
Selang beberapa hari, Marsha memilih keluar dari rumahnya. Tujuannya sekarang adalah menuju di salah satu Coffee Shop yang baru launching di Jakarta. Coffee Shop yang memiliki signature dish berupa Frappuccino dan Crofflee itu.
Tentu Marsha menuju Coffee Shop bukan tanpa alasan, tetapi untuk menemui Nania dan membicarakan pekerjaan selanjutnya. Marsha sendiri merupakan wanita rumahan, dia benar-benar keluar rumah hanya untuk bekerja saja. Jika tidak ada sessi pemotretan atau bertemu dengan Nania, Marsha memilih untuk tinggal di rumah saja. Terlebih Marsha juga enggak dengan sorotan kamera yang mungkin saja membidiknya dan mewawancarainya secara tiba-tiba terkait dengan affair yang dialami oleh suaminya itu.
“Hei Non, sini …” teriak Nania yang menyadari kedatangan Marsha siang itu.
Marsha kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Nania. Wanita itu mengunjungi kafe itu tanpa melepas maskernya sama sekali, karena mengantisipasi jika ada orang-orang yang mengenalinya sebagai aktor bernama Melvin Andrian.
“Tumben kita ke sini?” tanya Marsha.
Itu karena Nania mengajaknya ke sebuah Coffee Shop dengan konsep kekinian dan juga tidak eksklusif seperti biasanya mereka datangi.
Nania yang duduk di depan Marsha pun tertawa, “Tenang saja … di sini aman. Aku sudah reservasi kok. Kita juga dapat tempat duduk yang di dalam, dan tidak akan banyak pelanggan yang mengenali kamu,” sahut Nania sembari tertawa.
“Baiklah,” jawab Marsha dengan singkat.
Setelahnya, kemudian Marsha memesan menu recommended dari Coffee Shop bernama Coffee Bay itu, yaitu Frappuccino dan juga Crofflee. Setidaknya menu rekomendasi adalah menu yang memang menjadi best seller dari Coffee Shop tersebut.
Setelah menunggu hampir 15 menit, pesanan Marsha pun tiba. Wanita itu segera meminum Es Frappuccino dan mencicipi Crofflee dengan aromanya butternya yang menari-nari di indera penciuman Marsha.
“Non, nanti si Fotografer datang ke mari. Kalian diskusi untuk konsep-konsep yang sedang hits ke depannya. Fashion ala-ala subkultur mungkin. Biasanya Fotografer itu tahu ide-ide fashion dan juga konsep yang hits. Jadi nanti kalian ngobrol bersama yah,” ucap Nania kali ini.
Sementara itu Marsha hanya bisa menghela nafas, dan merasa mengapa justru Nania seakan memberinya kesempatan untuk selalu bersama dengan Abraham. Tiba-tiba saja bayangan saat Abraham menciumnya di Jogjakarta beberapa waktu yang lalu.
Hampir setengah jam Marsha mengobrol dengan Nania, sampai akhirnya Abraham pun tiba. Pria itu kemudian mengambil tempat duduk di hadapan Marsha.
__ADS_1
“Hei,” sapa Abraham dengan singkat kepada Nania dan juga Marsha.
“Ya sudah, karena Abraham sudah datang … sekarang gue duluan yah,” pamit Nania kemudian.
Hanya berdua tanpa ada Nania, tentu saja membuat situasi benar-benar canggung. Terlebih saat Abraham mencuri-curi pandang kepada Marsha dengan sorot matanya yang tajam.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Abraham kemudian.
“Baik,” sahut Marsha.
Abraham lantas kembali menatap wajah Marsha, “Kamu baik-baik saja kan?” tanya Abraham kemudian.
“Iya, baik,” sahut Marsha lagi.
Abraham kali ini tersenyum kecil di sudut bibirnya, kemudian pria itu menyodorkan Black Americano kepada Marsha.
Seakan pria itu kembali mengingatkan Marsha kepada minuman kesukaan wanita itu. Memberi petunjuk bahwa Abraham masih mengingat semua tentang Marsha.
“Thanks,” jawab Marsha.
Kedua mata Marsha menatap segelas Black Americano yang diberikan Abraham itu. Teringat dengan di masa lalu bagaimana Abraham sering membelikannya Es Americano.
“Jadi, bagaimana Sha?” tanya Abraham kemudian.
Kali ini Marsha tidak terlalu fokus, sebenarnya apa dimaksud oleh Abraham. Tentang pemotretan atau tentang peristiwa waktu di Jogjakarta saat itu.
__ADS_1
“Bagaimana apanya?” tanya Marsha kemudian.
“Sha,” panggil Abraham kepada wanita yang duduk di depannya itu.
“Apa?” sahut Marsha dengan singkat.
“I Miss U,” balas Abraham dengan tiba-tiba.
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Abraham, kedua mata Marsha membelalak. Tidak mengira bahwa pria itu sampai mengucapkan kata ‘i miss u’ kepadanya.
“Serius Sha … aku merindukanmu,” sahut Abraham lagi.
“Jangan bercanda, Bram,” balas Sara kemudian.
“Kali ini aku tidak bercanda, Sha … seriously.” Abraham mengatakan dengan serius, tampak tidak ada kebohongan dari wajah pria itu.
Ya, kali ini Abraham benar-benar menunjukkan keseriusannya dan juga tidak berbohong sama sekali. Sementara bagi Marsha sendiri, pengakuan Abraham barusan seakan menyulut lagi percikan api dalam hatinya. Hasrat seakan mulai kembali terpercik. Di saat dirinya merasakan rumah tangga yang hambar, sementara ada sosok pria lain yang seakan terus berusaha memercikkan api terlarang dalam hatinya.
“Aku wanita bersuami, Bram,” sahut Marsha.
“Tidak masalah, Sha … aku tidak peduli dengan statusmu. Di hadapanku, kamu tetaplah Marsha. Marsha yang dulu aku kenal,” balas Abraham.
Kali ini Marsha tidak berani untuk menatap wajah Abraham, tetapi kali ini Abraham justru menggerakkan tangannya dan menaruh telapak tangannya di atas tangan Sara yang berada di atas meja itu, meremasnya perlahan.
“I am really, i miss u, Sha ….”
__ADS_1
Marsha menghela nafas, merasakan sentuhan hangat tangan Abraham di atas tangannya. Wanita itu dalam hati ingin mengelak, tetapi pada kenyataannya Marsha terasa begitu sukar untuk menghempaskan tangan Abraham dari atas tangannya.
Sungguh, ini adalah sebuah definisi bahwa berawal dari minum kopi berakhir dengan main hati. Tidak ada penolakan secara resmi, tidak ada elakkan yang terjadi, yang ada justru Marsha dan Abraham seakan menarik ulur hati.