Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Kedatangan Tamu Spesial


__ADS_3

Belum selesai Abraham berbicara dengan Marsha, dengan tubuh yang sama-sama polos mutlak dan tidak mengenakan busana, justru terdengar bel pintu unit mereka berbunyi. Kaget, Marsha pun beringsut dan menatap suaminya itu.


“Siapa ya Mas? Biasanya enggak pernah ada orang yang datang ke unit kita. Kita hidup benar-benar berdua saja di sini,” ucap Marsha.


Abraham menggelengkan kepalanya secara samar, “Kurang tahu juga Shayang,” jawabnya.


Pria itu kemudian menyibak selimutnya dan mengenakan kembali pakaiannya, Abraham juga meminta Marsha untuk segera membersihkan dirinya atau memakai kembali pakaiannya. Sementara dia akan keluar dan membukakan pintu bagi tamu mereka.


“Sebentar yah … aku lihat dulu,” pamit Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, wanita itu memilih mengguyur badannya di bawah air shower dengan suhu ruangan terlebih dahulu. Sebab, bagi Marsha usai bercinta dan bermandikan peluh dengan suaminya, lebih baik diakhiri dengan mandi air dengan suhu ruangan agar tubuhnya lebih rileks.


Sementara Abraham melihat dari saluran interkom yang terpasang di dekat pintu, pria itu cukup kaget dengan siapa yang datang ke unitnya kali ini.


Dengan cepat Abraham membukakan pintu, “Mama,” sapanya dengan mencium punggung tangan Mamanya dan memeluk wanita paruh baya itu.


Sungguh, Abraham tidak mengira jika Mamanya datang dari Semarang ke Jakarta dan tidak memberikan kabar terlebih dahulu.


“Mama datang kok malahan bengong sih?” tanya Mama Diah yang memasuki unit apartemen milik Abraham dengan mendorong sebuah koper dan tas jinjing.


“Bram bingung Ma … kok Mama datang tanpa memberitahu terlebih dahulu,” balasnya dengan jujur.

__ADS_1


Jika Mama Diah memberitahu terlebih dahulu, sudah pasti Abraham bisa menjemput Mamanya ke stasiun atau ke bandara. Abraham juga tidak akan membiarkan Mamanya harus naik taksi sampai ke unitnya.


“Ya, kalau Mama sudah memberitahu namanya bukan kejutan dong. Di mana menantu Mama?” tanya Mama Diah kemudian.


“Baru di kamar mandi Ma,” balas Abraham.


“Duduk Ma,” ucap Abraham yang kini mempersilakan Mamanya untuk duduk.


Selang sepuluh menit, barulah Marsha keluar dari kamarnya. Wanita itu hamil itu awalnya berniat untuk mencari Abraham, tetapi justru kaget saat melihat Mama Diah yang sedang duduk di sofa bersama dengan Abraham.


“Mama … selamat datang Ma … kok tidak memberitahu sebelumnya,” sapa Marsha dengan mencium punggung tangan Mama mertuanya dan memberikan pelukan yang hangat kepada Mama Diah.


“Mama memang sengaja tidak memberitahu. Kalau memberitahu namanya bukan kejutan dong,” balas Mama Diah.


Ada kalanya tinggal di Ibukota dan tidak ada keluarga yang singgah ke rumahnya, mendatangkan rasa kesepian. Itu pula yang dirasakan oleh Marsha. Kini, saat mertuanya datang, tentu saja Marsha merasa sangat senang.


“Mama juga seneng banget. Perut kamu sudah begitu membuncit Marsha … sudah turun kelihatannya,” ucap Mama Diah yang memberikan usapan di perut Marsha.


Marsha menganggukkan kepalanya, hanya tersenyum menatap mertuanya itu.


Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda di leher Marsha, dan Mama Diah segera memukul lengan Abraham yang duduk tidak jauh di sampingnya.

__ADS_1


“Kelakuan kamu, Bram … itu lehernya Marsha sampai kayak gitu,” ucap Mama Diah dengan menggelengkan kepalanya.


“Ini digigit serangga kok Ma,” sahut Marsha dengan menutupi bagian lehernya yang berwarna merah dengan juntai rambutnya yang panjang.


“Mama ini sudah memiliki pengalaman, Marsha. Nama ada serangga gigitnya di leher. Jangan menyerang istrimu terus-menerus, apalagi Ibu hamil di trimester akhir itu mudah lelah. Ditolak Bram-nya tidak apa-apa, Sha,” balas Mama Diah dengan mengusapi lengan Marsha.


“Bram tidak menyerang loh Ma … kan mencari jalan lahir, biar nanti persalinan bisa normal dan lancar. Lagian Dokter Kandungannya kok yang menyuruh,” balas Abraham.


Mama Diah menghela nafas dan memukul lengan putranya itu. “Mama tahu, Bram … cuma ya jangan sampai menyakiti Marsha. Kamu gigit kayak gitu, sakit loh. Sayangi istrimu. Membuat jalan lahir juga penting, cuma semuanya dalam taraf yang wajar,” balas Mama Diah.


Abraham hanya tertunduk sembari tersenyum, sementara Marsha merasa malu. Tidak mengira jika tanda merah di lehernya akan dilihat oleh Mama Mertuanya.


“Maafkan Marsha, Ma,” pintanya kali ini.


“Tidak perlu minta maaf, Sha … kamu tidak bersalah. Intinya itu hati-hati, terlebih sebentar lagi si baby akan lahir. Oh, iya … kali ini Mama akan tinggal bersama kalian yah. Mama ingin menemani Marsha sampai melahirkan nanti. Boleh kan?” tanya Mama Diah kepada Abraham dan juga Marsha.


“Mama tidak ada kegiatan mendasak di Semarang?” tanya Marsha.


“Tidak ada … di Semarang, Mama hanya Ibu Rumah Tangga. Mama mau temenin menantu Mama ini melahirkan. Menyambut cucu. Bolehkan Bram?” tanya Mama Diah lagi.


“Boleh Ma … kami justru senang ada Mama di sini. Makasih banyak Ma,” balas Abraham.

__ADS_1


“Makasih banget Mama sudah mau menemani Marsha bersalin. Marsha senang banget,” balas Marsha dengan mata yang tampak berkaca-kaca.


Mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari mertuanya memang membuat Marsha begitu bahagia. Tidak mengira, Mama Diah menyempatkan waktu untuk menemaninya bersalin. Tentu, Marsha merasa lebih tenang karena persalinan nanti adalah momen pertama baginya.


__ADS_2