Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Fixed Anak Papa!


__ADS_3

Pagi itu usai terus-menerus menyebut sang Papa, Mira pun menjadi nempel seperti perangko dengan Papanya. Bahkan untuk mandi saja sampai Mira menangis dan maunya dengan Papanya. Marsha tentu sampai heran, kenapa tiba-tiba Mira menjadi tantrum seperti ini.


"Tumben sih Mira pagi-pagi tantrum kayak gini," keluh Marsha dengan melihat Abraham yang kini usai memandikan Mira, bahkan anaknya itu seolah tidak ingin lepas dengan Papanya. Semuanya inginnya dilakukan dengan Papanya.


"Tidak apa-apa Shayang, mungkin memang baru mau sama Papanya, baru manja," balas Abraham.


Bahkan kini Papa Abraham begitu telaten memakaikan diapers, mengusapkan minyak telon di dada dan punggung Mira, lantas mengenakan pakaiannya. Untuk urusan menyisir rambut juga dilakukan oleh Papa Abraham, sehingga Mama Marsha hanya mengambil handuk yang basah itu dan menjemurnya. Selain itu, Mama Marsha melakukan hal lain misalnya mengambilkan yang diperlukan oleh suaminya.


"Mira mau minum ASI dulu enggak Nak? Sudah mulai penuh loh, Sayang," tanya Marsha dengan mengambil tempat di sisi suaminya.


"Nen ... Pa ... pa," sahutnya.


Oh, maksudnya Mira adalah mau meminum ASI, tetapi tetap ada Papanya. Marsha sampai geleng sendiri. Tidak biasanya Mira seperti ini. Mungkin juga beberapa hari Papanya lembur di Studio Foto sehingga Mira menginginkan waktu bounding dengan Papanya.


"Maunya bounding dengan Papa," balas Marsha.


"Iya Shayang ... ya sudah, kamu berikan ASI dan aku temenin di sini," balas Abraham. Kemudian Abraham berkata kepada Mira, "Sama Mama minum ASI yah, dan Papa akan di sini menemani kamu," balasnya.


"Ini ... miya," ucapnya. Maksudnya dia ingin Papanya ada bersama dengan Mira.


Akhirnya, Marsha memangku Mira dan kemudian memberikan ASI, sementara satu tangan Mira tidak pernah lepas dari genggaman Papanya. Seolah tidak ingin Papanya itu pergi dan jauh darinya.


"Fixed, Mira anaknya Papa banget," ucap Marsha dengan berbisik lirih kepada suaminya.


Abraham pun tersenyum di sana, "Kan benar ... dia anakku, darah dagingku," balasnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Manja ya Mas," balas Marsha kemudian.


"Kelihatannya dia mau main sama Papanya, Shayang ... maaf ya, kemarin juga lembur dan pulang agak malam dari studio," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, "Iya Papa ... kan Papa lembur juga buat kami berdua. Cuma kan ada pepatah bilang 'Daddy's Lil Girl". jadi ya Mira ini akan selalu menjadi gadis kecilnya Papa," balas Marsha.


Justru Marsha senang karena Mira memiliki kedekatan dengan Papanya. Rasanya terbayang dengan masa kecilnya dulu, ketika Marsha juga ada di fase begitu dekat dengan Papanya. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu yang ada justru hubungan Marsha dan kedua orang tuanya menjadi renggang. Kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya yang tidak harmonis perlahan-lahan membuat Marsha menjauh dari kedua orang tuanya.


"Kenapa diam saja?" tanya Abraham kemudian.


Marsha menggelengkan kepalanya sesaat dan matanya sudah berembun di sana, "Jadi kangen Papaku ... dulu aku waktu kecil juga seperti Mira dan kamu seperti ini. Begitu dekat sampai pernah gak mau pisah. Ada satu memori yang aku ingat bahwa aku sangat senang ketika aku sekolah dan Papa selalu mengantarkanku berangkat ke sekolah di pagi hari. Itu menjadi memori terindah yang aku ingat sampai sekarang. Namun, hubungan Mama dan Papa yang tidak baik dan banyak pertengkaran membuatku menjauh dan tidak lagi menjadi anak kesayangan mereka, padahal aku adalah anak satu-satunya," cerita Marsha.


Semua orang memiliki masa lalu dan cerita anak-anak yang terpatri di dalam hati dan pikiran kita. Pun demikian dengan Marsha yang melihat Mira semanja ini dengan Abraham membuatnya merasa kangen dengan Papanya. Teringat dengan masa-masa dirinya masih disayang dan begitu diratukan oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, perceraian menjadi momok terbesar bagi seorang anak, di mana tidak lagi menjadi anak yang disayang. Menjadi anak yang hanya sebatas dihidupi dan tidak disayangi.


"Tidak apa-apa Shayang ... tanpa semua memori itu, tidak mungkin kamu akan sampai di sini. Mau kapan-kapan pulang ke Semarang dan menginap di rumah keluarga kamu?" tanya Abraham kemudian.


"Kapan-kapan saja Mas ... apalagi Mama dan Papa juga sudah pisah rumah, jadi semakin susah untuk menemui keduanya," balas Marsha lagi.


"Jangan sedih Shayang ... kita bina rumah tangga kita yah. Aku dan kamu sama-sama memiliki luka di masa lalu terkait dengan keluarga kita. Tentu ada trauma dan kepedihan sendiri di dalam hati, tetapi kita bisa bina dan wujudkan kehidupan rumah tangga kita. Ini adalah rumah tangga kita, dunia kita yang bisa kita warnai dengan aneka warna kesukaan kita. Dunia yang bukan hanya menumbuhkan aku dan kamu, tetapi juga Mira," balas Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya di sana, "Aku berharap kamu tidak bosen denganku ya Mas ... kalau mendapati aku salah dan melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapanmu, tegur aku saja. Aku akan dengan senang hati merubah diriku. Jangan sampai hanya diam dan pada suatu hari nanti akan meledak. Kamu orang yang terdekat denganku, membersamai keseharianku, jadi tegur aku, dan aku akan berbesar hati untuk ditegur dan minta maaf," ucap Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Tentu Shayang ... aku juga, tegurlah aku. Suami bukan berarti selalu benar, istri pun bisa membenarkan suaminya. Kita cooperative couple. Oke?"


"Iya Mas ... duh, jadi mellow. Lihat Mira sedekat ini dengan kamu, membuatku ingat dan rindu dengan Papa," balas Marsha.

__ADS_1


Tanpa melepaskan tangan Mira yang masih setia menggenggam jari telunjuknya, Abraham menempatkan kepala Marsha di bahunya, sehingga duduk bersandar di bahunya dan Marsha sendiri memberikan ASI untuk Mira.


"Sini ... kapan-kapan kita ke Semarang lagi yah, kita tengok Eyangnya Mira yang lain," balas Abraham.


"Makasih Papa Abraham ... baik banget sih," balas Marsha.


Abraham tersenyum, "Aku akan berbuat baik kepadamu seumur hidupku, Yang ... kamu kan pasangan hidup aku. Walau kadang ada marahnya, ada jengkelnya, ya gak apa-apa, Yang penting saling cinta."


"Ya sudah ... ini Mira sudah selesai ASI-nya. Kita ke bawah untuk sarapan ya Mas ... aku dan Mama sudah memasak menu kesukaan kamu," ucap Marsha memberitahu suaminya itu.


"Hmm, masak apa Shayang?" tanya Abraham.


"Garang Asem Ayam, kesukaan kamu," balasnya.


Abraham pun tersenyum, "Wah, auto nambah nasi ini nanti. Lihat nih Shayang, perutku kian membuncit, aku harus rajin olahraga nih," balas Abraham dengan menunjukkan perutnya.


"Dulu kamu sixpacks loh Mas," balas Marsha.


"Iya, jarang olahraga sekarang Yang ... olahraganya cuma sama kamu saja," goda Abraham dengan tiba-tiba.


"Itu mah bukan Olahraga, olah apa itu," balas Marsha.


Hingga akhirnya keduanya sama-sama berdiri dan keluar dari kamarnya, dan Mira kembali hendak menangis.


"Papa ... Pa," ucapnya dengan mengangkat tangan ingin digendong Papanya.

__ADS_1


"Ya ampun, anaknya Papa ... mau minta gendong ini Pa," balas Marsha.


Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Sini ... sini gendong Papa. Mira baru manja sama Papa yah. Love U, My Little Girl," ucap Abraham dengan menggendong Mira dan menuruni anak tangga untuk menuju ke dapur.


__ADS_2