
Usai dari Stasiun Gambir, Abraham mengajak istrinya untuk mengisi perut terlebih dahulu. Sapa tahu, Marsha bisa menghilangkan rasa sedih di hatinya setelah Mama Diah kembali ke Semarang. Namun, begitu tiba di rumah, nyatanya Marsha kembali menangis. Masih rindu dengan Mama Diah.
Terbiasa di rumah ada Mama Diah yang berkutat di dapur, atau turut mengasuh Mira, dan sekarang rumah itu terasa kosong. Seakan ada yang hilang di antara mereka.
"Loh, kok kembali menangis?" tanya Abraham yang menghampiri Marsha yang menangis dan mengamati kamar tamu di bawah yang terbiasa di tempati Mama Diah di sana.
"Kangen Mama," ucapnya.
Abraham justru tersenyum dan segera memeluk istrinya itu, "Dibiasakan ... beberapa hari pasti kerasa kangennya. Cuma kan ada videocall, nanti kalau Mama sudah sampai di Semarang, sudah sampai di rumah, kita videocall Mama yah," balasnya.
"Padahal aku udah betah dan nyaman sama Mama ... jadi, begitu Mama kembali ke Semarang, jadi sedih banget," balasnya.
"Ya, begitu Sayang. Aku juga sedih. Cuma kalau kamu sedih dan aku ikutan sedih, siapa yang akan menghibur kamu dan menenangkan kamu. Di saat kamu sedih, aku harus kuat biar aku bisa menenangkan kamu dan menguatkan kamu. Sama seperti beberapa minggu lalu, di saat aku down banget, kamu yang kuat, jadi kamu bisa menguatkan aku," balas Abraham.
Itu adalah sebuah pemikiran yang logis dari seorang pria yang merasa jika pasangan merasa sedih, maka pasangannya akan menjadi lebih kuat. Jika keduanya sama-sama sedih, sudah pasti tidak ada salh satu yang akan menguatkan dan menenangkan. Oleh karena itu, Abraham memposisikan diri sebagai pihak yang kuat, dan dia akan dengan senang hati menenangkan Marsha.
"Makasih ya Mas ... aku jadi mellow kayak gini," ucap Marsha.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "No problem Cintaku ... tidak apa-apa. Sama seperti kamu yang menenangkan aku dan menguatkan aku di saat aku begitu rapuh, begitu juga akan selalu ada buat kamu. Tangan ini bisa melakukan banyak hal untukmu, bisa memelukmu, menggenggam tanganmu, menyeka air matamu, dan lainnya. Aku akan melakukan apa pun untuk kamu," balas Abraham.
Seketika Marsha tersenyum di sana. "Makasih banget Papa Abraham ... senangnya aku memiliki kamu dalam hidup ini. Di saat aku sedih, selalu ada kamu yang menenangkan aku," balas Marsha.
__ADS_1
"Sama-sama Marshaku ... aku begitu senang bisa mendampingimu," balas Abraham.
Untuk mengalihkan kesedihan Marsha, Abraham pun mengajak istrinya melakukan berbagai kegiatan di rumah mulai dari mencuci baju, menjemur baju bersama-sama, bahkan Abraham juga dengan sengaja membuatkan Smoothies Strawberry untuk istrinya itu. Semua dilakukan supaya Marsha tidak begitu bersedih.
"Smoothies Strawberry kesukaan kamu Shayang ... diminum dulu," ucap Abraham.
Menerima Smoothies Strawberry buatan suaminya sendiri tentu saja Marsha merasa begitu senang. Namun, Marsha sangat tahu itu adalah cara Abraham untuk menenangkan dirinya dan mengalihkan kesedihannya.
"Mau makan sesuatu? Aku bisa pesankan antar mumpung ada promo nih," ucap Abraham dengan menunjukkan handphone.
Akan tetapi, dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, "Enggak ... sudah. Makasih banyak ya Mas. Berkat kamu dan aktivitas yang kita lakukan bersama, akhirnya kesedihanku sedikit teralihkan. You are my best hubby," ucapnya dengan melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Abraham.
"Sama-sama Shayang ... sekarang kita belajar hidup mandiri lagi. Berdua kita bangun rumah tangga dan segala pekerjaan di rumah tangga bersama-sama. Jangan ragu, aku adalah suami yang bisa kamu andalkan. Kita berbagi tugas rumah tangga," ucapnya.
Abraham pun menganggukkan kepalanya, "Iya dong ... istri itu seorang pendamping hidup Shayang, bukan pembantu hidup. Lagipula, aku tidak memaksa kamu. Kita mau mengerjakan semua bersama-sama justru lebih baik. Toh, ya aku cukup lama hidup sendiri di Jakarta, jadi pekerjaan rumah aku juga tahu dan bisa melakukannya," balas Abraham.
Setelah lewat lima jam dari Mama Diah berangkat dari Stasiun Gambir, Marsha meminta izin kepada Abraham untuk menelpon Mama Diah. Katanya memang Marsha sudah kangen, jadi ya Abraham mengizinkan saja istrinya itu untuk menghubungi Mamanya.
Mama Diah
Berdering
__ADS_1
"Halo ... Mama," sapa Marsha melalui panggilan video tadi.
"Ya, halo Sha ... ini Mama baru saja nyampe rumah. Wah, rumahnya lama tidak ditempati jadinya pengap," ucap Mama Diah.
"Iya Ma ... sudah empat bulan kan rumahnya kosong. Untung saja ada saudara yang datang dan membersihkan kan Ma," balas Marsha.
"Iya ... cuma beberapa kamar rasanya pengap. Kenapa, kamu masih menangis?" tanya Mama Diah dengan tertawa kala melihat wajah Marsha yang masih sembab di sana.
Marsha pun tersenyum dan sedikit menganggukkan kepalanya di sana, "Iya Ma ... rumah rasanya berbeda karena tidak ada Mama," balasnya.
"Mira mana Sha? Mama juga kangen ... kangen juga sama cucunya Eyang yang cantik," balasnya.
Marsha kemudian menunjukkan Mira yang tertidur dengan pulas di dalam box bayi. Tampak Mama Diah tersenyum di sana.
"Cucunya Eyang ... jangan rewel ya Cantik ... nanti kapan-kapan Eyang main lagi ke Jakarta. Gendong-gendong Mira lagi. Sekarang Eyang di Semarang dulu, tidak lama nanti ada kerabat yang mau punya kerja, jadi Eyang pulang dulu. Mira sehat-sehat yah," ucap Mama Diah.
"Iya Eyang ... nanti Eyang jangan lama-lama di Semarangnya yah," balas Marsha.
"Pasti ... nanti kalau Mira mau ulang tahun Eyang main ke sana yah. Atau kalau Mama dan Papa mau buat adik bayi lagi, Mira ikut Eyang saja ke Semarang," balas Mama Diah.
Dengan cepat Marsha pun menggelengkan kepalanya, "Enggak dulu deh Ma ... Mira masih kecil banget. Biar lepas ASI dulu, kasihan kalau masih sekecil ini dan Marsha sudah hamil," balasnya.
__ADS_1
Cukup lama panggilan video itu berlangsung dan Marsha berusaha untuk tidak terlalu bersedih. Marsha percaya bahwa hanya jarak yang memisahkan, tetapi mereka masih bisa berkomunikasi dan juga suatu saat nanti mereka berdua bisa saling mengunjungi satu sama lain.