selama beberapa hari ini terdengar di indera pendengarannya. Menyadari suara yang familiar itu, Marsha menoleh. Kian terkejut, saat sebuah tangan menepuk bahunya. 


"Mmm … Mama Saraswati," ucap Marsha dengan lidah yang terasa kelu. 


Sungguh, Marsha tidak menyangka akan bertemu dengan Mama mertuanya di sini. Padahal ada begitu banyak pusat perbelanjaan di Ibukota, tetapi kenapa justru sekarang dirinya bertemu dengan Mama Saraswati. Seluruh tubuh Marsha terasa begitu kaki, terlebih saat ini tangannya masih bertaut dengan tangan Abraham di sana. Tangan Marsha masih berada di dalam genggaman Abraham. 


"Kamu dengan siapa Sha? Inikah yang kamu lakukan jika suamimu syuting?" tanya Mama Saraswati dengan sorot matanya yang tajam dan terdengar mengintimidasi. 


Tangan Marsha dan tangan Abraham yang semula saling bertaut pun terurai seketika. Keringat dingin tiba-tiba muncul dari kening Marsha, menandakan bahwa wanita itu tengah panik sekarang. Benar-benar tidak menyangka akan terpergok oleh mertuanya sendiri. 


"Ini tidak seperti yang Mama kira," sahut Marsha. 

__ADS_1


Walaupun hanya sekadar alibi, tetapi Marsha berusaha membela diri. Sekalipun Marsha tahu bahwa sia-sia membela diri sendiri di hadapan mertuanya itu. Yang ada justru Marsha akan kian dipojokkan oleh mertuanya itu. 


Mama Saraswati menatap tajam pada Marsha. Rasa tidak suka menyeruak begitu saja membuat Mama Saraswati geram dengan kelakuan menantunya yang asyik bergandengan tangan dengan pria yang bukan suaminya. Sementara dalam benak Marsha, sudah pasti kelakuannya hari ini akan dijadikan cibiran oleh mertuanya itu. Marsha mengakui bahwa apa yang dia lakukan tidak benar. Apa yang dia lakukan adalah sebuah hubungan terlarang, agaknya kali ini Marsha harus memberikan penjelasan secara detail kepada Mama mertuanya itu. Siapa tahu Mama Saraswati bisa melihat dari sudut pandangnya dan tidak menghakiminya tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.


__ADS_2