Hasrat Terlarang Sang Istri

Hasrat Terlarang Sang Istri
Hati yang Terketuk


__ADS_3

Aku akan melahirkan dia, aku juga tidak akan menutup akses komunikasi antara kamu dan dia. Kita bisa mencari jalan tengah. Cinta memang tidak harus memiliki kan Bram? Namun, jika harus memilih, pilihlah Ibumu karena surga berada di bawah telapak kaki Ibu.


Tanpa Marsha dan Abraham ketahui, Mama Diah sebenarnya mendengar semua perbincangan Marsha dengan Abraham. Akan tetapi, saat mendengar bahwa Marsha meminta Abraham untuk tetap memilih Ibunya dengan alasan yang sungguh mulia yaitu karena surga di bawah telapak kaki Ibu. Air mata Mama Diah berlinangan begitu saja.


Tidak mengira, bahwa wanita yang sudah dua kali dia tolak, nyatanya tidak membencinya, tetapi justru meminta Abraham untuk mengalah demi cinta mereka.


Sungguh, Mama Diah tidak mengira bahwa Marsha bisa berpikiran seperti itu. Mendengar ucapan Marsha dan isakannya, hati Mama Diah rasanya begitu terketuk. Sampai-sampai rasanya Mama Diah ingin masuk ke kamar Abraham dan memeluk Marsha yang menangis sesegukan di sana.


Kini, Mama Diah rasanya begitu yakin dengan keputusannya bahwa Marsha adalah pilihan yang tepat untuk Abraham. Untuk itu, hatinya sebagai seorang Ibu pun terketuk dan akhirnya bisa menerima Marsha dengan tulus.


“Makan yang banyak, Sha,” ucap Mama Diah. Wanita itu tersenyum mengamati Marsha yang masih canggung di meja makan.


“Hmm, iya makasih Tante,” balas Marsha.


“Jangan panggil Tante lagi, panggil Mama … sama seperti Bram,” balas Mama Diah.


Kali ini bahkan Mama Diah tidak makan, melihat Abraham dan Marsha bersama, dan terlihat saling mengasihi saja membuat Mama Diah merasa sudah kenyang.


“Iya Ma,” sahut Marsha dengan menganggukkan kepalanya.


“Kalian ini … lain kali jangan melakukan hal di luar batas. Masak hamil duluan baru menikah,” ucap Mama Diah kali ini.


Abraham yang tengah mengunyah nasi rasanya sampai hampir tersedak mendengar ucapan Mamanya itu. “Maaf Ma, Bram khilaf,” balas Abraham.

__ADS_1


“Maafkan kami, Ma ….” Marsha turut meminta maaf.


“Tidak apa-apa. Jadi, kapan kamu siap dinikahi anak Mama, Sha?” tanya Mama Diah.


“Marsha terserah Bram saja, Ma,” balasnya.


Mendengar ucapan Marsha, Abraham pun menarik sendok dan garpunya di sisi piringnya. “Marsha, aku lusa akan ke Jakarta dulu, aku perlu mendelegasikan Studio Foto ke stafku. Kalau besok aku melamarmu ke orang tuamu dulu bagaimana? Ma, bisa tidak minta tolong ke orang untuk mendaftarkan berkas kami ke Kantor Urusan Agama?” tanya Abraham kepada Mamanya.


“Bisa … lebih cepat didaftarkan lebih baik. Sha, akta perceraian kamu sudah terbit?” tanya Mama Diah kini.


Bukan bermaksud untuk mengungkit perceraian Marsha, hanya saja untuk mengurus pencatatan pernikahan kembali secara agama. Untuk itu, akta perceraian Marsha memang harus dilampirkan. Selain itu, sudah ada pemisahan Kartu Keluarga dari mantan suami terdahulu.


“Sudah Ma, tapi untuk menikah menunggu masa iddah Marsha selesai pekan depan, Ma … sebelum 90 hari, Marsha belum boleh menikah,” jawabnya.


Memang ada masa Iddah, yaitu dalam waktu 90 hari sampai selesainya masa Iddah, barulah seorang wanita (janda) diperbolehkan kembali menikah. Mama Diah pun menganggukkan kepalanya, dan berusaha memahami apa yang Marsha ucapkan.


Terlihat Marsha yang melirik ke Abraham, kemudian Marsha memberanikan diri untuk berbicara.


“Ma, maafkan Marsha sebelumnya … bukannya Marsha tidak mau pesta yang mewah dan meriah. Hanya saja, Marsha sebelumnya pernah mengalami kegagalan, jadi bagaimana jika Akad saja di rumah, Ma,” pinta Marsha kali ini.


Dalam benak Marsha sekarang yang penting adalah melangsungkan pernikahan secara agama dan negara. Dirinya pernah gagal sebelumnya, jadi sekarang tidak perlu melakukan pernikahan secara besar-besaran.


“Marsha juga sedang hamil, Ma … tidak yakin rasanya harus berdiri berjam-jam untuk menyalami tamu undangan. Maafkan Marsha, Ma,” ucapnya kali ini.

__ADS_1


Mama Diah akhirnya pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah … Akad saja di sebuah hotel dan kalian bisa bulan madu di sana. Biar Mama yang atur,” ucap Mama Diah.


“Bram, nanti sekalian mengantar Marsha pulang dan meminta berkas-berkas Marsha ya … biar Mama bisa uruskan ke Kecamatan, dan lainnya,” ucap Mama Diah.


“Ya Ma,” jawab Abraham.


Sungguh rasanya begitu lega, restu sudah mereka kantongi. Tinggal menunggu mengurus berkas-berkas dan Abraham segera akan menjadikan Marsha pengantinnya. Untuk kali ini, Abraham akan gerak cepat. Waktu yang dia habiskan di Semarang akan dia habiskan dengan maksimal. Esok, dia akan datang ke rumah Marsha dan melakukan prosesi lamaran dadakan. Semuanya serba dadakan, tetapi cintanya untuk Marsha bukan cinta dadakan.


Sekarang, Abraham pun meminta kepada Marsha untuk memberitahu kepada orang tuanya, bahwa besok Abraham dan keluarga akan datang melamarnya. Marsha mengangguk setuju. Dia menelpon Mama dan Papanya secara bergantian dan mengatakan bahwa Abraham akan datang melamarnya. Tidak ada drama, seakan semua dipermudah, Mama dan Papanya pun setuju.


Untuk itu, Abraham akan datang esok sore ke rumah Mamanya Marsha untuk melamar Marsha. Meminta dengan baik-baik dan sopan untuk menjadikan Marsha sebagai pengantinnya.


“Tidak lama lagi Sha, kita akan bersatu … besok aku akan melamarmu,” ucap Abraham.


Marsha pun menganggukkan kepalanya, “Rasanya begitu geli bukan? Kamu datang dan melamar seorang janda,” sahut Marsha.


“Kamu janda yang layak untuk aku perjuangankan, Sha. Semuanya terkesan mendadak, cuma yakinilah perasaanku ini bukan instan. Cukup mie saja yang instan, tapi tidak dengan perasaan cintaku,” jawab Abraham.


Itu adalah gombalan, tetapi Abraham mengatakannya dengan wajah yang serius. Sampai Marsha senyum-senyum mendengar ucapan Abraham itu.


“Kamu bisa saja Bram, aku lega akhirnya Mama Diah menerimaku,” ucap Marsha.


“Kamu berhasil mengetuk hati Mama, Sha … percayalah Mamaku adalah orang yang baik. Dia akan menjadi mertua yang baik untukmu,” ucap Abraham kali ini.

__ADS_1


“Amin … aku juga memimpikan mertua yang baik, Bram. Jika Tuhan mengizinkan dan menghendaki, aku ingin memiliki suami yang baik dan perhatian, dan mertua yang tulus menyayangiku. Menantu perempuan yang dianggap dan diperlakukan layaknya anak sendiri,” ucap Marsha kali ini.


Apa yang dulu dia jalani saat masih menjadi istri Melvin, tak ingin terulang. Marsha ingin suami yang baik dan perhatian, dan figur mertua yang baik juga. Bukan muluk-muluk, tetapi itulah perasaan dan harapannya. Semoga saja, bersama Abraham semuanya itu akan terwujud. Amin!


__ADS_2