Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Wedding Day


__ADS_3

Hari pun berganti dengan hari. Sama seperti yang pernah Marsha ucapkan sebelumnya, bahwa mereka akhirnya pun dipingit. Berusaha menjalani dengan ikhlas, karena semua untuk kebaikan keduanya. Kini, di salah satu hotel berbintang di Semarang, venue pernikahan mengusung gaya outdoor.


Konsep rustic wedding yang berpadu dengan alam menjadikan venue di hotel itu begitu indah. Dari udara, Gunung Ungaran dan perbukitan hijau yang mengelilingi kota Semarang, dipadukan dengan aneka macam bunga, tumbuhan alang-alang, dan menambangkan lampu-lampu serta dan menggantungkan lentera di beberapa sudut venue.


Di pelaminan sudah di tata sebuah meja yang mengedepankan unsur kayu, di maja penghulu sudah bersiap dengan Papa Budiman di sana. Sementara Abraham begitu tampan dengan mengenakan Beskap (baju adat Jawa untuk pria) berwarna putih, dan blangkon yang bertengger di kepalanya.


Beberapa kali Abraham tampak menghela nafas, begitu gugup. Namun, sekaligus ini adalah hari yang sudah Abraham tunggu sejak lama. Hari di mana cintanya akan mendapatkan rumah yang tepat, pelabuhan yang sempurna, dan ujung dari semua jalan yang begitu terjal dan berliku.


Di pernikahan yang hanya akan didatangi keluarga dan kerabat ini, Abraham akan mengukuhkan cintanya kepada Marsha. Angin yang berhembus segar, berpadu dengan wewangian dari bunga-bunga segar yang memenuhi venue acara. Sampai akhirnya dengan digandeng oleh Mama Diah dan Mama Ria, Marsha keluar.


Wanita cantik yang saat itu mengenakan Kebaya Putih yang mencetak tubuhnya, dan riasan yang tidak terlalu bold, justru membuat Marsha kian cantik. Ditambah dengan reroncean bunga Melati yang menghampar di dada sebelah kanan Marsha. Begitu cantik, sampai seluruh tamu undangan yang hadir kala itu begitu terkesima dengan kecantikan Marsha. Abraham pun memandang Marsha dari jauh, sampai pria itu nyaris tak berkedip.


Pelan-pelan Marsha berjalan, dan kemudian dia duduk di samping Abraham. Lantas, sebuah kerudung berwarna putih ditudungkan di atas kepala Marsha dan Abraham.


Penghulu pun mengisyaratkan bahwa akad bisa segera dimulai. "Kita mulai sekarang?" tanya penghulu yang duduk di hadapan kedua mempelai.


Baik Papa Budiman dan Abraham pun sama-sama mengangguk. Papa Budiman lantas menjabat tangan Abraham, seorang pria yang kepadanya Papa Budiman akan menyerahkan putrinya yaitu Marsha.


"Saya nikahkan, dan saya kawinkan engkau dengan putriku Marsha Valentina binti Budiman dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat tunai."


Papa Budiman akhirnya mengucapkan kalimat sakral itu. Kalimat sakral dari seorang Ayah yang menikahkan putri kandungnya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Marsha Valentina binti Budiman dengan mas kawin tersebut tunai."


Abraham mengucapkan Ijab Qoubulnya dalam satu tarikan nafas, hingga penghulu dan saksi pun berkata,

__ADS_1


"Sah!"


Marsha tak kuasa meneteskan air mata, hari ini dirinya resmi dipinang oleh Abraham. Pernikahan kedua baginya. Terkadang rasanya seperti dejavu, tetapi Marsha meyakinkan dirinya sendiri bahwa pernikahannya dengan Abraham akan berjalan dengan baik dan bermuara sampai till jannah.


Sama halnya dengan Marsha, Mama Diah dan Mama Ria pun turut meneteskan air mata. Rasa haru menyelimuti dua perempuan paruh baya itu. Melihat Abraham dan Marsha yang bersatu dalam ikatan pernikahan. Abraham yang pada akhirnya melabuhkan hatinya kepada wanita yang sudah dicintainya sejak lama yaitu Marsha.


Lantunan ayat suci Al'Quran pun dilantunkan, maka Marsha dan Abraham sama-sama menangkupkan telapak tangannya dan menengadah. Mengamini setiap ayat-ayat suci yang dilantunkan.


Kemudian acara dilanjutkan dengan penyematan cincin di jari manis masing-masing mempelai. Marsha yang pertama memasangkan cincin yang sudah diukir namanya di jari manis Abraham, kemudian Marsha menundukkan kepalanya dan mencium punggung tangan suaminya itu. Kemudian, Abraham pun melingkarkan cincin yang berukir namanya di jari manis Marsha, kemudian Abraham mengecup kening istrinya itu.


Sebatas ciuman di kening saja yang Abraham labuhkan di kening Marsha, nyatanya ciuman itu menggetarkan hatinya sampai Marsha menitikkan air mata. Hari yang dinanti tiba. Saat dirinya dan Abraham akhirnya berakhir dalam sebuah pernikahan.


Usai prosesi tukar cincin, Abraham dan Marsha sama-sama melanjutkan prosesi sungkeman sebagai bentuk tanda bakti dan hormat yang diberikan anak kepada orang tuanya. Bentuk rasa syukur dan terima kasih karena telah memberikan bimbingan dan kasih sayang dari lahir hingga akhirnya mereka menikah. Kali ini, mereka berdua melakukan sungkeman kepada Mama Diah terlebih dahulu. Kedua pengantin bersujud dan memohon doa restu dari Mama Diah.


"Mama, doakan kami berdua," ucap Abraham dan Marsha berbarengan.


Mama Diah pun memeluk Marsha dan Abraham bersamaan. Wanita paruh baya itu pun terisak sembari memeluk keduanya.


"Bahagialah kalian berdua ... sehat-sehat ya Marsha dan Bram. Maaf di masa lalu, Mama pernah menghalangi cinta kalian berdua. Sekarang, Bram ... jagalah Marsha. Jangan menyakiti hatinya, saat kamu menyakiti istrimu, itu sama halnya kamu menyakiti hati Mamamu," ucap Mama Diah.


"Iya Ma, Bram akan selalu mencintai Marsha," jawab Marsha yang juga meneteskan air mata dalam pelukan Mamanya itu.


"Marsha, doa Mama ... kamu selalu langgeng bersama Bram. Sehat untuk kamu dan calon cucu Eyang ini yah," ucap Mama Diah yang berbisik lirih di telinga Marsha.


"Iya Ma ... terima kasih," sahut Marsha.

__ADS_1


Hingga akhirnya prosesi sungkeman dilanjutkan kepada Mama Ria dan Papa Budiman. Keduanya bersimpuh dan bergantian untuk memohon doa dan restu dari Mama Ria dan Papa Budiman.


Prosesi sungkeman memang selalu menjadi momen yang begitu haru. Air mata menetes dengan sendirinya, terasa begitu emosional saat seorang anak bersimpuh, merendahkan diri, dan memohon doa restu dari kedua orang tua.


Setelahnya, Abraham dan Marsha didudukkan di pelaminan. Mereka menerima selamat dan doa dari tamu undangan yang hadir. Memasang senyuman di wajah, dan selalu berpose di depan jepretan kamera. Sampai waktu break tiba, Marsha memilih untuk duduk terlebih dahulu.


"Capek Shayang?" tanya Abraham yang turut duduk di samping Marsha.


"Lumayan sih ... cuma seneng banget. Akhirnya," sahut Marsha.


"Kamu pakai heels?" tanya Abraham kemudian.


Sebab, Abraham khawatir jika Marsha yang sudah berbadan dua justru mengenakan heels di hari pernikahannya. Wanita yang tengah hamil sebisa mungkin tidak mengenakan heels.


"Tidak kok ... aku pakai flat," ucap Marsha sembari menunjukkan alas kaki yang dia kenakan.


"Syukurlah, aku khawatir ...."


Abraham berbicara dengan lirih, karena ada sesuatu yang dia khawatirkan saat ini dan itu tentu adalah janin di dalam rahim Marsha.


"Masih lama yah?" tanya Marsha saat ini.


"Enggak ... paling foto-foto saja, dan makan. Kan cuma kayak syukuran saja," balas Abraham.


Ya, mereka memiliki mengusung pernikahan sederhana dan tidak terlalu banyak prosesi di dalamnya. Mengingat bahwa Marsha yang berbadan dua dan juga tamu yang datang juga tidak terlalu banyak. Kesannya justru seperti Intimate wedding.

__ADS_1


"Makasih Sha ... hari ini, aku menerima pinangan aku. Ketahuilah, aku meminangmu dengan cinta. Kamu sungguh menawan dan juga begitu elok di mataku. Aku cinta kamu, Marsha!"


Abraham mengucapkan kata cintanya kepada Marsha. Tersungging sebuah senyuman yang menghiasi wajah Marsha. Dalam hatinya, Marsha pun yakin bahwa Abraham meminangnya dengan cinta. Cinta yang akan mereka jaga dan rawat bersama.


__ADS_2