
Kali ini Marsha sudah memantapkan hatinya untuk memilih metode persalinan Caesar. Agaknya masih ada rasa takut menghadapi persalinan normal tiga tahun yang lalu. Itu juga karena dia merasakan pembukaan dua yang tidak bertambah hingga satu minggu lamanya. Kesakitan bersalin memang bisa memberikan dampak traumatis tersendiri dan sekarang Marsha agaknya merasakan hal itu. Merasa suaminya juga mempersilakannya untuk memilih, akhirnya Marsha memilih untuk bisa melahirkan secara Caesar.
Hari ini adalah hari pergantian tahun, hari yang biasa dihabiskan orang-orang untuk merayakan pesta pergantian tahun, justru dipilih keduanya untuk masuk ke Rumah Sakit.
"Mama, doakan Marsha yah ... hari ini kami akan melahirkan cucu keduanya Eyang ... doakan Marsha supaya diberikan kekuatan sama Allah, dan juga Si baby yang akan mendapatkan keselamatan dan kesempurnaan," pamitnya dengan berlinang air mata kepada Mama Diah.
"Iya, Sha ... anaknya Mama. Hati-hati ya Sha ... kalau butuh apa-apa jangan lupa kabarin Mama. Tidak usah kepikiran Mira, dia akan baik-baik saja di rumah," ucap Mama Diah.
Setelahnya Mama Diah menatap Abraham dan berpesan kepada putranya itu, "Jagai Marsha ya Bram ... jangan pernah lepaskan tangannya. Sambutlah putra kalian bersama-sama," ucap Mama Diah.
"Pasti Ma ... doakan Abraham juga biar diberikan kekuatan untuk mendampingi Istri ya Ma," balasnya.
Mama Diah memeluk Marsha dan Abraham bergantian. Dia akan menunggu di rumah dan mengasuh Mira. Sehingga Marsha dan Abraham bisa fokus dengan persalinan yang sudah di depan mata.
Di sepanjang perjalanan, Marsha lebih banyak diam karena dia butuh bersiap dan menata hatinya. Setidaknya dia juga belum pernah merasakan bagaimana persalinan Caesar itu. Setelahnya, sampai di Rumah Sakit. Abraham menunjukkan kartu asuransi yang dia miliki, dan kemudian mengantar Marsha di ruang perawatan.
Prosedur medis pun dilakukan dan perawat juga menanyai apakah Marsha sudah puasa sebelumnya, dan jarum infus atau intrafena mulai dipasang di tangan Marsha.
"Sakit?" tanya Abraham kepada istrinya itu.
"Iya ... paling takut sama jarum ... sekarang kembali merasakan jarum setelah tiga tahun," balasnya.
__ADS_1
"Sabar yah ... jalannya memang harus seperti ini. Yang penting kamu kuat," balas Abraham.
"Kamu juga ya Mas ... jangan takut dan dampingi aku," balasnya.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Pasti Sayang ... pasti aku akan mendampingi kamu," balasnya.
Marsha tersenyum dan menatap wajah suaminya, "Malam pergantian tahun kita habiskan di Rumah Sakit ya Mas," balasnya.
"Iya Mas ... tidak apa-apa, untuk menyambut baby boy," balasnya.
Ya, ketika orang-orang di luar sana akan merayakan pergantian dengan pesta kembang api atau dengan berkumpul dengan keluarga. Sementara Abraham dan Marsha justru berada di kamar perawatan di Rumah Sakit. Tentu ini akan menjadi hal yang akan selalu mereka ingat bersama bahwa di hari pertama tahun yang baru, putranya telah lahir.
Selang tiga jam, mulailah Dokter Indri selaku Dokter Kandungan masuk ke dalam kamar Marsha dan mengatakan bahwa Marsha akan dipindahkan ke ruangan operasi. Ya, di ruang operasi telah bersiap Dokter Anestersi dan Dokter Bedah. Ketiga Dokter akan turut serta untuk membantu Marsha melahirkan bayinya.
"Aku temani Shayang," bisik Abraham dengan lirih. Tidak dipungkiri bahwa Abraham juga panik, tetapi di hadapan Marsha, Abraham harus kuat, supaya Marsha juga bisa bersiap.
"Iya Mas," balas Marsha.
Mulailah kain berwarna hijau direntangkan menutupi perut Marsha, kemudian mulailah perawat memasang Kateter ke dalam kandung kemih guna mengambil urine. Jarum infus atau intravena juga dimasukkan ke dalam pembuluh darah di tangan untuk memasukkan cairan infus dan obat-obat yang akan dimasukkan melalui infus.
Mulailah Dokter Anestesi melakukan anestesi epidural (suntikan bius yang disuntikkan langsung ke sumsum tulang belakang) yang akan menimbulkan mati rasa dari bagian perut hingga kaki saja. Sementara untuk perut ke atas sampai kepala tetap dalam kondisi biasa atau normal.
__ADS_1
Dokter Bedah pun mulai berbicara, "Kita mulai bedah caesar sekarang juga," ucapnya perlahan.
Marsha tampak berlinangan air mata di sana, tidak mengira dirinya harus melakukan operasi caesar untuk melahirkan bayinya yang kedua. Dulu, dia berjuang sekuat tenaga untuk melahirkan Mira, sekarang dia mendengar suara-suara peralatan medis dan Dokter yang beberapa kali berbicara dengan berbisik. Abraham pun kian menggenggam erat tangan istrinya itu.
"Tenang yah ... ada aku, kita akan menyambut bayi boy tidak lama lagi," ucapnya yang tentu berusaha membesarkan hati istrinya itu. Berusaha supaya Marsha bisa tetap tenang dan juga tidak panik.
"Hmm, iya Mas," balas Marsha.
Sementara di bawah sana, Dokter Bedah dan tim medis mulai membersihkan area perut Marsha dan membuat sayatan vertikal mulai dari bawah pusar sampai tulang ke-maluan. Dokter bedah pun membuka rongga perut Marsha dengan membuat sayatan satu per satu pada setiap lapisan perut. Setelah rongga perut Marsha terbuka, mulailah dibuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Hingga perlahan rahim itu telah terbuka. Perlahan bagaimana bayi itu masih terbungkus dengan air ketuban dan plasentanya terlihat. Kemudian, perlahan Dokter Indri mengambil bagian tersebut dari bagian perut Marsha dan memecahkan air ketubannya di luar, setelahnya mulai terdengarlah suara tangisan bayi yang begitu kencang.
Oek ... Oek ... Oekk ....
Ya, bayi itu diangkat dari rahim Marsha. "Selamat Bu Marsha dan Pak Abraham ... bayi Anda laki-laki. Selamat!" ucap Dokter Indri dengan mengangkat bayi itu. Bayi laki-laki di mana badannya masih dipenuhi cairan ketuban dan sedikit darah pada bagian mulut dan hidungnya.
Marsha dan Abraham sama-sama menangis di sana. Momen ketika Dokter Indri menunjukkan bayi kecilnya dan tangisan si bayi yang membuat keduanya bergetar hebat di dalam hatinya.
"Putra kita Mas," tangisan Marsha dengan terisak-isak.
"I Love U, Shayang ... I Love Marshaku ... terima kasih untuk buah hati yang luar biasa," ucap Abraham dengan tangis haru dan penuh bahagia.
"Anak kita, Mas," Marsha membalas dengan berlinangan air mata.
__ADS_1
"Benar ... baby boy ... putra kita. Tahun baru yang indah dengan bayi kecil kita Shayang," ucap Abraham dengan turut menitikkan ari matanya.
Bagaimana pun persalinan adalah momen yang haru. Baik normal atau Caesar sama-sama membuat Abraham menangis. Kali ini, dia dan Marsha memilih menjadi orang tua dari dua anak yaitu Mira dan Baby Boynya yang baru saja lahir ke dunia. Keduanya benar-benar berbahagia. Pergantian malam tahun yang sangat indah, keindahannya, kemeriahannya melebihi kembang api yang memancar di langit malam. Ya, tangisan dari bayinya menjadi keindahan dan kemeriahan sendiri di dalam hidup keduanya.