
Seolah baru saja, Marsha dan Abraham mengucapkan keinginannya untuk bisa pindah rumah setelah melihat laju mobil Ferrari berwarna merah yang baru saja berpapasan dengannya, rupanya mobil Ferrari berwarna itu melakukan u-turn, dan kemudian menyalib Marsha dan Abraham. Hingga Marsha dan Abraham pun sangat terkejut karenanya.
Genggaman tangan Marsha di tangan Abraham pun kian menguat,
“Mas,” ucap Marsha dengan lirih.
Seketika Marsha teringat dengan ketakutannya tadi pagi. Mungkinkah ini yang membuat Marsha takut, untuk kali pertama menjadi istri Abraham dan tinggal di apartemen ini baru pertama Marsha sampai minta ditemani berbelanja sayur kepada suaminya.
“Tidak apa-apa Shayang … ada aku,” balas Abraham dengan lirih dan menatap wajah Marsha.
Seolah mendapatkan hadangan, tentu saja Abraham dan Marsha sedikit berhenti dan menatap benarkah yang mengendarai mobil Ferrari berwarna merah itu adalah orang yang mereka tebak sebelumnya.
Detik demi detik seakan berjalan dengan begitu lama, dan kemudian tampak seorang pria turun dari mobil merah itu dengan mengenakan kemeja dan kacamata hitam terpasang untuk menutupi separuh wajahnya. Tampak pria itu berjalan dengan menunjukkan wajahnya yang angkuh dan tampak tersenyum menyeringai menatap Marsha dan Abraham.
“Hei Ayang … ups, salah … Marsha maksudku,” sapa pria itu yang tidak lain, tidak bukan adalah Melvin Andrian.
Oh Tuhan, dulu memang Ayang adalah panggilan sayang dari keduanya kala masih bersama. Akan tetapi, sekarang mendengar kata ini membuat Marsha bergidik ngeri karenanya. Bukan kenangan indah yang muncul, melainkan ucapan verbal yang kasar dan juga kekerasan secara seksual yang diterima Marsha hingga mengalami pendarahan serviks. Jujur saja, bertemu lagi dengan Melvin sama sekali tidak diinginkan Marsha.
Melihat wajah itu, suara itu, dan panggilan itu seolah menyibak kembali luka yang sebelumnya pernah menyakiti hati Marsha. Hingga Marsha rasanya ingin segera lari saja dari tempat itu. Akan tetapi, Marsha yakin ada Abraham bersamanya setidaknya dia merasa aman.
“Oh, sekarang Ayang udah resmi sama Pebinor ini yah? Hmm, pantas sih … satunya wanita tidak setia dan murahan bersatunya sama Pebinor. Kombinasi yang sempurna,” balas Melvin.
__ADS_1
Dengan sigap, Abraham pun maju satu langkah, dan membawa Marsha untuk berlindung di balik punggungnya. Sungguh, ucapan Melvin yang pedas membuat Abraham merasa geram karenanya, ingin rasanya Abraham memberikan bogem mentah kepada pria itu.
“Sabar Mas,” balas Marsha yang melihat tangan Abraham yang mengepal sampai menunjukkan otot-ototnya di sana.
“Gak bisa berbicara apa-apa kan? Bagaimana pun yang salah akan salah dong,” balas Melvin.
Kali Abraham yang mengulas senyuman tipis di wajahnya, dan menatap Melvin yang hanya berjarak beberapa meter saja di hadapannya.
“Hukum di Indonesia saja membuktikan kalau loe yang salah. Apa perlu, gue sebarin video mesum loe sama wanita bernama Lista itu? Biar habis sekalian karir loe,” ancam Abraham.
Kali ini Abraham tidak main-main, Abraham rupanya memiliki video yang dia dapatkan tidak sengaja kala meminjam ponsel milik Marsha satu tahun yang lalu, kala Marsha memergoki Melvin sedang bercinta dengan Lista di Lantai 14 apartemen itu.
Melvin mengumpat dan begitu geram dengan Abraham. Tidak menyangka bahwa Abraham rupanya memiliki sebuah video yang saat itu disebar akan membuatnya benar-benar kehilangan karirnya dan juga kesempatannya untuk comeback di dunia keartisan.
“Apa loe. Jangan berani-berani bermain apa sama gue dan Marsha, jika tidak akan gue pastikan bahwa loe akan habis sehabis-habisnya. Dulu, gue yang diam dan membiarkan Marsha meladeni perbuatan keji loe. Sekarang tidak lagi. Gue suami yang akan melindungi Marsha dan tidak akan melakukan hal bejat kayak loe!”
Abraham bersuara dan kali ini Abraham benar-benar mengatakan bahwa dirinya sangat marah kepada Melvin. Sudah lama, Abraham mengumpulkan bukti-bukti betapa buruknya kehidupan seorang aktor itu. Untuk semua itu, Abraham merasa bahwa dia benar-benar memegang kartu AS seorang Melvin Andrian. Bahkan Marsha pun merasa tercekat karenanya. Dari mana Abraham bisa mengetahui semuanya itu, padahal dulu kala Marsha masih menjadi istri Melvin, Marsha tidak menau sama sekali.
“Sialan!” Melvin lagi-lagi mengumpat dan menatap tajam pada Abraham.
“Jangan pernah tunjukkan wajah loe yang tengik itu lagi di hadapan kami berdua atau usai ini loe akan kembali mendekam di jeruji besi,” balas Abraham dengan gertakannya yang terdengar begitu serius kali ini.
__ADS_1
Seolah takut dengan gertakan Abraham, Melvin pun memundurkan sedikit langkahnya. “Kali ini loe boleh menang, hanya saja … suatu saat gue akan balas semuanya. Gue Melvin Andrian akan buktikan bahwa gue akan menang atas loe berdua,” balasnya.
Melvin mundur dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Usai kepergian Melvin, tampak Marsha yang mulai menangis. Wanita itu sampai menyandarkan kepalanya di punggung Abraham.
“Sudah Shayang … dia sudah pergi,” balas Abraham.
Kemudian Abraham membalik badannya dan melihat Marsha yang sudah berlinangan air mata, “Kenapa menangis? Dia tidak akan ngapa-ngapain kita berdua. Aku punya beberapa hal yang jika aku lempar ke publik itu akan menjadi bom yang menghancurkan pria itu sendiri,” balas Abraham.
Dengan cepat Marsha menggelengkan kepalanya, “Enggak … aku hanya takut,” balasnya.
“Tidak perlu takut … ada aku. Aku akan selalu menjagai kamu dan Mira. Bahkan kalau sampai aku kehilangan nyawaku asalkan kalian berdua selamat, aku rela,” balas Abraham.
Dengan cepat Marsha menutup mulut Abraham dengan telapak tangannya, “Jangan berbicara yang bukan-bukan Mas,” balas Marsha dengan terisak.
Abraham kemudian mengajak Marsha untuk duduk di taman yang ada di sekitaran apartemen itu, dan mengusapi punggung istrinya sejenak. “Sudah, jangan menangis lagi. Nanti kalau kamu masuk ke dalam dan menangis dikiranya Mama kita berantem loh. Udahan ya nangisnya.”
“Mas, sebaiknya kita segera pindah dari sini saja yah … kita beli perumahan saja Mas. Jauh dari Lista lebih baik, kita bisa membangun kehidupan kita berdua sendiri,” balas Marsha.
“Tentu Shayang … inilah alasanku mengajakmu menjual unit ini. Coba nanti aku tanya ke Pak Belva adakah properti berupa perumahan dengan harga yang pas di kantongku,” balas Abraham.
Marsha pun menganggukkan kepalanya, setuju sama dengan apa yang hendak diambil oleh suaminya. Toh, membeli rumah berdua pun Marsha tidak keberatan. Sebab, dengan Abraham jugalah Marsha ingin menghabiskan hidupnya, menua bersama dengan Abraham dan membesarkan Mira, buah cinta mereka berdua. Marsha hanya ingin ketenangan dalam hidupnya tanpa ada sosok Melvin di dalamnya. Bisa membina keluarga kecilnya dengan penuh cinta adalah impian Marsha. Materi, tabungan bisa dicari lagi, tetapi kebahagiaan dalam berumah tangga itu melebihi semua materi yang Marsha miliki.
__ADS_1